Selasa, 25 Februari 2014

Seorang Anak

Malam ini seketika hujan. Deras sekali. Saat aku lihat seorang anak manusia dengan tangannya sendiri dan dengan pilihannya sendiri mengubur dalam-dalam mimpinya. Mimpi yang menurut hati kecilnya adalah sebuah mimpi yang sangat ingin ia wujudkan. Dihiasi dengan gemuruh raja-raja petir di awan yang menambah semarak meriah gemuruh dalam hati anak itu.

Miris aku melihatnya. Sementara anak-anak di sisi lain masih berkeringat sibuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ia malah asik sibuk dengan menguburnya dalam-dalam. Aku sangat tahu, dari wajah kecilnya ia bukan mengalah pada keadaan. Realita yang memaksanya untuk menelan pilihan pahit itu. Pilihan yang sekaligus menjadi pendewasaan sang anak. Ada kalanya semua tidak harus diperjuangkan, tetapi juga ada yang harus direlakan untuk pergi. Ada kala dimana kita harus mengubur dalam-dalam mimpi hanya untuk berhadapan dengan yang namanya realita. Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah ikhlas. Pelajaran berharga untuk lebih mengerti hidup. Hidup yang bukan hanya ada pesta, namun diramaikan pula oleh bencana.

Seseorang bijak pernah berkata pada anak itu. Jalanmu bukan pada mimpimu ini. Masih ada banyak jalan lain yang belum kau ketahui dan menunggu untuk kau sibak belukarnya. Hidup bukan hanya bagaimana meraih mimpi, namun juga bagaimana melepas mimpi. Deretan kalimat klise yang mengantarkan sang anak pada gerbang penguburan mimpi sang anak malam ini. Ditambah lagi dengan alam yang seakan tak mendukungnya untuk tetap mewujudkan mimpi itu. Alam yang memberinya isyarat untuk ia berhenti sekarang, walau tak dipungkiri bahwa alam juga ikut merintih lewat hujannya menyaksikan drama penguburan ini.

Engkau yang membaca tulisan ini jangan pernah mengikuti jejak anak itu, anak yang dengan jari-jari kecilnya harus rela mengubur dalam-dalam mimpinya melainkan bukan mewujudkannya. Biarkan cukup anak itu saja yang merasakannya sendiri. Entah meradang dalam penyesalan atau malah semakin lega untuk bermimpi yang lain. Hanya waktu yang tahu nanti. Tunggu saja karena waktu tak pernah berdusta.

***
Untuk saat ini, sang anak mengerti apa yang pernah dikatakan oleh seorang bijak sebelum penguburan mimpinya. Apa mimpi sang anak itu? Sebenarnya sederhana saja. Sesederhana senja yang menguningkan bumi pada sore hari. Ia hanya ingin menulis. Menulis dengan berbagai macam patron, nilai, aturan, belenggu dan segala ornamen dan senjata yang menghiasinya. Menulis dengan pertanggungjawaban jiwa dengan penghakiman di akhir kalamnya. Menulis memang mimpi kecil sang anak yang sekarang harus ia kubur dalam-dalam. Mungkin memang bukan di kertas berjeruji itu ia menulis. Sang anak mengerti. Ia masih bisa menulis di sini, di laman elektronik yang tak punya penguasa ilmu. Ia bisa menulis semua yang ingin ia tulis, ia teriakkan, ia caci maki, dan ia hujat. Di sini tak ada penguasa ilmu yang bisa mengikatnya dan mencambuknya seperti pencari kata yang lain. Kata apapun bisa bermakna di sini. Menyerah saja pada alam yang memberinya makan, biar alam yang menghakiminya, bukan penguasa ilmu itu. Biarkan kata-kata ini pula yang menyeruak dan merobek siapa sebenarnya sang anak itu. Membongkar hingga sampai ulu hati, sampai pada perasaan sang anak. Menemukan bahwa sang anak yang aku amati dan aku lihat hingga hari ini adalah seorang yang amat ku kenal. Aku.

Rabu, 12 Februari 2014

Mencari Tanda Tanya

Aku sepi. Sudah berulang kali aku berteriak sepi. Walau ku akui keadaanku sekarang sudah menjadi lebih ringan dengan tidak mengidam-idamkan para penguasa hati. Namun sesuatu mengusikku. Seperti bisikan dan kecamuk yang bergemuruh. Aku memang cinta sepi, tapi barangkali bukan seperti ini. Sepi yang membuatku lega yang aku cinta. Bukan sepi yang mencekam dan seakan membuat diri ini ingin meronta demi mengisi kekosongan itu.

