Ruangku kini luas, tapi aku merasa tak leluasa. Hatiku sepi, otakku beku. Berbagai kata kini hanya terbelenggu dalam imajiku saja, tak bergairah untuk meronta seperti dulu. Sudah lama tak ku kunjungi rumahku yang satu ini, karena memang aku tak tau harus membawa buah tangan apa jika ingin mampir ke sini. Rumahku ini bukan persinggahan saja, tak mau aku hanya sekadar mampir disini.
Aku sekarat. Kata-kata yang dulu bergemuruh, kini seakan mampet. Tak mau mengalir keluar seperti air. Aku tak bisa bernafas dengan kata-kataku sendiri. Aku tak merasakan nafas selain udara. Ada bagian rongga paru-paruku yang sesak tanpa udara lain yang kusebut kata itu. Aku kini hanya seperti manusia biasa. Manusia yang bisa bernafas, makan, tidur, dan bermimpi. Aku berada dalam dimensi nyaman diriku sendiri. Aku bungkam, tak mampu berteriak lantang. Hanya mengamati dan merasakan tanpa bisa menuliskan. Semua rasa seakan beku di otak dan di ulu hatiku. Rasa yang tak mampu menjadi cair mengalir menjadi kata-kata yang indah sekaligus lezat untuk makanan rumah ini. Bukan aku saja yang sekarat, rumah ini usang tanpa semua perasaan yang meluap menjadi kata-kata itu.
Rumah ini juga sekarat. Aku tak memberinya makan rutin seperti kurun waktu itu. Aku takut tempat ini menjadi ganas, mencari makanan di tempat lain. Rumahku bisa saja berubah menjadi monster karena tak ku beri rasa. Semua rasa yang bisa membuatnya sedikit jinak. Cukup makanannya saja yang penuh dengan rasa. Seakan ingin kututup saja rumah ini dengan kain putih. Aku bingung bagaimana cara berbagi lagi. Izinkan aku untuk menjadi bungkam sebentar saja, biarkan aku hanya memahami rasa yang setiap hari aku rasakan, tanpa harus aku bagikan.
Aku ingin tidur. Melepas semua piranti hati. Menyibak semua nyeri, mencucinya dengan tawa hingga luka dan perih itu akan dimulai dari awal lagi. Sejenak beristirahat dari semua perasaan yang mendera. Ingin menjadi tuna cinta, tuna rasa, dan tuna peka.
Aku ingin tuli. Tak mau aku dengar semua tawa, tangis, canda, dan segala suara baik yang bergermuruh, berbisik, berteriak, atau bahkan terisak. Beristirahat untuk tidak mendengar semua pernyataan, gombalan cinta, pengkhianatan, cibiran, penilaian orang lain.
Aku ingin buta. Aku tak mampu lagi melihat semua sekelilingku penuh dengan sandiwara bahagia, haru, sedih, marah, maupun terluka. Aku sudah muak melihat semuanya, tanpa aku bisa merasakannya. Aku hanya bisa menjadi penonton setianya.
Izinkan aku beristirahat sejenak dari semua hiruk pikuk itu. Menutup aku hanya untuk aku saja. Menghentikan waktu untuk tetap berada di masa ini. sehingga aku tak perlu menggunakan jatah waktuku untuk istirahat ini. Harapanku, ketika aku bangun dari tidur ini ada sesuatu yang bisa aku bagi, ada sesuatu yang bisa aku hirup selain udara. Entah apa itu.
Minggu, 08 Juni 2014
Senin, 14 April 2014
Ruang
Manusia terkadang lupa bahwa setiap orang memiliki ruang pribadi yang sangat sakral untuk dimasuki oleh siapapun, termasuk keluarganya. Ruang dimana orang tersebut bisa menjadi apapun yang sesuai dengan kehendak hatinya. Ruang yang memberikan segala tempat dunia dimana orang tersebut merasa nyaman dari dunia luar dan mahkluk lain. Ruang yang ketika orang tersebut berada di dalamnya tak boleh ada satupun yang mengganggunya. Ruang bagi siapapun pemiliknya mampu berbuat apapun, senyaman mungkin yang mereka inginkan. Ruang yang esa, hanya orang tersebut saja yang menjadi puannya.
Sebagai pasangan, kita seringkali juga egois. Tanpa sadar kita sering ingin memiliki ruang tersebut. Padahal kita sudah mampu memiliki hatinya, raganya, bahkan jalan hidupnya. Itu semua sangat kurang bila kadang kita berfikir bisa memiliki ruang tersebut. Tak sedikit pasangan yang sering mengakhiri hubungannya karena ruang satu ini. Dimana semuanya tidak bisa mengalahkan ego untuk saling memiliki. Berjuang untuk memiliki yang sebenarnya sangat tidak mungkin dan mustahil untuk dimiliki. Jalan peranglah sebagai salah satu jalan untuk mendapatkannya. Seperti perang yang sesungguhnya, perang ini pun seringkali tidak berbuah manis, apalagi tahta. Mungkin yang ada hanya petaka, bencana, dan tangis.
Ruang ini yang sekarang saya coba mengerti keberadaannya. Ruang yang sedang saya perjuangkan untuk saya mengerti isinya, saya cerna keadaannya. Sehingga saya bisa mengertinya, bukan hanya soal puannya saja. Mungkin bisa menjadi satu jalan untuk saya siap menjalankan apa yang namanya sebuah hubungan. Jalan yang membuat saya merasa lega bernafas, bergerak, menari bahkan menjadi raja dalam hubungan saya sendiri nantinya.
