Pada saat ini izinkan aku mempertanyakan beberapa hal yang sebenarnya sudah pernah aku tanyakan beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang muncul dari sepotong lirik lagu yang mengusikku untuk membicarakannya pada halaman pribadiku ini.
How can I love when I am afraid to fall? ( Christina Perri – Thousand Years)
Terjemahan harfiahnya kira-kira: Bagaimana aku bisa jatuh cinta di saat aku takut terjatuh? Bagaimana mencari jawabannya, sulit bukan? Jatuh cinta seperti kata seorang penulis kawakan yang saya idolakan, Dee Lestari adalah seperti menggali jurang kita sendiri. Jurang dingin yang dibangun dengan tangan kita sendiri. Jurang yang sangat dingin dasarnya, yang dapat membuat kau sekarat atau bahkan sampai mati. Lupa akan dunia yang sebegitu maha luasnya ini menjadi sendu karena satu cinta yang telah membunuh warna dalam hidupmu. Dan kau diibaratkan berdiri di tepinya, menunggu untuk limbung atau merdeka. Kedua pilihan itu ada esa ditangan orang yang kau cinta. Hanya dengan tangannyalah yang mampu menentukan apakah kau harus merasakan dinginnya dasar jurang itu atau malah merdeka dengan kobaran api asmara yang kalian berdua hasilkan. Tapi tenang itu bukan hasil akhirnya. Hasil akhirnya kembali lagi pada tangan si pembuat jurang itu, mau bangkit melawan dinginnya dasar jurang itu atau memeluk dingin itu hingga kelu atau hingga kau mati.
Jatuh cinta juga bisa diibaratkan seperti meruntuhkan dinding benteng yang kita buat selama ini. Seperti keadaanku sekarang, benteng yang aku telah bangun bertahun-tahun ini untuk membekukan diri dari cinta runtuh begitu saja oleh rayuan manis seseorang. Menjadikanku takut untuk mendekam merasakan dingin dan warna di mataku seketika hilang dan yang tinggal hanya abu-abu. Aku takut itu. Memberi satu-satunya hati yang sudah tak kuketahui lagi bentuknya di dunia nyata ini pada seseorang yang berjanji sudi menjaganya, tapi waktu bisa saja tidak demikian. Aku sudah nyaman dengan benteng yang aku bangun selama ini, menjadikan aku kesatria yang kuat dibalut baju besi namun lunak di dalamnya seperti daging kepiting. Saking kuatnya aku bisa membunuh siapapun yang akan berada di sisiku. Namun jika aku lemah, cinta bisa membunuhku seperti tikus got yang kepergok mencuri makanan di dapur dengan sentuhan hangat racunnya yang mematikanku perlahan. Kadang aku berfikir apakah aku harus jadi kesatria yang kuat atau lemah. Aku tidak bisa menjadi di antaranya.
I wonder if I ever cross your mind? For me it happens all the time. (Lady Antebellum – Need You Now)
Pertanyaan kedua ini kira-kira terjemahan harfiahnya seperti ini: Aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di pikiranmu? Untukku itu terjadi setiap saat. Ketika jatuh cinta, aku selalu mempertanyakan hal ini. terlalu posesif kadang ketika aku memikirkan hal ini. Ini kecil tapi menusuk, seperti duri ikan yang tak sengaja tertelan dan mengganjal di tenggorokan. Sakit bukan rasanya? Untuk beberapa orang menanyakan hal ini sama saja seperti bunuh diri dan memenangkan orang yang kau sayang untuk merdeka di atas matimu. Tanyakan saja kembali pada diri kita sendiri apakah kita cukup berharga untuk diingat seseorang, terlebih orang itu adalah orang yang kita sayangi. Untukku memang ketika jatuh cinta otakku seperti disetel ulang untuk hanya memikirkan satu orang, engkau. Pikiran yang dapat membuatku terbuai dalam lamunan tak berujung. Membuatku mati dalam waktu dan beku untuk merasakan sekitarku yang tetap bergerak. Bagaimana mengatur ini supaya tetap berjalan dengan kehidupanku biasanya. Apa memang sudah takdirku untuk mencintai dengan sepenuh hati walau hatiku bentuknya pun mungkin sudah tak utuh lagi karena sudah di hancurkan sedikit demi sedikit oleh pengkhianatan.
Jika memang cinta yang menghidupkan itu masih ada dan jika ada cinta yang mampu mengajarkan aku bernafas sekaligus mencinta dengan baik, aku selalu meminta pada Tuhanku untuk mendekatkannya pada wajahku. Ajarkan aku untuk hidup untuk cinta bukan cinta untuk hidup. Dekatkan aku pada cinta yang digadang-gadang oleh semua pujangga memang indah adanya. Bukan indah seperti topeng yang menutup luka atau derita. Cinta di atas segalanya.