Aku lelah. Aku sudah lelah mencari jawaban akan tanda tanyaku. Tanda tanya yang beranak tanya. Tanya yang tak berhenti pada satu jawaban. Satu jawaban yang malah membawaku pada satu tanda tanya lain, dan tanda tanya lainnya. Tak kutemukan jawaban final untuk tanda tanya itu.

Aku mencari. Mencari cinta di setiap ruang, tempat, segala seluk beluk dan penjuru kota ini. Tak kutemui ia dimanapun, aku hanya menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu namun semu. Bisa aku rasakan, aku cumbu, bahkan aku getarkan sampai seluruh penjuru kamar penjara ini tetapi tak bisa aku peluk, apalagi aku miliki. Bukan ini yang aku cari dan ingin aku temukan jawabannya. Meski aku harus mengakui akupun menikmati kebahagiaan semu ini. Apakah ini yang harus aku nikmati sampai jenuh itu datang? Sampai jenuh itu yang kemudian memaksaku untuk kembali mencari jawaban atas tanda tanya yang beranak tanya.

Aku ingin bukan cinta yang berukiran rumit. Bukan cinta yang beratapkan langit. Aku ingin cinta seperti parit. Sempit namun pasti menuju muara. Laut adalah tujuannya. Masih adakah cinta seperti itu saat ini? Mari dekatkan pada wajahku, biar aku bakar dengan segala gejolak cinta ini. Sebelum terlambat dan jika masih ada.

Rabu, 22 Januari 2014

Kawan

Hai kawan, sepertinya rundungan awan kelabu tak menyurutkan sedikit pun senyum di bibirmu. Hujan rintik yang syahdu pun tak mampu meluluhkan semarak di hatimu. Bahkan jingga itu tetap menyala meski kenyataan memaksanya untuk menjadi padam. Masih aku ingat tawa renyahmu ketika kau menyambutku di daun pintu rumahmu.

Kau memang memberikan pelajaran tentang seorang anak pada orang tua, terutama ayah. Kau balas air tuba dulu itu dengan air susu. Kasih sayang yang tak terhingga untuk ayah tercintamu membelalakkan mata bahwa pada zaman ini malaikat dengan sayap dan tangan suci mungilnya itu masih ada. Kau hadirkan selalu tawa canda untuknya. Menemani setia pada setiap pintanya.

Kawan, kau bukan hanya pelita untuknya. Kau juga menjadi nafas yang ia hirup kini. Bahkan kau juga kakinya. Menjadi yang kuat untuk menopang semua bebannya. Kau ini perempuan, tapi hatimu sekuat baja. Aku saja yang laki-laki tak mampu untuk itu. Aku selalu mengagumi senyum yang kau tarik pada setiap ujung bibirmu yang membuat orang di luar tak menyadari lukamu. Ayahmu harus bangga punya anak sepertimu.

Kawan, teruslah tersenyum. Jadilah yang terkuat untuk ayahmu. Hanya kobaran semangat yang ada dalam ragamu yang mampu membuatnya bertahan, atau bahkan membuatnya lebih baik dari sekarang. Aku yakin itu. Cintamu untuknya yang seakan menguatkan sendi, urat, otot, dan nadi dan berusaha tetap berkerja untuk hidup. Jika kau lelah nanti, ada kami disini teman-temanmu yang akan menjadi kuat untukmu.

Untuk Novia Rakha.

Selamat Tahun Baru 2014

Hai, semua penghuni laman elektronikku tercinta. Maaf aku lupa mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014. Aku terlalu sibuk dengan kehidupan nyataku. Sedikit luput dari ingatanku bahwa aku punya nyawa lain di tempat ini yang lupa aku beri makan. Kalian pasti merindukan tulisanku kan? Tenang santapan nikmat berbanjiran kata-kata akan masih tetap jadi makanan setia kalian. Aku masih akan tetap menulis. Menulis juga menjadi nafasku untuk meneruskan hidup. Mengutarakan apa yang tak bisa ku lisankan di dunia nyata. Tertawa, menangis, bahagia yang tak bisa kubagikan pada alam sekitarku. Dan di tempat inilah, bersama kalian menjadi jawaban tempat akan semua keluh kesah itu.