Sebagai pasangan, kita seringkali juga egois. Tanpa sadar kita sering ingin memiliki ruang tersebut. Padahal kita sudah mampu memiliki hatinya, raganya, bahkan jalan hidupnya. Itu semua sangat kurang bila kadang kita berfikir bisa memiliki ruang tersebut. Tak sedikit pasangan yang sering mengakhiri hubungannya karena ruang satu ini. Dimana semuanya tidak bisa mengalahkan ego untuk saling memiliki. Berjuang untuk memiliki yang sebenarnya sangat tidak mungkin dan mustahil untuk dimiliki. Jalan peranglah sebagai salah satu jalan untuk mendapatkannya. Seperti perang yang sesungguhnya, perang ini pun seringkali tidak berbuah manis, apalagi tahta. Mungkin yang ada hanya petaka, bencana, dan tangis.
Ruang ini yang sekarang saya coba mengerti keberadaannya. Ruang yang sedang saya perjuangkan untuk saya mengerti isinya, saya cerna keadaannya. Sehingga saya bisa mengertinya, bukan hanya soal puannya saja. Mungkin bisa menjadi satu jalan untuk saya siap menjalankan apa yang namanya sebuah hubungan. Jalan yang membuat saya merasa lega bernafas, bergerak, menari bahkan menjadi raja dalam hubungan saya sendiri nantinya.
Selasa, 25 Februari 2014
Seorang Anak
Malam ini seketika hujan. Deras sekali. Saat aku lihat seorang anak manusia dengan tangannya sendiri dan dengan pilihannya sendiri mengubur dalam-dalam mimpinya. Mimpi yang menurut hati kecilnya adalah sebuah mimpi yang sangat ingin ia wujudkan. Dihiasi dengan gemuruh raja-raja petir di awan yang menambah semarak meriah gemuruh dalam hati anak itu.
Miris aku melihatnya. Sementara anak-anak di sisi lain masih berkeringat sibuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ia malah asik sibuk dengan menguburnya dalam-dalam. Aku sangat tahu, dari wajah kecilnya ia bukan mengalah pada keadaan. Realita yang memaksanya untuk menelan pilihan pahit itu. Pilihan yang sekaligus menjadi pendewasaan sang anak. Ada kalanya semua tidak harus diperjuangkan, tetapi juga ada yang harus direlakan untuk pergi. Ada kala dimana kita harus mengubur dalam-dalam mimpi hanya untuk berhadapan dengan yang namanya realita. Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah ikhlas. Pelajaran berharga untuk lebih mengerti hidup. Hidup yang bukan hanya ada pesta, namun diramaikan pula oleh bencana.
Seseorang bijak pernah berkata pada anak itu. Jalanmu bukan pada mimpimu ini. Masih ada banyak jalan lain yang belum kau ketahui dan menunggu untuk kau sibak belukarnya. Hidup bukan hanya bagaimana meraih mimpi, namun juga bagaimana melepas mimpi. Deretan kalimat klise yang mengantarkan sang anak pada gerbang penguburan mimpi sang anak malam ini. Ditambah lagi dengan alam yang seakan tak mendukungnya untuk tetap mewujudkan mimpi itu. Alam yang memberinya isyarat untuk ia berhenti sekarang, walau tak dipungkiri bahwa alam juga ikut merintih lewat hujannya menyaksikan drama penguburan ini.
Engkau yang membaca tulisan ini jangan pernah mengikuti jejak anak itu, anak yang dengan jari-jari kecilnya harus rela mengubur dalam-dalam mimpinya melainkan bukan mewujudkannya. Biarkan cukup anak itu saja yang merasakannya sendiri. Entah meradang dalam penyesalan atau malah semakin lega untuk bermimpi yang lain. Hanya waktu yang tahu nanti. Tunggu saja karena waktu tak pernah berdusta.
***
Untuk saat ini, sang anak mengerti apa yang pernah dikatakan oleh seorang bijak sebelum penguburan mimpinya. Apa mimpi sang anak itu? Sebenarnya sederhana saja. Sesederhana senja yang menguningkan bumi pada sore hari. Ia hanya ingin menulis. Menulis dengan berbagai macam patron, nilai, aturan, belenggu dan segala ornamen dan senjata yang menghiasinya. Menulis dengan pertanggungjawaban jiwa dengan penghakiman di akhir kalamnya. Menulis memang mimpi kecil sang anak yang sekarang harus ia kubur dalam-dalam. Mungkin memang bukan di kertas berjeruji itu ia menulis. Sang anak mengerti. Ia masih bisa menulis di sini, di laman elektronik yang tak punya penguasa ilmu. Ia bisa menulis semua yang ingin ia tulis, ia teriakkan, ia caci maki, dan ia hujat. Di sini tak ada penguasa ilmu yang bisa mengikatnya dan mencambuknya seperti pencari kata yang lain. Kata apapun bisa bermakna di sini. Menyerah saja pada alam yang memberinya makan, biar alam yang menghakiminya, bukan penguasa ilmu itu. Biarkan kata-kata ini pula yang menyeruak dan merobek siapa sebenarnya sang anak itu. Membongkar hingga sampai ulu hati, sampai pada perasaan sang anak. Menemukan bahwa sang anak yang aku amati dan aku lihat hingga hari ini adalah seorang yang amat ku kenal. Aku.