Minggu, 11 Januari 2015
Sabtu, 10 Januari 2015
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya
Pada detik jarum jam yang menggelendotiku pada tempat yang gersang ini aku mengamati satu hal. Satu hal yang entah ini salahku, salahmu, salah kita, salah kalian, salah mereka, atau salah kami. Suatu fenomena yang membuat saya sangat terusik. Membuat saya gerah untuk mengutarakannya pasa seluruh jagat raya. Entah duniaku yang berbeda atau saya yang aneh. Pada tulisan ini saya tidak akan menceritakan fenomena itu dan menghakimi ini salah siapa. Aku hanya ingin memberitahu satu hal:
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya adalah pengamat. Pengamat yang mempunyai tujuan, entah itu baik atau buruk. Pengamat untuk satu sama lain, saling berefleksi satu sama lain. Aku akan melihat dirimu dalam diriku, diri kita dalam diri mereka, diri kalian dalam diri kami. Pengamat yang mempunyai cara masing-masing dalam mengamati suatu hal atau apapun di dunia ini. Tujuan akhirnya hanya dua: Membenci dan menerima. Jika kamu, kita, kalian, mereka, kami sudah mengambil peran untuk membenci, berarti tugasku hanya menerima. Sederhana bukan? Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima saya. Silahkan saja membenci. Setiap saya membuka mata pada saat bangun tidur bukan untuk menekan siapapun untuk menerima saya. Saya hanya hidup pada satu titian jalan yang menurut saya benar. Entah saya hidup di satu dunia yang kecil sempit, sedangkan kalian hidup di dunia yang indah dan megah atau justru kebalikannya. Yang saya tahu hanya satu, saya bebas menari-nari dan berjingkrakan di dalamnya. Ini adalah taman bermain saya, bukan neraka yang kalian bangun sendiri. Taman yang dibangun dengan ledakan kembang api yang berwarna-warni, bukan dengan tembok tua yang lusuh. Silahkan ambil peran dan rasakan dunia ini, terserah mau memberi arti atau membenci.
SEMUA ADALAH PENGAMAT. PENGAMAT UNTUK SATU SAMA LAIN, PUNYA CARANYA MASING-MASING, TUJUANNYA BAIK ATAU BURUK YANG PADA AKHIRNYA HANYA ADA MEMBENCI DAN MENERIMA TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN MASING-MASING. (STYPRUTANTO)
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya adalah pengamat. Pengamat yang mempunyai tujuan, entah itu baik atau buruk. Pengamat untuk satu sama lain, saling berefleksi satu sama lain. Aku akan melihat dirimu dalam diriku, diri kita dalam diri mereka, diri kalian dalam diri kami. Pengamat yang mempunyai cara masing-masing dalam mengamati suatu hal atau apapun di dunia ini. Tujuan akhirnya hanya dua: Membenci dan menerima. Jika kamu, kita, kalian, mereka, kami sudah mengambil peran untuk membenci, berarti tugasku hanya menerima. Sederhana bukan? Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima saya. Silahkan saja membenci. Setiap saya membuka mata pada saat bangun tidur bukan untuk menekan siapapun untuk menerima saya. Saya hanya hidup pada satu titian jalan yang menurut saya benar. Entah saya hidup di satu dunia yang kecil sempit, sedangkan kalian hidup di dunia yang indah dan megah atau justru kebalikannya. Yang saya tahu hanya satu, saya bebas menari-nari dan berjingkrakan di dalamnya. Ini adalah taman bermain saya, bukan neraka yang kalian bangun sendiri. Taman yang dibangun dengan ledakan kembang api yang berwarna-warni, bukan dengan tembok tua yang lusuh. Silahkan ambil peran dan rasakan dunia ini, terserah mau memberi arti atau membenci.
SEMUA ADALAH PENGAMAT. PENGAMAT UNTUK SATU SAMA LAIN, PUNYA CARANYA MASING-MASING, TUJUANNYA BAIK ATAU BURUK YANG PADA AKHIRNYA HANYA ADA MEMBENCI DAN MENERIMA TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN MASING-MASING. (STYPRUTANTO)
Minggu, 28 Desember 2014
Bahasa Alam
Aku mendengar bahasa alam dimana-mana. Aku tahu alam berbahasa dengan indahnya. Satu-satunya bahasa titah tangan Tuhan yang paling indah dan merdu dibandingkan dengan bahasa belahan dunia manapun. Hanya ada satu cara menerjermahkan dan memahami bahasa itu, hanya perlu percaya dan menerima.
Pada saat ini telah banyak aku rasakan bahasa alam itu, bahasa yang mengisyaratkan bahwa tempatku bukan di sini. Di sini hanya menjadikanku makhluk dungu yang hanya bisa diam ketika ditusuk hidungnya dan dicambuk pantatnya. Menjalani hidup tetapi seperti mati. Di sini tidak menjadikanku merdeka, berdaya, apalagi bermakna. Aku ingin bernafas, ingin hidup dengan lincah sebisa apapun yang aku mau. Tempat ini memang indah hanya saja kurang tepat untuk aku. Bukan aku yang selama ini aku kenal jika sudah masuk tempat ini. Aku hanya bisa menjerit lewat kertas dan pensil. Tak mampu aku teriakan semua yang aku rasa lewat bahasa. Aku tidak nyaman.