Satu lagi, doakan aku ya. Aku ingin menulis lebih banyak. Tangan yang berkejaran diatas keyboard laptop lebih lama, otak yang berfikir lebih keras, mata yang membaca lebih banyak. Aku ingin mengerjakan skripsi untuk tugas akhir kuliahku. Doakan selesai tengah tahun ini ya.

Selamat Tahun Baru 2014 untuk Neptunus, Kesatria, Putri Menara, Adamku, dan semua nama yang pernah menghuni laman ini yang tak cukup bila aku sebutkan satu-persatu. 

Selamat Tahun Baru 2014 juga untuk semua teman dunia nyataku, IKSEDA, NLX yang juga sempat menghuni laman ini

Senin, 02 Desember 2013

JENDELA-JENDELA BUDAYA DALAM VARKENSROZE ANSICHTEN

Oleh: Setiyo Prutanto (dengan beberapa penggubahan)

Varkensroze Ansichten (2003) adalah buku kumpulan puisi karya Mustafa Stitou. Tidak hanya Varkensroze Ansichten, Mustafa Stitou telah menerbitkan beberapa karya sebelumnya, yaitu Mijn Gedichten (1998) dan Mijn Vormen (1994). Buku yang diterbitkan oleh De Bezige Bij di Amsterdam ini berhasil menjadikan Mustafa Stitou menjadi salah satu penulis yang berpengaruh di Belanda. Selain itu, Varkenroze Ansichten juga mendapat penghargaan VSB Poezieprijs pada tahun 2004. Penghargaan ini merupakan penghargaan utama di bidang sastra di Belanda. Varkensroze Ansichten terdiri dari empat sajak yang mengangkat tema humor dan ironi. Disamping tema tersebut, di dalamnya juga terdapat penggambaran budaya dari mata seorang imigran. Seperti yang kita ketahui bahwa Mustafa Stitou adalah seorang penulis imigran yang berasal dari Maroko. Penggambaran budaya tersebut tergambar apik dalam beberapa puisi yang dihadirkan dalam buku ini.

Secara umum puisi yang terdapat dalam buku ini menggunakan aku lirik dimana semua pandangan hanya terbatas pada satu sudut pandang imigran saja. Sudut pandang ini menjadikan pembaca seperti menggunakan kacamata kuda yang hanya dapat melihat ke depan tanpa bisa melihat sudut pandang lain. Pilihan kata yang dipilih untuk membentuk buku ini sulit dan tidak terlihat bahwa penulisnya adalah orang imigran sehingga terkesan bahwa penulis buku ini adalah orang Belanda asli. Sampul dari buku ini merupakan gambar kulit babi yang dihiasi dengan bulu halus di atasnya dan menjadikan buku ini sebuah kontroversi. Stitou yang seorang muslim berani mengangkat babi untuk sampul bukunya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa babi adalah hewan yang haram bagi umat muslim. Pengambilan gambar kulit babi itu berkaitan langsung dengan judul buku Varkensroze Ansichten yang berarti kartu pos bergambar babi merah muda. Stitou juga sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah menggunakan aturan rima dalam puisinya. Bentuk puisinya terkadang juga ada yang berbentuk prosa. Dari bentuk tersebut terlihat bahwa Stitou ingin membuat gebrakan baru dengan tidak menggunakan rima dan aturan-aturan pakem dalam berpuisi. Stitou ingin keluar dari aturan-aturan yang mengharuskan puisi itu memiliki rima.

Budaya Mencatat dalam Puisi Ansichten 
Puisi Ansichten adalah kumpulan memo dari tetangga wanita Mustafa untuk menjaga rumahnya ketika Mustafa sedang berlibur, terlihat dalam bagian tujuh: ‘Groeten, je bovenbuurvrouw.’ Setiap bagian dalam puisi ini terdiri dari tiga baris dan bervariasi pada jumlah baitnya. Ketujuh bagian puisi ini tidak berkaitan secara langsung karena pada setiap bagiannya mewakili kejadian apa saja yang terjadi di rumah tersebut. Ketujuh bagian sajak ini dapat diinterpretasikan sebagai tujuh hari lamanya Mustafa berlibur. Puisi ini tidak menggunakan majas dan gaya bahasa apapun sehingga semua kalimatnya memiliki makna denotatif (makna sebenarnya). Barisan kata-kata dalam puisi ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat nyata dan aktualitas. Kata-kata aktualitas tersebut menjadikan puisi ini kehilangan keindahan yang bisa saja terbentuk dari kata-kata berkiasan indah dalam sebuah puisi.

