Kamis, 23 Mei 2013

Kenangan

"Aku menyimpan beberapa rahasia besar dan hanya pada malam yang sepi dan panjang aku bisa membebaskan mereka."

"Banyak lembar ingatan yang tak berani aku sentuh, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan diriku untuk meredamnya."

"Membuka kenangan lama yang terhampar di belakang memberikan makna baru dalam hidup. Memberikan apresiasi baru terhadap keberhasilan ataupun kegagalan saat ini. Kita selalu bisa kembali ke masa lalu. Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di ruang yang tepat di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat di sana. Biarlah kita kunjungi suatu saat." 

(taken from Iwan Setiawan. 9 Summers, 10 Autumns)

Senin, 29 April 2013

Kota ini

Aku cinta kota ini. Semua ornamennya membuatku syahdu dalam sengat matahari yang tak pernah ragu membakar kotaku. Bau angus kendaraan umumnya sangat akrab menusuk hidung bagai parfum kelas dunia barat yang memesona. Keringat yang selalu bercucuran menjadi hiasan dan alasan hakiki mengapa kotaku disebut kota metropolitan, kota yang tak pernah tidur. Tak lupa juga dendangan melodi penyanyi jalanan yang merdu membuat semakin syahdu kotaku. Siapapun yang mendengar petikan gitarnya atau pukulan gendangnya terasa terbuai untuk mengelana ditengah teriknya kotaku. Memberi warna tersendiri selain alunan lagu dari pemutar musik elektronik bernilai jutaan itu. Suara alam ini lebih indah dari teknologi apapun itu. Namun tak jarang juga pria-pria bebas yang kadang meresahkan hatiku dan seluruh aku yang tinggal di kotaku. Menjadikan ritme tersendiri dalam mengarungi kotaku. Memberikan rasa menggelitik tersendiri.

Kotaku tak pernah merasa sepi. Tiap detiknya sejak matahari masih mengintip malu di ufuk timur dan tenggelam enggan di ufuk barat, aku dan aku lainnya selalu menyambangi kotaku bahkan sampai titik penghujungnya.

Kotaku tak pernah berhenti. Selalu bermimpi bersama raja-raja penguasa yang selalu berjanji untuk membuatnya menjadi lebih baik.

Kotaku. Teruslah berjalan. Sama sepertiku, masih terus berjalan hingga kini untuk menemukan yang satu. Walau lelah tapi yakin. (Suatu sabtu siang terik, di atas kopaja sepanjang jalan Antasari menuju Depok)

Rectoverso

Kadang aku ingin menjadi CICAK DI DINDING. Melindungi manusia dari gigitan nyamuk. Dengan tulus selalu terjaga walau manusia sering mengabaikannya. Sama sepertiku, tetap di sini mencintaimu. Walau aku tak pernah kau perhitungkan dalam fikiranmu. Namun, aku tetap di sini, berada ditempatku. Di dinding. Tidak kemana-mana.

Walaupun cintamu juga HANYA ISYARAT. Isyarat yang memberi tanda untukku tetap berada di sini. Isyarat yang sudah membuatku merekah tiap kau panggil namaku. Ketika kau ucapkan kata-kata indah dalam setiap hariku. Tanpa harus kau aku miliki.

Kadang kau juga suka melakukan CURHAT BUAT SAHABAT denganku. Cukup membuatku bahagia jika kau mau membagi separuh pengalaman harimu denganku.

FIRASAT lagi-lagi menahan aku untuk tetap di sini. Mencintaimu. Entah tak pernah ku tahu alasannya. Menunggu rupawanku sadar bahwa cintanya telah hidup di sini. Sudah bercampur dengan darah dan asaku.

Hingga nanti akhirnya MALAIKAT JUGA TAHU siapa yang paling esa mencintaimu. Cintaku layak diuji dan aku yakin aku yang akan jadi juaranya. Tanpa pamrih. Tanpa alasan. Tanpa perkara. Dan yang lebih penting tanpa pilihan.
(inspired by Rectoverso)

Rindu Candu

Tanyakan pada randu
mengapa hati ini merindu
Tanyakan pada bintang
mengapa rindu ini meradang

Rindu ini menyiksa hati
Siksanya terasa ingin mati
Entah apa yang selalu ku nanti
Tak pernah ku temukan yang pasti

Bebaskan aku pada satu purnama
pada satu cinta yang bernama.

Senin, 01 April 2013

Leuke Dromen

Als ik afgestudeerd ben, zal ik meteen een baan zoeken. Ik wil op een kantoor werken. Ik hou van schrijven. Dus wil ik als schrijver op een uitgeverij werken. Ik wil mijn ouders trots op mij zijn. Ik wil graag op mijn 30ste trouwen en ik woon in een groot huis met mijn vrouw. Ik wil drie kinderen hebben.