Entah apa yang aku cari, ku tunggu, dan aku harap di sini. Bahasa alam ini seakan memerintahkan aku untuk beranjak dari tempat ini. Mencari sarang lain yang lebih indah, lebih membuatmu menjadi merdeka. Namun hal yang aku tahu mencari tempat lain itu tidak mudah. Aku harus kembali melewati rentetan jalan panjang dan melelahkan, dibutuhkan beberapa tetes keringat dan beberapa untaian tenaga untuk mendapatkannya, belum lagi harus dibumbui rasa kecewa jika tempat tersebut direbut oleh sesama pencari suaka. Belum lagi bahasa alam yang lain yang memerintahkan aku untuk tetap di sini demi satu pasang senyum indah yang seakan membiusku untuk lebih mementingkan senyum itu tetap berada di sana dibanding kebahagiaanku sendiri. Senyum dari orang tuaku. Sangat aku akui aku juga tidak akan pernah membunuh senyum itu dengan kotornya tanganku. Tapi satu hal yang harus mereka ketahui dan aku tak mampu mengutarakannya, aku ingin terbang.
Kini aku merasa seperti berada di tepi jurang yang aku buat sendiri. Entah mana yang harus aku pilih, terjun dan merasakan dinginnya dasar jurang itu? Atau tetap berada di tepi ini dengan hawa panasnya yang seakan membakar seluruh rasa dan aku tak mampu kemana-mana. Sehingga perlahan mati dalam kata dan nada, tapi bernafas namun tersengal di ulu hatimu. Kecuali jika aku mampu membuat keputusan besar dengan pikiran matang sehingga aku tidak membunuh sepasang senyum itu dan tidak membunuh jiwaku sendiri. Tuhan, berikan aku jalan itu.
16.12.2014
Today I feel so tired. I just take a rest. I don’t know what I do, what I feel. Can I fall into your chest? I want to sleep. After that when I open my eyes I hope that all is gone. Gone likes air. I just tired for this situation. Sorry mom and dad, I can’t be strong. I can’t :(
(catatan kecil di buku tulis bersampul tempat yang sebenarnya aku inginkan)
Pada saat ini telah banyak aku rasakan bahasa alam itu, bahasa yang mengisyaratkan bahwa tempatku bukan di sini. Di sini hanya menjadikanku makhluk dungu yang hanya bisa diam ketika ditusuk hidungnya dan dicambuk pantatnya. Menjalani hidup tetapi seperti mati. Di sini tidak menjadikanku merdeka, berdaya, apalagi bermakna. Aku ingin bernafas, ingin hidup dengan lincah sebisa apapun yang aku mau. Tempat ini memang indah hanya saja kurang tepat untuk aku. Bukan aku yang selama ini aku kenal jika sudah masuk tempat ini. Aku hanya bisa menjerit lewat kertas dan pensil. Tak mampu aku teriakan semua yang aku rasa lewat bahasa. Aku tidak nyaman.
Entah apa yang aku cari, ku tunggu, dan aku harap di sini. Bahasa alam ini seakan memerintahkan aku untuk beranjak dari tempat ini. Mencari sarang lain yang lebih indah, lebih membuatmu menjadi merdeka. Namun hal yang aku tahu mencari tempat lain itu tidak mudah. Aku harus kembali melewati rentetan jalan panjang dan melelahkan, dibutuhkan beberapa tetes keringat dan beberapa untaian tenaga untuk mendapatkannya, belum lagi harus dibumbui rasa kecewa jika tempat tersebut direbut oleh sesama pencari suaka. Belum lagi bahasa alam yang lain yang memerintahkan aku untuk tetap di sini demi satu pasang senyum indah yang seakan membiusku untuk lebih mementingkan senyum itu tetap berada di sana dibanding kebahagiaanku sendiri. Senyum dari orang tuaku. Sangat aku akui aku juga tidak akan pernah membunuh senyum itu dengan kotornya tanganku. Tapi satu hal yang harus mereka ketahui dan aku tak mampu mengutarakannya, aku ingin terbang.
Kini aku merasa seperti berada di tepi jurang yang aku buat sendiri. Entah mana yang harus aku pilih, terjun dan merasakan dinginnya dasar jurang itu? Atau tetap berada di tepi ini dengan hawa panasnya yang seakan membakar seluruh rasa dan aku tak mampu kemana-mana. Sehingga perlahan mati dalam kata dan nada, tapi bernafas namun tersengal di ulu hatimu. Kecuali jika aku mampu membuat keputusan besar dengan pikiran matang sehingga aku tidak membunuh sepasang senyum itu dan tidak membunuh jiwaku sendiri. Tuhan, berikan aku jalan itu.