Miris aku melihatnya. Sementara anak-anak di sisi lain masih berkeringat sibuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ia malah asik sibuk dengan menguburnya dalam-dalam. Aku sangat tahu, dari wajah kecilnya ia bukan mengalah pada keadaan. Realita yang memaksanya untuk menelan pilihan pahit itu. Pilihan yang sekaligus menjadi pendewasaan sang anak. Ada kalanya semua tidak harus diperjuangkan, tetapi juga ada yang harus direlakan untuk pergi. Ada kala dimana kita harus mengubur dalam-dalam mimpi hanya untuk berhadapan dengan yang namanya realita. Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah ikhlas. Pelajaran berharga untuk lebih mengerti hidup. Hidup yang bukan hanya ada pesta, namun diramaikan pula oleh bencana.
Seseorang bijak pernah berkata pada anak itu. Jalanmu bukan pada mimpimu ini. Masih ada banyak jalan lain yang belum kau ketahui dan menunggu untuk kau sibak belukarnya. Hidup bukan hanya bagaimana meraih mimpi, namun juga bagaimana melepas mimpi. Deretan kalimat klise yang mengantarkan sang anak pada gerbang penguburan mimpi sang anak malam ini. Ditambah lagi dengan alam yang seakan tak mendukungnya untuk tetap mewujudkan mimpi itu. Alam yang memberinya isyarat untuk ia berhenti sekarang, walau tak dipungkiri bahwa alam juga ikut merintih lewat hujannya menyaksikan drama penguburan ini.
Engkau yang membaca tulisan ini jangan pernah mengikuti jejak anak itu, anak yang dengan jari-jari kecilnya harus rela mengubur dalam-dalam mimpinya melainkan bukan mewujudkannya. Biarkan cukup anak itu saja yang merasakannya sendiri. Entah meradang dalam penyesalan atau malah semakin lega untuk bermimpi yang lain. Hanya waktu yang tahu nanti. Tunggu saja karena waktu tak pernah berdusta.
***
Untuk saat ini, sang anak mengerti apa yang pernah dikatakan oleh seorang bijak sebelum penguburan mimpinya. Apa mimpi sang anak itu? Sebenarnya sederhana saja. Sesederhana senja yang menguningkan bumi pada sore hari. Ia hanya ingin menulis. Menulis dengan berbagai macam patron, nilai, aturan, belenggu dan segala ornamen dan senjata yang menghiasinya. Menulis dengan pertanggungjawaban jiwa dengan penghakiman di akhir kalamnya. Menulis memang mimpi kecil sang anak yang sekarang harus ia kubur dalam-dalam. Mungkin memang bukan di kertas berjeruji itu ia menulis. Sang anak mengerti. Ia masih bisa menulis di sini, di laman elektronik yang tak punya penguasa ilmu. Ia bisa menulis semua yang ingin ia tulis, ia teriakkan, ia caci maki, dan ia hujat. Di sini tak ada penguasa ilmu yang bisa mengikatnya dan mencambuknya seperti pencari kata yang lain. Kata apapun bisa bermakna di sini. Menyerah saja pada alam yang memberinya makan, biar alam yang menghakiminya, bukan penguasa ilmu itu. Biarkan kata-kata ini pula yang menyeruak dan merobek siapa sebenarnya sang anak itu. Membongkar hingga sampai ulu hati, sampai pada perasaan sang anak. Menemukan bahwa sang anak yang aku amati dan aku lihat hingga hari ini adalah seorang yang amat ku kenal. Aku.
Rabu, 12 Februari 2014
Mencari Tanda Tanya
Aku sepi. Sudah berulang kali aku berteriak sepi. Walau ku akui keadaanku sekarang sudah menjadi lebih ringan dengan tidak mengidam-idamkan para penguasa hati. Namun sesuatu mengusikku. Seperti bisikan dan kecamuk yang bergemuruh. Aku memang cinta sepi, tapi barangkali bukan seperti ini. Sepi yang membuatku lega yang aku cinta. Bukan sepi yang mencekam dan seakan membuat diri ini ingin meronta demi mengisi kekosongan itu.
Aku lelah. Aku sudah lelah mencari jawaban akan tanda tanyaku. Tanda tanya yang beranak tanya. Tanya yang tak berhenti pada satu jawaban. Satu jawaban yang malah membawaku pada satu tanda tanya lain, dan tanda tanya lainnya. Tak kutemukan jawaban final untuk tanda tanya itu.
Aku mencari. Mencari cinta di setiap ruang, tempat, segala seluk beluk dan penjuru kota ini. Tak kutemui ia dimanapun, aku hanya menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu namun semu. Bisa aku rasakan, aku cumbu, bahkan aku getarkan sampai seluruh penjuru kamar penjara ini tetapi tak bisa aku peluk, apalagi aku miliki. Bukan ini yang aku cari dan ingin aku temukan jawabannya. Meski aku harus mengakui akupun menikmati kebahagiaan semu ini. Apakah ini yang harus aku nikmati sampai jenuh itu datang? Sampai jenuh itu yang kemudian memaksaku untuk kembali mencari jawaban atas tanda tanya yang beranak tanya.
Aku ingin bukan cinta yang berukiran rumit. Bukan cinta yang beratapkan langit. Aku ingin cinta seperti parit. Sempit namun pasti menuju muara. Laut adalah tujuannya. Masih adakah cinta seperti itu saat ini? Mari dekatkan pada wajahku, biar aku bakar dengan segala gejolak cinta ini. Sebelum terlambat dan jika masih ada.