Budaya mencatat yang sangat akrab dengan kehidupan keseharian Belanda yang dapat dilihat dalam puisi ini adalah kebiasaan mencatat apa yang terjadi dalam kehidupan kesehariannya. Sama seperti pentingnya agenda untuk kehidupan orang Belanda, memo menjadi salah satu aksesoris kehidupan Belanda untuk menyampaikan pesan kepada seseorang seperti pada bagian empat dimana tetangga wanita Mustafa menuliskan pesan untuk Mustafa. Pesan tersebut berisi menanyakan kesediaan Mustafa untuk diwawancarai oleh salah satu program televisi perihal kehidupannya sebagai seorang penyair. Mereka mengharapkan kabar jika Mustafa sudah kembali. Penggambaran ini sama seperti halnya zaman kolonial ketika Belanda masih menguasai tanah Nusantara. Seperti yang kita ketahui, sumber-sumber sejarah masa kolonial tersebut merupakan hasil tangan catatan orang Belanda. Ansichten berhasil membuka mata pembaca untuk mengenal budaya mencatat yang sangat dekat dengan kehidupan Belanda.

Stitou mengambil judul Ansichten yang bermakna ‘kartu pos’ dan membangun bentuk memo dalam puisinya bukan tanpa alasan. Kartu pos dan memo menjadi simbol untuk menyampaikan sesuatu. Stitou secara tersirat ingin menyampaikan sesuatu dengan menggunakan bentuk memo dalam Anscihten.

Keagungan Barat dalam Puisi Flirt 
Puisi Flirt bercerita mengenai ketegangan aku lirik dengan penjahit dimana ia memperbaiki kostum teaternya yang tidak sengaja dirusak oleh tangannya sendiri. Ketegangan tersebut terjadi karena aku lirik tertarik dan mencoba menggoda anak pemilik penjahit tersebut. Lagi-lagi tidak akan ditemukan bentuk puisi yang di dalamnya terdapat rima yang ditanggalkan di setiap akhir barisnya. Puisi ini berbentuk prosa dan terlihat seperti cerita yang biasa ditemukan dalam cerita pendek. Bentuk yang jarang ini menjadikan puisi ini terlihat sangat berbeda dan tidak menarik pembaca bila melihat bentuknya untuk pertama kalinya. Tokoh aku lirik dalam puisi ini sama seperti tokoh Ikal dalam buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tokoh Ikal tertarik pada gadis keturunan Cina dan mencoba mencuri pandang dengan gadis tersebut yang merupakan anak dari seorang pemilik toko tempat dimana ia rutin membeli kapur. Hal itu yang menjadikan alasan mengapa Ikal selalu semangat jika diperintahkan oleh gurunya untuk membeli kapur di toko tersebut.

Ketika aku lirik mengalami ketegangan dengan penjahit, aku lirik sangat merasa panik dan merasa dirinya kecil sedangkan penjahit tersebut terlihat seperti berhala yang harus ditakuti, terlihat dalam kalimat: ‘Als een afgod. Wonderlijke afgod. Ik zag dat hij mij opnam. Met een mengeling van minachtig en teleurstelling woog hij mij. Paniek ja! Geleidelijk raakte ik paniek.’ Menurut kacamata orang imigran, mereka menganggap bahwa orang Barat lebih besar dan lebih tinggi derajatnya dan harus ditakuti layaknya sebuah berhala. Kata ‘afgod’ yang bermakna berhala merupakan penggambaran yang sangat jelas bahwa imigran menilai orang Barat memang lebih tinggi derajatnya dari diri mereka sendiri.