16.12.2014
Today I feel so tired. I just take a rest. I don’t know what I do, what I feel. Can I fall into your chest? I want to sleep. After that when I open my eyes I hope that all is gone. Gone likes air. I just tired for this situation. Sorry mom and dad, I can’t be strong. I can’t :(
(catatan kecil di buku tulis bersampul tempat yang sebenarnya aku inginkan)
Jumat, 10 Oktober 2014
Surat untuk Neptunus (lagi)
Dear Neptunus,
Hai, apa kabarmu di laut biru di sana? Pasti indah. Hanya ada birunya laut dan tarian-tarian hewan lautmu yang bersanding dengan arus halus dan gelombang laut. Setelah sekian lama aku ingin bercerita sesuatu padamu lewat surat elektronik yang aku simpan di nyawa keduaku ini, nus. Sekitarku sudah tak mampu lagi menampung segala gundah dan perasaan ini. Aku sadar mereka juga masih punya masalah mereka masing-masing. Tak ingin aku bebankan mereka dengan cerita cengengku ini. Aku harap kau mau membacanya.
Sebenarnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari bagian mana. Ceritanya hanya tentang keadaanku saat ini. Sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal padamu, nus. Pernahkah kau merasa jadi satu tumpuan untuk seseorang atau sesuatu? Tetapi kau belum mampu untuk melakukan itu. Untuk pertanyaan itu aku yakin kau pernah. Rakyatmu di laut sana perlu kekuatanmu untuk mengatur laut agar tetap biru, mengatur semuanya agar gelombang tetap indah dan tidak merusak, mengatur tarian-tarian berjuta rakyatmu di laut sana. Aku belum bisa, nus. Aku belum bisa menjadi tumpuan kedua orang tuaku. Mereka sudah tua. Aku satu-satunya harapan mereka. Entah ini masalah finansial, spiritual, atau hal lainnya. Berikan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati ini. Tuhan kadang seakan tak menjawab apa yang aku pinta. Aku selalu bercerita juga padanya pada sepertiga malam yang terakhir. Aku hanya ingin satu. Satu yang menjadikanku berguna. Ilmuku bermanfaat, membuatku bermanfaat juga untuk orang lain, terutama kedua orang tuaku. Aku tidak pernah mengharap tahta apalagi mahkota. Apa itu sulit?
Aku kini merasa seperti ada pada fase harapan kedua. Setelah harapan pertama sudah terkikis oleh gelombang semangat yang menggebu di awal. Namun belum aku lihat pencerahan dalam harapan kedua ini. Aku mencoba bangkit kembali pada fase ini, mengumpulkan pundi-pundi semangatku untuk melawan segala asap jalanan dan teriknya mentari untuk menjadi bermanfaat. Tak kudapatkan hasil di ujung perjalanan itu. Kadang aku ingin menangis, nus. Tapi aku tak tahu menangisi apa. Aku juga ingin menyalahkan siapa, akupun tak tahu. Aku bukan Tuhan, bukan tugasku juga untuk menentukan siapa yang salah dan benar. Seperti harapanku pada semua kotak-kotak hidupku. Aku hanya butuh jawaban. Untuk keduanya bertemu memang yang dibutuhkan hanya waktu.
Kini aku lelah, nus. Aku ingin sendiri di dalam kamarku. Aku kunci diriku untuk semuanya. Aku hanya ingin tertidur pulas. Kemudian ketika aku bangun nanti aku sudah lupa akan semua ini, berharap kekuatanmu sudah kau bagi padaku. Setelah aku lalui banyak jalan, harapan, bahkan hampir terkena pengkhianatan. Entah harus pada siapa lagi aku harus menggantungkan harapan ini. Bisakah aku hidup hanya dengan harapan? Memang yang aku punya hanya harapan, nus. Aku masih percaya kalau semua ada masanya. Mungkin ini hanya fase terberat untuk sampai pada masa itu. Sama seperti hukummu di laut, setelah ada badai pasti ada gelombang tenang dan birunya laut akan kembali indah. Di darat, setelah hujan deras akan ada pelangi, dan aku selalu percaya itu.
Salam hangat,
Agen Neptunus.
"Saya ingin bisa berhenti. Entah itu jawaban atau kesimpulan, tapi saya menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari." -Zarah, PARTIKEL (Dewi Lestari).
Hai, apa kabarmu di laut biru di sana? Pasti indah. Hanya ada birunya laut dan tarian-tarian hewan lautmu yang bersanding dengan arus halus dan gelombang laut. Setelah sekian lama aku ingin bercerita sesuatu padamu lewat surat elektronik yang aku simpan di nyawa keduaku ini, nus. Sekitarku sudah tak mampu lagi menampung segala gundah dan perasaan ini. Aku sadar mereka juga masih punya masalah mereka masing-masing. Tak ingin aku bebankan mereka dengan cerita cengengku ini. Aku harap kau mau membacanya.
Sebenarnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari bagian mana. Ceritanya hanya tentang keadaanku saat ini. Sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal padamu, nus. Pernahkah kau merasa jadi satu tumpuan untuk seseorang atau sesuatu? Tetapi kau belum mampu untuk melakukan itu. Untuk pertanyaan itu aku yakin kau pernah. Rakyatmu di laut sana perlu kekuatanmu untuk mengatur laut agar tetap biru, mengatur semuanya agar gelombang tetap indah dan tidak merusak, mengatur tarian-tarian berjuta rakyatmu di laut sana. Aku belum bisa, nus. Aku belum bisa menjadi tumpuan kedua orang tuaku. Mereka sudah tua. Aku satu-satunya harapan mereka. Entah ini masalah finansial, spiritual, atau hal lainnya. Berikan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati ini. Tuhan kadang seakan tak menjawab apa yang aku pinta. Aku selalu bercerita juga padanya pada sepertiga malam yang terakhir. Aku hanya ingin satu. Satu yang menjadikanku berguna. Ilmuku bermanfaat, membuatku bermanfaat juga untuk orang lain, terutama kedua orang tuaku. Aku tidak pernah mengharap tahta apalagi mahkota. Apa itu sulit?
Aku kini merasa seperti ada pada fase harapan kedua. Setelah harapan pertama sudah terkikis oleh gelombang semangat yang menggebu di awal. Namun belum aku lihat pencerahan dalam harapan kedua ini. Aku mencoba bangkit kembali pada fase ini, mengumpulkan pundi-pundi semangatku untuk melawan segala asap jalanan dan teriknya mentari untuk menjadi bermanfaat. Tak kudapatkan hasil di ujung perjalanan itu. Kadang aku ingin menangis, nus. Tapi aku tak tahu menangisi apa. Aku juga ingin menyalahkan siapa, akupun tak tahu. Aku bukan Tuhan, bukan tugasku juga untuk menentukan siapa yang salah dan benar. Seperti harapanku pada semua kotak-kotak hidupku. Aku hanya butuh jawaban. Untuk keduanya bertemu memang yang dibutuhkan hanya waktu.
Kini aku lelah, nus. Aku ingin sendiri di dalam kamarku. Aku kunci diriku untuk semuanya. Aku hanya ingin tertidur pulas. Kemudian ketika aku bangun nanti aku sudah lupa akan semua ini, berharap kekuatanmu sudah kau bagi padaku. Setelah aku lalui banyak jalan, harapan, bahkan hampir terkena pengkhianatan. Entah harus pada siapa lagi aku harus menggantungkan harapan ini. Bisakah aku hidup hanya dengan harapan? Memang yang aku punya hanya harapan, nus. Aku masih percaya kalau semua ada masanya. Mungkin ini hanya fase terberat untuk sampai pada masa itu. Sama seperti hukummu di laut, setelah ada badai pasti ada gelombang tenang dan birunya laut akan kembali indah. Di darat, setelah hujan deras akan ada pelangi, dan aku selalu percaya itu.
Salam hangat,
Agen Neptunus.
"Saya ingin bisa berhenti. Entah itu jawaban atau kesimpulan, tapi saya menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari." -Zarah, PARTIKEL (Dewi Lestari).
Rabu, 24 September 2014
Depok, 23 September 2014, Malaikat Tanpa Sayap
Pernah melihat malaikat tanpa sayap yang menempel di punggungnya? Saya punya beberapa penawaran untuk membuktikan kalau malaikat tanpa sayap itu ada. Bukti ini nyata, tanpa rekayasa. Saya alami sendiri, saya rasakan sendiri uluran tangannya untuk jiwa saya.
1. Angky Ridayana
Perempuan ini berasal dari bagian tengah pulau Jawa. Jauh-jauh datang ke Depok untuk mengisi cawan kosong ilmunya di Universitas yang dengan bangga membawa nama negara kita tercinta ini, Indonesia. Datang dengan seribu harapan dan asa untuk masa depan yang lebih indah dari hari ini atau kemarin. Aksen ngapak yang selalu ia gunakan untuk memberi kami tawa, membuat kami terhibur. Punya mimpi yang tinggi, memacu juga saya untuk berani bermimpi.
2. Amalia Husna
Perempuan ini lahir di Jakarta. Menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Alim, tetapi berfikiran terbuka. Bisa dikatakan kloningan saya. Beberapa sifatnya ada pada saya, mungkin karena alasan golongan darah kami yang sama, AB. Sosok perempuan islami masa kini, dengan pikiran global yang menjadikannya terlihat pintar dan tidak kolot seperti perempuan islami yang hanya mengharap imam datang untuk hidupnya, kemudian hidupnya aman. Tawanya yang selalu menenangkan kami kalau bahagia itu masih ada dan masih akan bisa kita rasakan esok dan seterusnya.
3. Berlindha Wimbardhani
Perempuan ini yang saya tahu tinggalnya di Tangerang, berasal dari keluarga Jawa, tepatnya Yogyakarta. Ditinggal sang ibu untuk ke surga, hanya mempunyai ayah. Lewatnya, ia meneruskan mimpi saya untuk menulis skripsi. Bangga bercampur bahagia melihat senyumnya yang sumringah ketika ia telah berhasil menyelesaikan skripsinya dan bisa bersanding dengan kami untuk Wisuda UI di Balairung. Perempuan ini memberikan arah untuk saya bisa kuat dalam menjalani hidup, mengejar cita, membuktikan pada dunia kalau kita bisa menaklukannya. Lewatnya pula yang mengajarkan saya bersyukur untuk saya selalu bersyukur masih mempunyai ibu.