Aku lelah. Aku sudah lelah mencari jawaban akan tanda tanyaku. Tanda tanya yang beranak tanya. Tanya yang tak berhenti pada satu jawaban. Satu jawaban yang malah membawaku pada satu tanda tanya lain, dan tanda tanya lainnya. Tak kutemukan jawaban final untuk tanda tanya itu.
Aku mencari. Mencari cinta di setiap ruang, tempat, segala seluk beluk dan penjuru kota ini. Tak kutemui ia dimanapun, aku hanya menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu namun semu. Bisa aku rasakan, aku cumbu, bahkan aku getarkan sampai seluruh penjuru kamar penjara ini tetapi tak bisa aku peluk, apalagi aku miliki. Bukan ini yang aku cari dan ingin aku temukan jawabannya. Meski aku harus mengakui akupun menikmati kebahagiaan semu ini. Apakah ini yang harus aku nikmati sampai jenuh itu datang? Sampai jenuh itu yang kemudian memaksaku untuk kembali mencari jawaban atas tanda tanya yang beranak tanya.
Aku ingin bukan cinta yang berukiran rumit. Bukan cinta yang beratapkan langit. Aku ingin cinta seperti parit. Sempit namun pasti menuju muara. Laut adalah tujuannya. Masih adakah cinta seperti itu saat ini? Mari dekatkan pada wajahku, biar aku bakar dengan segala gejolak cinta ini. Sebelum terlambat dan jika masih ada.
Rabu, 22 Januari 2014
Kawan
Hai kawan, sepertinya rundungan awan kelabu tak menyurutkan sedikit pun senyum di bibirmu. Hujan rintik yang syahdu pun tak mampu meluluhkan semarak di hatimu. Bahkan jingga itu tetap menyala meski kenyataan memaksanya untuk menjadi padam. Masih aku ingat tawa renyahmu ketika kau menyambutku di daun pintu rumahmu.
Kau memang memberikan pelajaran tentang seorang anak pada orang tua, terutama ayah. Kau balas air tuba dulu itu dengan air susu. Kasih sayang yang tak terhingga untuk ayah tercintamu membelalakkan mata bahwa pada zaman ini malaikat dengan sayap dan tangan suci mungilnya itu masih ada. Kau hadirkan selalu tawa canda untuknya. Menemani setia pada setiap pintanya.
Kawan, kau bukan hanya pelita untuknya. Kau juga menjadi nafas yang ia hirup kini. Bahkan kau juga kakinya. Menjadi yang kuat untuk menopang semua bebannya. Kau ini perempuan, tapi hatimu sekuat baja. Aku saja yang laki-laki tak mampu untuk itu. Aku selalu mengagumi senyum yang kau tarik pada setiap ujung bibirmu yang membuat orang di luar tak menyadari lukamu. Ayahmu harus bangga punya anak sepertimu.
Kawan, teruslah tersenyum. Jadilah yang terkuat untuk ayahmu. Hanya kobaran semangat yang ada dalam ragamu yang mampu membuatnya bertahan, atau bahkan membuatnya lebih baik dari sekarang. Aku yakin itu. Cintamu untuknya yang seakan menguatkan sendi, urat, otot, dan nadi dan berusaha tetap berkerja untuk hidup. Jika kau lelah nanti, ada kami disini teman-temanmu yang akan menjadi kuat untukmu.
Untuk Novia Rakha.
Kau memang memberikan pelajaran tentang seorang anak pada orang tua, terutama ayah. Kau balas air tuba dulu itu dengan air susu. Kasih sayang yang tak terhingga untuk ayah tercintamu membelalakkan mata bahwa pada zaman ini malaikat dengan sayap dan tangan suci mungilnya itu masih ada. Kau hadirkan selalu tawa canda untuknya. Menemani setia pada setiap pintanya.
Kawan, kau bukan hanya pelita untuknya. Kau juga menjadi nafas yang ia hirup kini. Bahkan kau juga kakinya. Menjadi yang kuat untuk menopang semua bebannya. Kau ini perempuan, tapi hatimu sekuat baja. Aku saja yang laki-laki tak mampu untuk itu. Aku selalu mengagumi senyum yang kau tarik pada setiap ujung bibirmu yang membuat orang di luar tak menyadari lukamu. Ayahmu harus bangga punya anak sepertimu.
Kawan, teruslah tersenyum. Jadilah yang terkuat untuk ayahmu. Hanya kobaran semangat yang ada dalam ragamu yang mampu membuatnya bertahan, atau bahkan membuatnya lebih baik dari sekarang. Aku yakin itu. Cintamu untuknya yang seakan menguatkan sendi, urat, otot, dan nadi dan berusaha tetap berkerja untuk hidup. Jika kau lelah nanti, ada kami disini teman-temanmu yang akan menjadi kuat untukmu.
Untuk Novia Rakha.
Selamat Tahun Baru 2014
Hai, semua penghuni laman elektronikku tercinta. Maaf aku lupa mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014. Aku terlalu sibuk dengan kehidupan nyataku. Sedikit luput dari ingatanku bahwa aku punya nyawa lain di tempat ini yang lupa aku beri makan. Kalian pasti merindukan tulisanku kan? Tenang santapan nikmat berbanjiran kata-kata akan masih tetap jadi makanan setia kalian. Aku masih akan tetap menulis. Menulis juga menjadi nafasku untuk meneruskan hidup. Mengutarakan apa yang tak bisa ku lisankan di dunia nyata. Tertawa, menangis, bahagia yang tak bisa kubagikan pada alam sekitarku. Dan di tempat inilah, bersama kalian menjadi jawaban tempat akan semua keluh kesah itu.