 Als ik op mijn 60ste gepensioneerd ben, wil ik naar alle landen in de wereld gaan. Dan geniet ik van mijn leven op die tijd. Ik wil een eigen uitgeverij hebben. Dus als ik dood ga, geef ik die uitgeverij aan mijn kleinkinderen.

Rabu, 27 Maret 2013

Ini Cinta?

Ini bukan tentang cinta yang indah. Bukan pula cerita cinta di serial yang selalu berakhir bahagia. Bukan pula cinta antara kau dan aku, dia, mereka.
Cinta ini tak diberi nyawa, tetapi hidup hingga menusuk jantung.
Cinta ini tak diberi mulut, tetapi berbicara bahkan memberontak.
Cinta ini tak diberi kromoson DNA, tetapi berkembangbiak.
Cinta ini tak diberi kekuatan, tetapi menggerogoti tubuh kuat ini.
Cinta ini tak diberi tangan, tetapi menyentuh segala batas.
Cinta ini tak diberi arah, tetapi tahu harus kemana.
Cinta ini tak diberi kunci, tetapi menjaga tetap ditempatnya.
Cinta ini tak digenggam, tetapi menggenggam kuat seluruh janji.
Cinta ini tak bergelombang, tetapi riaknya merdu mengusik jiwa yang sepi.
Cinta ini tak berawan, tetapi hujan selalu jatuh dalam ceritanya.
Cinta ini tak terlihat, tetapi terasa, meradang, bahkan mematikan.

Bertemu kembali

Nus, aku ingin bercerita. Cerita tentang cerita klasik yang aku kira sudah mati ternyata cerita itu masih hidup, nus. Berdenyut dalam nadi jantung ini, mendesir dalam aliran darah di hati, dan merajai segala memori di dalam otak. Aku pikir aku munafik bila telah berhasil membunuh cerita ini. Malah dengan nafasku nafas cerita ini bisa berhembus. Dengan segala gesekan dan gerakan mampu mengembangbiakkan virusnya. Benar-benar tak aku mengerti mengapa cerita ini ternyata masih hidup, bukan mati. Menggerogoti bagai benalu dalam hati.

Aku bertemu lagi dengannya. Entah mengapa aku berani mengambil langkah gila ini. Kesatria abad 21 yang pernah menemaniku. Hati ini masih berdesir. Mata ini tak pernah lelah menatap semua geraknya. Ujung mataku pun tak berhenti mengawasi semua fisiknya. Tangan ini masih mengalirkan listrik yang seketika mengalirkan hawa hangat lewat jabatannya. Dan jantung ini masih mendetakkan seluruh asmanya. Apakah kau merasakan hal yang sama kesatriaku?

Aku ingin menjadi jalanan. Setia dengan sinar lampu jalan yang temaram namun cukup menerangi sisi gelapnya. Tak berharap kembali membantu orang-orang terhubung dengan segala jaringan kehidupannya. Setia berpadu dengan jutaan bahkan miliaran putaran roda-roda laju waktu yang menggilas keadaanmu. Terlentang terbentang dengan pasrah. Walaupun mungkin lelah terjaga sepanjang waktu. Tak pernah berpikir untuk meringkuk karena dengan itu akan banyak murka di atasmu.

Barangkali ini cinta. Sesakit inikah mencintaimu. Lepaskan aku bila memang kau memilih dirinya atau segala kenangan busukmu. Aku tak ingin menjadi benalu dalam hidupmu. Biarkan ku cari jalanku sendiri. Ikhlaskan aku untuk bisa merasakan cinta-cinta yang lain. Titah aku atau mungkin seret aku untuk pergi dari duniamu. Bantu aku untuk bisa menjemput cinta yang baru. Cinta yang mengenalkan padaku lagi tentang rasa kecewa, bahagia, tangis, bahkan tawa. Aku lelah mengharapmu. Tak kulihat lagi cinta yang dulu pernah kita puja bersama. Terlalu sakit untuk aku rasakan sendiri. Terlalu berat bila cinta ini kubawa sendiri. Larungkan aku kelaut. Seperti aku melarungkan perahu kertasku. Antar aku pulang. Bawa aku kembali ke pangkuan Neptunus. Sampaikan dengan pesan untuk temui aku dengan cinta yang bisa membuatku hidup. Bukan cintamu yang membuatku mati. Jika kau baca laman ini aku harap lupakan aku, temukan aku dengan cinta baru. Temui aku dengan memaafkan. Ajarkan aku bagaimana cara mengantarmu pada cinta yang kau mau. Beritahu aku jalan dimana kau bisa pergi keluar dari segala pengaruh diriku. Berikan aku alasan untuk tidak mencintaimu lagi. Bunuh aku dengan cinta ini jika memang itu yang membuatmu bahagia. Dan yang terakhir buatkan kita jalan yang berbeda. Aku ingin berjalan di jalanku! Dan kau bebas melakukan apapun di jalanmu! Di jalan kita masing-masing.