4. Novia Rakha
Perempuan ini terlihat seperti orang asli Jakarta. Kebalikan Berlindha Wimbardani, ditinggal sang ayah untuk ke surga, hanya mempunyai ibu. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bersyukur masih memiliki ayah. Sifatnya yang ceplas-ceplos, terbuka, periang menjadikannya saya cinta pada perempuan yang satu ini. Dia tidak suka basa-basi, semuanya ia bicarakan pada orang yang bersangkutan. Sifat ini yang membuat saya merasa aman berteman dengannya. Saya tahu salah saya dan bisa memperbaikinya. Jarang ditemui tipe ini pada masa kini. Periang, bahkan sayapun tak pernah melihat sedikitpun gundah dan duka di air mukanya. Walaupun saya tahu ada gemuruh di hatinya, ia tutup itu semua dengan senyumnya, semangatnya, tawanya. Saya dibuatnya terpukau dengan cerianya sekaligus mengajarkan saya bagaimana bahagia walau kenyataannya tak sama.
5. Retno Herny Rahayu
Perempuan ini berasal dari keluarga Jawa. Sifatnya agak sedikit moody. Suka dengan olahraga, lebih baik disuruh melakukan olahraga ekstrim dibanding masuk ke rumah hantu. Sangat penakut, tidak suka dibentak. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bermimpi, berani bermimpi setinggi yang kita mau. Sangat cinta dengan negara-negara Eropa, khususnya Jerman dan Spanyol. Kalau itu bukan sebuah negara saya yakin dia sudah menaklukkannya dari kemarin. Pekerja keras, apapun pernah ia lakukan dalam linimasa pengalaman kerjanya. Tipikal orang yang memohon kalau waktu satu hari kalau bisa lebih dari 24 jam.
6. Usha Widya Rochmatika
Perempuan ini hampir sama seperti Angky Ridayana. Dia berasal dari Solo, jauh-jauh merantau ke Depok juga untuk menuntut ilmu. Sangat suka olahraga seperti Retno Herny Rahayu. Pembawaannya yang santai mengajarkan saya untuk selalu santai dalam menjalani hidup, jangan tergesa tetapi pasti. Lucky bastard nomor satu di jagat raya, keberuntungannya tidak diragukan lagi. Tempat saya berbagi cerita. Perempuan ini minim akan ekspresi. Sangat sederhana.
Itulah beberapa penawaran saya mengenai malaikat tanpa sayap yang saya tahu. Satu hal yang sama ada pada mereka semua adalah mereka mampu menerima saya apa adanya sebagai teman. Mereka tidak pernah menghakimi saya, menilai saya sebagai produk yang salah. Memberikan hadiah kecil yang sangat berarti ketika saya berulang tahun kemarin pada tanggal 23 September. Seperti keluarga kedua saya, di saat keluarga inti saya hanya memberikan ucapan selamat tanpa bingkisan apalagi lilin untuk ditiup dan memanjatkan doa.
Terima kasih untuk segalanya, selama ini. Barisan kata ini sebenarnya tidak cukup untuk mengungkapkan betapa sempurnanya kalian menjadi salah satu teman terdekat saya. Barisan kata ini juga tidak akan cukup menggambarkan apalagi menuliskan betapa banyak terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan untuk saya. Kalian adalah keluarga kedua, bukan lagi sahabat. Akan saya tempuh banyak cara, akan saya lewati jutaan belokan jalan dengan berbagai medan dan halang rintang, akan saya keluarkan berapa banyak materi yang saya punya hanya untuk kembali pada kalian. Terima kasih telah menjadi teman saya, cinta saya, tawa saya, keringat saya, canda saya, tangis saya, semangat saya, semuanya.
Untukmu,
Angky Ridayana, Amalia Husna, Berlindha Wimbardani, Novia Rakha, Retno Herny Rahayu, Usha Widya Rochmatika. Love! ♥
" 'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you." (John Legend - All of Me)
1. Angky Ridayana
Perempuan ini berasal dari bagian tengah pulau Jawa. Jauh-jauh datang ke Depok untuk mengisi cawan kosong ilmunya di Universitas yang dengan bangga membawa nama negara kita tercinta ini, Indonesia. Datang dengan seribu harapan dan asa untuk masa depan yang lebih indah dari hari ini atau kemarin. Aksen ngapak yang selalu ia gunakan untuk memberi kami tawa, membuat kami terhibur. Punya mimpi yang tinggi, memacu juga saya untuk berani bermimpi.
2. Amalia Husna
Perempuan ini lahir di Jakarta. Menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Alim, tetapi berfikiran terbuka. Bisa dikatakan kloningan saya. Beberapa sifatnya ada pada saya, mungkin karena alasan golongan darah kami yang sama, AB. Sosok perempuan islami masa kini, dengan pikiran global yang menjadikannya terlihat pintar dan tidak kolot seperti perempuan islami yang hanya mengharap imam datang untuk hidupnya, kemudian hidupnya aman. Tawanya yang selalu menenangkan kami kalau bahagia itu masih ada dan masih akan bisa kita rasakan esok dan seterusnya.