Satu lagi, doakan aku ya. Aku ingin menulis lebih banyak. Tangan yang berkejaran diatas keyboard laptop lebih lama, otak yang berfikir lebih keras, mata yang membaca lebih banyak. Aku ingin mengerjakan skripsi untuk tugas akhir kuliahku. Doakan selesai tengah tahun ini ya.
Selamat Tahun Baru 2014 untuk Neptunus, Kesatria, Putri Menara, Adamku, dan semua nama yang pernah menghuni laman ini yang tak cukup bila aku sebutkan satu-persatu.
Selamat Tahun Baru 2014 juga untuk semua teman dunia nyataku, IKSEDA, NLX yang juga sempat menghuni laman ini
Satu lagi, doakan aku ya. Aku ingin menulis lebih banyak. Tangan yang berkejaran diatas keyboard laptop lebih lama, otak yang berfikir lebih keras, mata yang membaca lebih banyak. Aku ingin mengerjakan skripsi untuk tugas akhir kuliahku. Doakan selesai tengah tahun ini ya.
Selamat Tahun Baru 2014 untuk Neptunus, Kesatria, Putri Menara, Adamku, dan semua nama yang pernah menghuni laman ini yang tak cukup bila aku sebutkan satu-persatu.
Selamat Tahun Baru 2014 juga untuk semua teman dunia nyataku, IKSEDA, NLX yang juga sempat menghuni laman ini
Senin, 02 Desember 2013
JENDELA-JENDELA BUDAYA DALAM VARKENSROZE ANSICHTEN
Oleh: Setiyo Prutanto (dengan beberapa penggubahan)
Varkensroze Ansichten (2003) adalah buku kumpulan puisi karya Mustafa Stitou. Tidak hanya Varkensroze Ansichten, Mustafa Stitou telah menerbitkan beberapa karya sebelumnya, yaitu Mijn Gedichten (1998) dan Mijn Vormen (1994). Buku yang diterbitkan oleh De Bezige Bij di Amsterdam ini berhasil menjadikan Mustafa Stitou menjadi salah satu penulis yang berpengaruh di Belanda. Selain itu, Varkenroze Ansichten juga mendapat penghargaan VSB Poezieprijs pada tahun 2004. Penghargaan ini merupakan penghargaan utama di bidang sastra di Belanda. Varkensroze Ansichten terdiri dari empat sajak yang mengangkat tema humor dan ironi. Disamping tema tersebut, di dalamnya juga terdapat penggambaran budaya dari mata seorang imigran. Seperti yang kita ketahui bahwa Mustafa Stitou adalah seorang penulis imigran yang berasal dari Maroko. Penggambaran budaya tersebut tergambar apik dalam beberapa puisi yang dihadirkan dalam buku ini.
Secara umum puisi yang terdapat dalam buku ini menggunakan aku lirik dimana semua pandangan hanya terbatas pada satu sudut pandang imigran saja. Sudut pandang ini menjadikan pembaca seperti menggunakan kacamata kuda yang hanya dapat melihat ke depan tanpa bisa melihat sudut pandang lain. Pilihan kata yang dipilih untuk membentuk buku ini sulit dan tidak terlihat bahwa penulisnya adalah orang imigran sehingga terkesan bahwa penulis buku ini adalah orang Belanda asli. Sampul dari buku ini merupakan gambar kulit babi yang dihiasi dengan bulu halus di atasnya dan menjadikan buku ini sebuah kontroversi. Stitou yang seorang muslim berani mengangkat babi untuk sampul bukunya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa babi adalah hewan yang haram bagi umat muslim. Pengambilan gambar kulit babi itu berkaitan langsung dengan judul buku Varkensroze Ansichten yang berarti kartu pos bergambar babi merah muda. Stitou juga sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah menggunakan aturan rima dalam puisinya. Bentuk puisinya terkadang juga ada yang berbentuk prosa. Dari bentuk tersebut terlihat bahwa Stitou ingin membuat gebrakan baru dengan tidak menggunakan rima dan aturan-aturan pakem dalam berpuisi. Stitou ingin keluar dari aturan-aturan yang mengharuskan puisi itu memiliki rima.
Budaya Mencatat dalam Puisi Ansichten
Puisi Ansichten adalah kumpulan memo dari tetangga wanita Mustafa untuk menjaga rumahnya ketika Mustafa sedang berlibur, terlihat dalam bagian tujuh: ‘Groeten, je bovenbuurvrouw.’ Setiap bagian dalam puisi ini terdiri dari tiga baris dan bervariasi pada jumlah baitnya. Ketujuh bagian puisi ini tidak berkaitan secara langsung karena pada setiap bagiannya mewakili kejadian apa saja yang terjadi di rumah tersebut. Ketujuh bagian sajak ini dapat diinterpretasikan sebagai tujuh hari lamanya Mustafa berlibur. Puisi ini tidak menggunakan majas dan gaya bahasa apapun sehingga semua kalimatnya memiliki makna denotatif (makna sebenarnya). Barisan kata-kata dalam puisi ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat nyata dan aktualitas. Kata-kata aktualitas tersebut menjadikan puisi ini kehilangan keindahan yang bisa saja terbentuk dari kata-kata berkiasan indah dalam sebuah puisi.