Bentrokan Budaya dalam Puisi Ansicht Uit De Droom &Vreesman
Puisi Ansicht Uit De Droom & Vreesman terdiri dari tiga bait. Setiap baitnya diisi dengan sembilan baris. Seperti yang ditemukan pada puisi sebelumnya, puisi ini juga tidak terdapat rima disetiap akhir kata pada setiap barisnya, selain itu juga terdapat banyak sekali enjabemen.
Onder aan de stilstaande roltrap een Frans buldogje,
besnuffelt mijn rechtervoet en begint te gniffelen,
schampert mijn naam. Straks pist het nog tegen mij aan!
Voorzichtig schop ik het hondje opzij. Is dit dogje
niet heimelijk mijn Pa? Schiet mij te binnen,
alles immers komt ergens vandaan, en wat een triomf
zou dit zijn! Met kloppend hart raap ik het symbool op,
schichtig kijkt mij aan, geen spoor van gelijkenis.
Kleuterpop knalt door de geglazuurde ruimte.
Dari contoh bait di atas, terlihat walaupun enjabemen digunakan namun tidak terlihat adanya bentuk rima pada setiap akhir barisnya. Enjabemen ini menjadikan puisi ini berbeda dari pakem puisi yang sudah ada.

Keseluruhan isi puisi ini secara umum menggambarkan mengenai perbedaan budaya Timur dengan budaya Barat dengan perbedaannya yang bagaikan langit dan bumi. Di satu sisi, budaya Timur yang malu-malu dan menghindari soal seks sedangkan budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks. Mustafa memilih kata preutse oosten untuk budaya Timur dan wellustige westen untuk budaya Barat. Preutse oosten dan wellustige westen, dua kata yang mampu memberikan dua kubu berbeda yang hidup di dalam bumi ini.

Varkensroze Ansichten karya Mustafa Stitou tidak hanya memberikan kontroversi pada sampulnya yang bergambar kulit babi saja, di dalam buku ini juga dihadirkan penggambaran budaya dari sudut pandang imigran. Sebuah jendela yang mampu membuat pembaca bisa melihat budaya dengan cara yang unik dengan membaca puisi. Budaya mencatat yang melekat dengan kehidupan Belanda yang terangkum apik dalam kumpulan memo dalam puisi Ansichten, hierarki orang Barat yang lebih tinggi dibanding orang Timur yang pantas ditakuti dalam puisi Flirt, dan budaya Timur yang malu-malu dan menghindar soal seks maupun budaya Barat yang lebih terbuka dalam membicarakan soal seks dalam Ansicht Uit De Droom & Vreesman. Mustafa Stitou berhasil menghadirkan mozaik-mozaik kebudayaan dan dirangkum apik dalam puisi-puisi Varkensroze Ansichten.

Selasa, 26 November 2013

Teman Pembelajaran Jiwa

Untuk Novia Rakha, 
Izinkanlah aku pada malam ini bercerita tentangmu. Entah nikmat Tuhan mana yang telah aku dustakan malam ini. Cerahnya malam ini dengan bintang yang memberikan secercah cahaya untuk menemani kegelapan malam, kini harus aku kotori dengan banjir air mataku sendiri dengan menuliskan kata-kata ini. Kata yang tak mampu kuungkap di hadapanmu, kawan. Begitu banyak kelu di ulu hatiku untuk menjelaskan atau mendefinisikan apa yang melandaku kini. 

Ingatkah pada kemarau musim lalu, untuk pertama kalinya kita mengenal dan sampai sedekat ini. Walau sebelumnya kita pernah mengenal. Aku kenal kau dan kaupun begitu. Tapi kita tak saling bicara. Hanya verbal yang mampu melafalkan pertemanan kita saat itu. Namun kini kau torehkan kata yang mampu melafalkan pertemanan kita sampai pada ujung hati ini. Pengkhianatan yang mengantarkan aku pada kau. Seperti yang kita ketahui dan kita yakini bersama bahwa setiap kejadian pasti memiliki alasan. Dan kini aku temukan alasan itu. Pengkhianatan yang membuatku menjadi mengenalmu. Mengantarkan aku untuk menjadi diri sendiri dan mengizinkanku menjajaki apa yang sebenarnya sudah kujadikan pilihan hidupku sejak awal. 