3. Berlindha Wimbardhani
Perempuan ini yang saya tahu tinggalnya di Tangerang, berasal dari keluarga Jawa, tepatnya Yogyakarta. Ditinggal sang ibu untuk ke surga, hanya mempunyai ayah. Lewatnya, ia meneruskan mimpi saya untuk menulis skripsi. Bangga bercampur bahagia melihat senyumnya yang sumringah ketika ia telah berhasil menyelesaikan skripsinya dan bisa bersanding dengan kami untuk Wisuda UI di Balairung. Perempuan ini memberikan arah untuk saya bisa kuat dalam menjalani hidup, mengejar cita, membuktikan pada dunia kalau kita bisa menaklukannya. Lewatnya pula yang mengajarkan saya bersyukur untuk saya selalu bersyukur masih mempunyai ibu.
Perempuan ini terlihat seperti orang asli Jakarta. Kebalikan Berlindha Wimbardani, ditinggal sang ayah untuk ke surga, hanya mempunyai ibu. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bersyukur masih memiliki ayah. Sifatnya yang ceplas-ceplos, terbuka, periang menjadikannya saya cinta pada perempuan yang satu ini. Dia tidak suka basa-basi, semuanya ia bicarakan pada orang yang bersangkutan. Sifat ini yang membuat saya merasa aman berteman dengannya. Saya tahu salah saya dan bisa memperbaikinya. Jarang ditemui tipe ini pada masa kini. Periang, bahkan sayapun tak pernah melihat sedikitpun gundah dan duka di air mukanya. Walaupun saya tahu ada gemuruh di hatinya, ia tutup itu semua dengan senyumnya, semangatnya, tawanya. Saya dibuatnya terpukau dengan cerianya sekaligus mengajarkan saya bagaimana bahagia walau kenyataannya tak sama.
Perempuan ini berasal dari keluarga Jawa. Sifatnya agak sedikit moody. Suka dengan olahraga, lebih baik disuruh melakukan olahraga ekstrim dibanding masuk ke rumah hantu. Sangat penakut, tidak suka dibentak. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bermimpi, berani bermimpi setinggi yang kita mau. Sangat cinta dengan negara-negara Eropa, khususnya Jerman dan Spanyol. Kalau itu bukan sebuah negara saya yakin dia sudah menaklukkannya dari kemarin. Pekerja keras, apapun pernah ia lakukan dalam linimasa pengalaman kerjanya. Tipikal orang yang memohon kalau waktu satu hari kalau bisa lebih dari 24 jam.
6. Usha Widya Rochmatika
Perempuan ini hampir sama seperti Angky Ridayana. Dia berasal dari Solo, jauh-jauh merantau ke Depok juga untuk menuntut ilmu. Sangat suka olahraga seperti Retno Herny Rahayu. Pembawaannya yang santai mengajarkan saya untuk selalu santai dalam menjalani hidup, jangan tergesa tetapi pasti. Lucky bastard nomor satu di jagat raya, keberuntungannya tidak diragukan lagi. Tempat saya berbagi cerita. Perempuan ini minim akan ekspresi. Sangat sederhana.
Itulah beberapa penawaran saya mengenai malaikat tanpa sayap yang saya tahu. Satu hal yang sama ada pada mereka semua adalah mereka mampu menerima saya apa adanya sebagai teman. Mereka tidak pernah menghakimi saya, menilai saya sebagai produk yang salah. Memberikan hadiah kecil yang sangat berarti ketika saya berulang tahun kemarin pada tanggal 23 September. Seperti keluarga kedua saya, di saat keluarga inti saya hanya memberikan ucapan selamat tanpa bingkisan apalagi lilin untuk ditiup dan memanjatkan doa.
Terima kasih untuk segalanya, selama ini. Barisan kata ini sebenarnya tidak cukup untuk mengungkapkan betapa sempurnanya kalian menjadi salah satu teman terdekat saya. Barisan kata ini juga tidak akan cukup menggambarkan apalagi menuliskan betapa banyak terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan untuk saya. Kalian adalah keluarga kedua, bukan lagi sahabat. Akan saya tempuh banyak cara, akan saya lewati jutaan belokan jalan dengan berbagai medan dan halang rintang, akan saya keluarkan berapa banyak materi yang saya punya hanya untuk kembali pada kalian. Terima kasih telah menjadi teman saya, cinta saya, tawa saya, keringat saya, canda saya, tangis saya, semangat saya, semuanya.
Untukmu,
Angky Ridayana, Amalia Husna, Berlindha Wimbardani, Novia Rakha, Retno Herny Rahayu, Usha Widya Rochmatika. Love! ♥
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you." (John Legend - All of Me)
Selasa, 12 Agustus 2014
Bagaimana mencintaimu?
Bagaimana aku menunggu kehadiranmu?
Tanyakan saja pada bulan yang menanti fajar atau pada fajar yang menanti malam untuk silih berganti menjaga hari.
Atau tanyakan saja pada bintang di malam hari yang selalu mengharapkan kedatangan sinar matahari untuk dipantulkan dan menjadikannya ada.