Budaya mencatat yang sangat akrab dengan kehidupan keseharian Belanda yang dapat dilihat dalam puisi ini adalah kebiasaan mencatat apa yang terjadi dalam kehidupan kesehariannya. Sama seperti pentingnya agenda untuk kehidupan orang Belanda, memo menjadi salah satu aksesoris kehidupan Belanda untuk menyampaikan pesan kepada seseorang seperti pada bagian empat dimana tetangga wanita Mustafa menuliskan pesan untuk Mustafa. Pesan tersebut berisi menanyakan kesediaan Mustafa untuk diwawancarai oleh salah satu program televisi perihal kehidupannya sebagai seorang penyair. Mereka mengharapkan kabar jika Mustafa sudah kembali. Penggambaran ini sama seperti halnya zaman kolonial ketika Belanda masih menguasai tanah Nusantara. Seperti yang kita ketahui, sumber-sumber sejarah masa kolonial tersebut merupakan hasil tangan catatan orang Belanda. Ansichten berhasil membuka mata pembaca untuk mengenal budaya mencatat yang sangat dekat dengan kehidupan Belanda.
Stitou mengambil judul Ansichten yang bermakna ‘kartu pos’ dan membangun bentuk memo dalam puisinya bukan tanpa alasan. Kartu pos dan memo menjadi simbol untuk menyampaikan sesuatu. Stitou secara tersirat ingin menyampaikan sesuatu dengan menggunakan bentuk memo dalam Anscihten.
Keagungan Barat dalam Puisi Flirt
Puisi Flirt bercerita mengenai ketegangan aku lirik dengan penjahit dimana ia memperbaiki kostum teaternya yang tidak sengaja dirusak oleh tangannya sendiri. Ketegangan tersebut terjadi karena aku lirik tertarik dan mencoba menggoda anak pemilik penjahit tersebut. Lagi-lagi tidak akan ditemukan bentuk puisi yang di dalamnya terdapat rima yang ditanggalkan di setiap akhir barisnya. Puisi ini berbentuk prosa dan terlihat seperti cerita yang biasa ditemukan dalam cerita pendek. Bentuk yang jarang ini menjadikan puisi ini terlihat sangat berbeda dan tidak menarik pembaca bila melihat bentuknya untuk pertama kalinya. Tokoh aku lirik dalam puisi ini sama seperti tokoh Ikal dalam buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tokoh Ikal tertarik pada gadis keturunan Cina dan mencoba mencuri pandang dengan gadis tersebut yang merupakan anak dari seorang pemilik toko tempat dimana ia rutin membeli kapur. Hal itu yang menjadikan alasan mengapa Ikal selalu semangat jika diperintahkan oleh gurunya untuk membeli kapur di toko tersebut.
Ketika aku lirik mengalami ketegangan dengan penjahit, aku lirik sangat merasa panik dan merasa dirinya kecil sedangkan penjahit tersebut terlihat seperti berhala yang harus ditakuti, terlihat dalam kalimat: ‘Als een afgod. Wonderlijke afgod. Ik zag dat hij mij opnam. Met een mengeling van minachtig en teleurstelling woog hij mij. Paniek ja! Geleidelijk raakte ik paniek.’ Menurut kacamata orang imigran, mereka menganggap bahwa orang Barat lebih besar dan lebih tinggi derajatnya dan harus ditakuti layaknya sebuah berhala. Kata ‘afgod’ yang bermakna berhala merupakan penggambaran yang sangat jelas bahwa imigran menilai orang Barat memang lebih tinggi derajatnya dari diri mereka sendiri.
Bentrokan Budaya dalam Puisi Ansicht Uit De Droom &Vreesman
Puisi Ansicht Uit De Droom & Vreesman terdiri dari tiga bait. Setiap baitnya diisi dengan sembilan baris. Seperti yang ditemukan pada puisi sebelumnya, puisi ini juga tidak terdapat rima disetiap akhir kata pada setiap barisnya, selain itu juga terdapat banyak sekali enjabemen.
Onder aan de stilstaande roltrap een Frans buldogje,
besnuffelt mijn rechtervoet en begint te gniffelen,
schampert mijn naam. Straks pist het nog tegen mij aan!
Voorzichtig schop ik het hondje opzij. Is dit dogje
niet heimelijk mijn Pa? Schiet mij te binnen,
alles immers komt ergens vandaan, en wat een triomf
zou dit zijn! Met kloppend hart raap ik het symbool op,
schichtig kijkt mij aan, geen spoor van gelijkenis.
Kleuterpop knalt door de geglazuurde ruimte.
Dari contoh bait di atas, terlihat walaupun enjabemen digunakan namun tidak terlihat adanya bentuk rima pada setiap akhir barisnya. Enjabemen ini menjadikan puisi ini berbeda dari pakem puisi yang sudah ada.
Keseluruhan isi puisi ini secara umum menggambarkan mengenai perbedaan budaya Timur dengan budaya Barat dengan perbedaannya yang bagaikan langit dan bumi. Di satu sisi, budaya Timur yang malu-malu dan menghindari soal seks sedangkan budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks. Mustafa memilih kata preutse oosten untuk budaya Timur dan wellustige westen untuk budaya Barat. Preutse oosten dan wellustige westen, dua kata yang mampu memberikan dua kubu berbeda yang hidup di dalam bumi ini.