Sejak kejadian kelas itu, awalnya aku tak mengerti mengapa kau begitu sedih menceritakan sebuah kisah biru di hadapan kelas. Aku menangis. Entah aku cengeng atau memang kisahmu yang mampu membuat gempa dalam rongga mata yang menumpahkan tsunami air mata tak berkesudahan. Aku tak pernah tahu begitu banyak tangan Tuhan mencoba mengujimu. Tak kulihat itu sedikitpun dari sorot matamu. Membuatku berkesimpulan bahwa kau memang tangan malaikat yang ingin menolong manusia-manusia seperti aku untuk menjejak tanah. Tawamu, kawan. Menutupi segala luka dari tangan titah Tuhan. Membuatmu seakan tegar menjadi sebuah pohon yang kuat diterpa angin malam, walau sebenarnya kau rasakan dingin yang merasuk. 

Membuatku tertampar hingga tersungkur lewat kisah birumu. Menjelagakan diriku pada satu masa ketika aku sibuk mencari hingga tak menjejak tanah lagi. Kau seperti memberikan jawaban atas semua tanya yang tak pernah ku temukan jawabannya. Kau seperti gerbang yang mengantarkan aku pada muara dimana aku akan melebur pada alam. Berhenti meronta, meminta, dan hanya percaya. Mengingatkan aku pada tugas utama seorang anak pada kedua orang tuanya. Kau menjadikan pembelajaran hidup sekaligus pembelajaran jiwa yang haus ini. Pengantar kedewasaan yang haru. 

Terima kasih, hanya kata itu yang mampu mewakili segala ronta dalam hatiku. Tak mampu lagi kata mengungkapkan bagaimana berartinya kau dalam pertanyaan-pertanyaanku. Biarkan saja air mataku yang mengantarkan rasa ini untuk bisa kau mengerti mengapa kejadian ini cukup membuatku berjelaga. Tetaplah tersenyum dan mewujudkan mimpimu. Mimpi yang membuatku percaya bahwa mentari masih akan terbit di ujung pelupuk matamu ketika matamu itu terbuka. Terima kasih telah menjadikan aku temanmu dalam waktu hampir tiga tahun ini. Sedikit lagi sampailah kita pada gerbang dunia yang sudah terbuka sedikit dan siap menjebloskan kita pada dunia nyata. Aku akan selalu belajar darimu untuk menjadi yang bernama dalam dunia. Jika kita sudah di jalan kita masing-masing. Tulisan ini setidaknya pernah menjadi bukti bahwa aku pernah memiliki salah satu tangan malaikat di bumi ini. 
Dariku, Setiyo Prutanto.

Sabtu, 16 November 2013

KRITIK BELENGGU PATRIARKHI DALAM MINNARES VAN DE DUIVEL

Oleh: Amalia Husna dan Setiyo Prutanto 

Minnares van De Duivel (2002) adalah sebuah buku kumpulan cerita karya Naima El Bezaz. Buku ini terdiri dari tujuh cerita yang keseluruhan ceritanya dibalut dengan tema jin dan ilmu hitam. Cerita-cerita dalam buku ini dibangun dengan latar kota Marakech dan Archadour. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Contact di Amsterdam dan berhasil menjadikan Naima El Bezaz menjadi salah satu penulis mahsyur di Belanda. Naima El Bezaz tidak serta merta terlena pada cerita berbalut ilmu hitam saja, namun melalui ilmu hitam tersebut ia mencoba meneriakkan kritik dari perempuan yang terbelenggu oleh budaya patriarkhi. Di dalam buku ini tidak akan ditemukan kisah rumah tangga yang romantis dan berakhir bahagia. Pembaca justru akan menemukan ilmu hitam sebagai sebuah kritik dari perempuan sebagai korban belenggu patriarkhi.

Cerita ini adalah salah satu cerita dari ketujuh cerita yang tergabung manis dalam buku Minnares van De Duivel . Dari judulnya, pembaca akan mengira bahwa cerita ini berkaitan dengan hal-hal mistis. Cerita ini berkisah tentang Lalla Rebha yang mengalami pengalaman mistis sewaktu masa kecilnya. Semenjak kejadian itu hidup Lalla Rebha seketika berubah. Dari seorang gadis Maroko yang ceria menjadi seorang yang lebih suka menyendiri. Hal itu juga membentuk Lalla Rebha menjadi seorang peneluh. Naima El Bezaz menceritakan kisah ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Dengan gaya penceritaan ini pembaca seolah-olah dapat menjadi dalang kisah ini dan mengetahui pikiran dari masing-masih tokoh.