Varkensroze Ansichten karya Mustafa Stitou tidak hanya memberikan kontroversi pada sampulnya yang bergambar kulit babi saja, di dalam buku ini juga dihadirkan penggambaran budaya dari sudut pandang imigran. Sebuah jendela yang mampu membuat pembaca bisa melihat budaya dengan cara yang unik dengan membaca puisi. Budaya mencatat yang melekat dengan kehidupan Belanda yang terangkum apik dalam kumpulan memo dalam puisi Ansichten, hierarki orang Barat yang lebih tinggi dibanding orang Timur yang pantas ditakuti dalam puisi Flirt, dan budaya Timur yang malu-malu dan menghindar soal seks maupun budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks dalam Ansicht Uit De Droom & Vreesman. Mustafa Stitou berhasil menghadirkan mozaik-mozaik kebudayaan dan dirangkum apik dalam puisi-puisi Varkensroze Ansichten.
Varkensroze Ansichten (2003) adalah buku kumpulan puisi karya Mustafa Stitou. Tidak hanya Varkensroze Ansichten, Mustafa Stitou telah menerbitkan beberapa karya sebelumnya, yaitu Mijn Gedichten (1998) dan Mijn Vormen (1994). Buku yang diterbitkan oleh De Bezige Bij di Amsterdam ini berhasil menjadikan Mustafa Stitou menjadi salah satu penulis yang berpengaruh di Belanda. Selain itu, Varkenroze Ansichten juga mendapat penghargaan VSB Poezieprijs pada tahun 2004. Penghargaan ini merupakan penghargaan utama di bidang sastra di Belanda. Varkensroze Ansichten terdiri dari empat sajak yang mengangkat tema humor dan ironi. Disamping tema tersebut, di dalamnya juga terdapat penggambaran budaya dari mata seorang imigran. Seperti yang kita ketahui bahwa Mustafa Stitou adalah seorang penulis imigran yang berasal dari Maroko. Penggambaran budaya tersebut tergambar apik dalam beberapa puisi yang dihadirkan dalam buku ini.
Secara umum puisi yang terdapat dalam buku ini menggunakan aku lirik dimana semua pandangan hanya terbatas pada satu sudut pandang imigran saja. Sudut pandang ini menjadikan pembaca seperti menggunakan kacamata kuda yang hanya dapat melihat ke depan tanpa bisa melihat sudut pandang lain. Pilihan kata yang dipilih untuk membentuk buku ini sulit dan tidak terlihat bahwa penulisnya adalah orang imigran sehingga terkesan bahwa penulis buku ini adalah orang Belanda asli. Sampul dari buku ini merupakan gambar kulit babi yang dihiasi dengan bulu halus di atasnya dan menjadikan buku ini sebuah kontroversi. Stitou yang seorang muslim berani mengangkat babi untuk sampul bukunya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa babi adalah hewan yang haram bagi umat muslim. Pengambilan gambar kulit babi itu berkaitan langsung dengan judul buku Varkensroze Ansichten yang berarti kartu pos bergambar babi merah muda. Stitou juga sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah menggunakan aturan rima dalam puisinya. Bentuk puisinya terkadang juga ada yang berbentuk prosa. Dari bentuk tersebut terlihat bahwa Stitou ingin membuat gebrakan baru dengan tidak menggunakan rima dan aturan-aturan pakem dalam berpuisi. Stitou ingin keluar dari aturan-aturan yang mengharuskan puisi itu memiliki rima.
Budaya Mencatat dalam Puisi Ansichten
Puisi Ansichten adalah kumpulan memo dari tetangga wanita Mustafa untuk menjaga rumahnya ketika Mustafa sedang berlibur, terlihat dalam bagian tujuh: ‘Groeten, je bovenbuurvrouw.’ Setiap bagian dalam puisi ini terdiri dari tiga baris dan bervariasi pada jumlah baitnya. Ketujuh bagian puisi ini tidak berkaitan secara langsung karena pada setiap bagiannya mewakili kejadian apa saja yang terjadi di rumah tersebut. Ketujuh bagian sajak ini dapat diinterpretasikan sebagai tujuh hari lamanya Mustafa berlibur. Puisi ini tidak menggunakan majas dan gaya bahasa apapun sehingga semua kalimatnya memiliki makna denotatif (makna sebenarnya). Barisan kata-kata dalam puisi ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat nyata dan aktualitas. Kata-kata aktualitas tersebut menjadikan puisi ini kehilangan keindahan yang bisa saja terbentuk dari kata-kata berkiasan indah dalam sebuah puisi.
Budaya mencatat yang sangat akrab dengan kehidupan keseharian Belanda yang dapat dilihat dalam puisi ini adalah kebiasaan mencatat apa yang terjadi dalam kehidupan kesehariannya. Sama seperti pentingnya agenda untuk kehidupan orang Belanda, memo menjadi salah satu aksesoris kehidupan Belanda untuk menyampaikan pesan kepada seseorang seperti pada bagian empat dimana tetangga wanita Mustafa menuliskan pesan untuk Mustafa. Pesan tersebut berisi menanyakan kesediaan Mustafa untuk diwawancarai oleh salah satu program televisi perihal kehidupannya sebagai seorang penyair. Mereka mengharapkan kabar jika Mustafa sudah kembali. Penggambaran ini sama seperti halnya zaman kolonial ketika Belanda masih menguasai tanah Nusantara. Seperti yang kita ketahui, sumber-sumber sejarah masa kolonial tersebut merupakan hasil tangan catatan orang Belanda. Ansichten berhasil membuka mata pembaca untuk mengenal budaya mencatat yang sangat dekat dengan kehidupan Belanda.
Stitou mengambil judul Ansichten yang bermakna ‘kartu pos’ dan membangun bentuk memo dalam puisinya bukan tanpa alasan. Kartu pos dan memo menjadi simbol untuk menyampaikan sesuatu. Stitou secara tersirat ingin menyampaikan sesuatu dengan menggunakan bentuk memo dalam Anscihten.
Keagungan Barat dalam Puisi Flirt
Puisi Flirt bercerita mengenai ketegangan aku lirik dengan penjahit dimana ia memperbaiki kostum teaternya yang tidak sengaja dirusak oleh tangannya sendiri. Ketegangan tersebut terjadi karena aku lirik tertarik dan mencoba menggoda anak pemilik penjahit tersebut. Lagi-lagi tidak akan ditemukan bentuk puisi yang di dalamnya terdapat rima yang ditanggalkan di setiap akhir barisnya. Puisi ini berbentuk prosa dan terlihat seperti cerita yang biasa ditemukan dalam cerita pendek. Bentuk yang jarang ini menjadikan puisi ini terlihat sangat berbeda dan tidak menarik pembaca bila melihat bentuknya untuk pertama kalinya. Tokoh aku lirik dalam puisi ini sama seperti tokoh Ikal dalam buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tokoh Ikal tertarik pada gadis keturunan Cina dan mencoba mencuri pandang dengan gadis tersebut yang merupakan anak dari seorang pemilik toko tempat dimana ia rutin membeli kapur. Hal itu yang menjadikan alasan mengapa Ikal selalu semangat jika diperintahkan oleh gurunya untuk membeli kapur di toko tersebut.
Ketika aku lirik mengalami ketegangan dengan penjahit, aku lirik sangat merasa panik dan merasa dirinya kecil sedangkan penjahit tersebut terlihat seperti berhala yang harus ditakuti, terlihat dalam kalimat: ‘Als een afgod. Wonderlijke afgod. Ik zag dat hij mij opnam. Met een mengeling van minachtig en teleurstelling woog hij mij. Paniek ja! Geleidelijk raakte ik paniek.’ Menurut kacamata orang imigran, mereka menganggap bahwa orang Barat lebih besar dan lebih tinggi derajatnya dan harus ditakuti layaknya sebuah berhala. Kata ‘afgod’ yang bermakna berhala merupakan penggambaran yang sangat jelas bahwa imigran menilai orang Barat memang lebih tinggi derajatnya dari diri mereka sendiri.
Bentrokan Budaya dalam Puisi Ansicht Uit De Droom &Vreesman
Puisi Ansicht Uit De Droom & Vreesman terdiri dari tiga bait. Setiap baitnya diisi dengan sembilan baris. Seperti yang ditemukan pada puisi sebelumnya, puisi ini juga tidak terdapat rima disetiap akhir kata pada setiap barisnya, selain itu juga terdapat banyak sekali enjabemen.
Onder aan de stilstaande roltrap een Frans buldogje,
besnuffelt mijn rechtervoet en begint te gniffelen,
schampert mijn naam. Straks pist het nog tegen mij aan!
Voorzichtig schop ik het hondje opzij. Is dit dogje
niet heimelijk mijn Pa? Schiet mij te binnen,
alles immers komt ergens vandaan, en wat een triomf
zou dit zijn! Met kloppend hart raap ik het symbool op,
schichtig kijkt mij aan, geen spoor van gelijkenis.
Kleuterpop knalt door de geglazuurde ruimte.
Dari contoh bait di atas, terlihat walaupun enjabemen digunakan namun tidak terlihat adanya bentuk rima pada setiap akhir barisnya. Enjabemen ini menjadikan puisi ini berbeda dari pakem puisi yang sudah ada.
Keseluruhan isi puisi ini secara umum menggambarkan mengenai perbedaan budaya Timur dengan budaya Barat dengan perbedaannya yang bagaikan langit dan bumi. Di satu sisi, budaya Timur yang malu-malu dan menghindari soal seks sedangkan budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks. Mustafa memilih kata preutse oosten untuk budaya Timur dan wellustige westen untuk budaya Barat. Preutse oosten dan wellustige westen, dua kata yang mampu memberikan dua kubu berbeda yang hidup di dalam bumi ini.
Varkensroze Ansichten karya Mustafa Stitou tidak hanya memberikan kontroversi pada sampulnya yang bergambar kulit babi saja, di dalam buku ini juga dihadirkan penggambaran budaya dari sudut pandang imigran. Sebuah jendela yang mampu membuat pembaca bisa melihat budaya dengan cara yang unik dengan membaca puisi. Budaya mencatat yang melekat dengan kehidupan Belanda yang terangkum apik dalam kumpulan memo dalam puisi Ansichten, hierarki orang Barat yang lebih tinggi dibanding orang Timur yang pantas ditakuti dalam puisi Flirt, dan budaya Timur yang malu-malu dan menghindar soal seks maupun budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks dalam Ansicht Uit De Droom & Vreesman. Mustafa Stitou berhasil menghadirkan mozaik-mozaik kebudayaan dan dirangkum apik dalam puisi-puisi Varkensroze Ansichten.
Langganan:
Postingan (Atom)