Rasakan Ilmu Hitam Secara Langsung 
Cerita ini diawali ketika Lalla Rebha hidup bersama Farzi, jin yang ditemuinya ketika ia menginjak usia 10 tahun. Lalu alur cerita berganti menjadi flashback, ketika Lalla Rebha untuk pertama kalinya bertemu Farzi dengan jalan kesurupan yang menimpanya. Perpindahan alur ini ditandai dengan pemisah yang jelas, terlihat dalam kalimat: ‘Toen Lalla Rebha net tien jaar was geworden, werd haar ziel geclaimd door de djinns.’ El Bezaz juga mampu menceritakan kejadian kesurupan Lalla Rebha tersebut dengan menggunakan kata-kata yang mampu membuat pembaca seakan-akan hadir langsung dalam kejadian dan dapat merasakan apa yang Lalla Rebha rasakan. ‘Lalla Rebha kon zich niet beheersen, ze gilde, en schreeuwde. De imam ging door en las, langzaam en de nadruk leggend op elk woord, het koranvers.’ 

Dua Kaum yang Terkekang
Selain peristiwa mistis yang dialami Lalla Rebha, El Bezaz juga menguak realita-realita budaya patriarkhi dimana perempuan yang menjadi korban. El Bezaz menceritakan hal tersebut melalui apa yang dialami tokoh-tokoh perempuan dalam cerita ini. Berawal dari tindakan yang dilakukan oleh ayah Lalla Rebha terhadap istrinya. ‘Haar vader trok zijn vrouw de slaapkamer in en deed de deur op slot.’ Apa yang dilakukan ayah Lalla Rebha tersebut menggambarkan posisi perempuan yang tertindas dan tidak dapat melawan belenggu penguasa patriakhi, laki-laki. Di dunia ini ada dua jenis kaum yang tertindas, ada yang menerima saja tanpa melakukan perlawanan dan ada juga yang memberontak dan berteriak. Ibu Lalla Rebha, Itto merupakan contoh dari golongan yang pertama. Di samping itu, Naima El Bezaz juga menggambarkan golongan kaum tertindas yang berteriak dan memberontak melalui tokoh Lalla Rebha dan Nourlaila. Manusia memiliki batas. Begitu juga dengan kesabaran yang dimiliki oleh kedua tokoh ini untuk pasangan mereka masing-masing. Kedua tokoh ini pada akhirnya balik menyerang pasangannya dengan menggunakan ilmu gaib. Ilmu gaib di sini dapat dilihat sebagai wujud pemberontakan dan kritik terhadap budaya patriakhi yang sudah lama mengakar. Kedua tokoh ini seperti tokoh perempuan yang ada di dalam cerita Sang Ratu karya Intan Paramaditha, yaitu Dewi. Perempuan ini merupakan tipikal istri yang patuh dan tidak mudah curiga pada akhirnya berani mengebiri suaminya setelah mengetahui suaminya berselingkuh dan bercumbu dengan perempuan lain.

Simbol Budaya Patriakhi
Farzi juga dapat dijadikan simbol penguasa patriakhi. Farzi, jin laki-laki yang berasal dari Persia, selalu membantu Lalla Rebha. Tanpa Farzi, Lalla Rebha bukan apa-apa dan hanya akan menjadi perempuan korban budaya patriakhi yang tak mampu memberontak. Simbol ini dapat mengantarkan pembaca pada satu kesimpulan bahwa sekuat apapun perempuan dalam budaya patriarkhi, laki-laki selalu lebih unggul.

Minnares van De Duivel karya Naima El Bezaz menghadirkan kisah-kisah perempuan yang terbelenggu oleh budaya patriakhi. Apa yang dialami Itto merupakan cerminan kaum perempuan yang tidak yang tidak melawan kekuasaan penguasa patriakhi. Selain itu, dua kisah perempuan lainnya yang ada dalam cerita ini memberikan gambaran kepada pembaca bahwa perempuan korban budaya patriarkhi juga dapat melakukan pemberontakan. Perlawanan kaum perempuan ini adalah sebagai sebuah kritik terhadap budaya patriakhi yang selama ini mengakar. Kritik tersebut diwujudkan Naima El Bezaz dalam bentuk ilmu hitam. Naima El Bezaz berhasil mengubah paradigma masyarakat bahwa perempuan yang awalnya menjadi objek budaya patriarkhi dapat mengambil alih kendali walau dengan jalan yang sulit. Inilah dunia perempuan yang tak mudah, selalu tak mudah.