Seperti itulah aku menunggumu.
Bagaimana aku mencintaimu kemudian?
Tanyakan saja pada lebah yang menghisap nektar bunga setiap pagi. Nektar yang menjadikannya hidup atau membuahkan sesuatu yang baru, yang disebut madu yang manis.
Atau tanyakan pada bunga matahari yang selalu menghadap arah datangnya sang fajar hanya untuk meyakinkan bahwa sinar tersebut selalu datang untuk menemani hidupnya.
Seperti itulah aku mencintaimu.
Teruntukmu, rupawan yang tak ku ketahui siapa.
(ditulis pada hari Rabu senja, 6 Agustus 2014 setelah menulis perbaikan jurnal)
Tanyakan saja pada bulan yang menanti fajar atau pada fajar yang menanti malam untuk silih berganti menjaga hari.
Atau tanyakan saja pada bintang di malam hari yang selalu mengharapkan kedatangan sinar matahari untuk dipantulkan dan menjadikannya ada.
Seperti itulah aku menunggumu.
Bagaimana aku mencintaimu kemudian?
Tanyakan saja pada lebah yang menghisap nektar bunga setiap pagi. Nektar yang menjadikannya hidup atau membuahkan sesuatu yang baru, yang disebut madu yang manis.
Atau tanyakan pada bunga matahari yang selalu menghadap arah datangnya sang fajar hanya untuk meyakinkan bahwa sinar tersebut selalu datang untuk menemani hidupnya.
Seperti itulah aku mencintaimu.
Teruntukmu, rupawan yang tak ku ketahui siapa.
(ditulis pada hari Rabu senja, 6 Agustus 2014 setelah menulis perbaikan jurnal)
Selasa, 10 Juni 2014
?
Kata orang atau kitab kita diciptakan berpasang-pasangan. Adam dan Hawa. Kodrat adam jatuh cinta pada hawa dan sebaliknya seperti seharusnya pada semua diktat hukum yang ada di muka bumi ini. Bisa jelaskan pada saya pada sebuah cinta adam dengan adam lainnya? Atau hawa dengan hawa lainnya?
Jelaskan juga pada saya tentang mereka di belahan dunia lain yang menemukan pasangannya, bukan adam dengan hawa. Adam dengan adam, hawa dengan hawa. Apa mereka memang diciptakan untuk berpasangan seperti janji itu? Mereka juga ciptaan-Nya. Cinta itu juga ciptaan-Nya. Saya pun ciptaan-Nya. Bantu saya untuk menjawab semua pertanyaan yang sekilas bergumul dalam pikiran saya ketika melihat adam ciptaannya yang begitu menyilaukan dalam kilatan cahayanya berhadapan dengan wajahku.
Kalau memang jawabannya, iya. Saya juga mau. Saya tidak minta hal yang rumit, seperti cinta berukiran rumit. Saya minta yang sederhana. Seorang adam yang diciptakan untuk saya. Adam yang selalu ada di setiap saya membuka mata untuk menantang mentari. Seorang yang katanya adalah sepenggal tulang rusuk saya, saya mau datang darinya, bukan dari hawa. Saya hanya ingin satu, bukan seribu. Satu yang ada di belahan dunia ini, tak usah menyebrang ke belahan lainnya. Mau berbagi separuh hidupnya denganku. Hidupnya, sehatnya, dan sakitnya yang juga akan menjadi bagian dari saya. Satu yang siap menantang semua yang menghadang dengan kapalnya, saya yang akan jadi awaknya. Melawan semuanya. Adakah satu untuk saya?
Wahai kalian penilai hati dan hakim atas kaumnya sendiri, jika kau nilai ini sebagai pemberontakan dan penyalahan kodrat dari segala rentetan hukum yang ada silahkan tutup saja laman ini. Ini bukan permohonan, bukan pula provokasi ataupun persuasif terhadap kaum yang masih dianggap tabu di belahan dunia ini, tidak seperti di belahan dunia lain. Kaum ini justru dirayakan, dinilai dan dihargai seperti layaknya aku, kau, mereka, dan kalian yang sama-sama manusia. Ini hanya sebuah tulisan ungkapan pikiran yang bergumul pada otak seorang adam yang mencintai adam. Bukan untuk dihujat atau dikasihani tapi butuh dibantu untuk bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tanpa ujung.
Jelaskan juga pada saya tentang mereka di belahan dunia lain yang menemukan pasangannya, bukan adam dengan hawa. Adam dengan adam, hawa dengan hawa. Apa mereka memang diciptakan untuk berpasangan seperti janji itu? Mereka juga ciptaan-Nya. Cinta itu juga ciptaan-Nya. Saya pun ciptaan-Nya. Bantu saya untuk menjawab semua pertanyaan yang sekilas bergumul dalam pikiran saya ketika melihat adam ciptaannya yang begitu menyilaukan dalam kilatan cahayanya berhadapan dengan wajahku.
Kalau memang jawabannya, iya. Saya juga mau. Saya tidak minta hal yang rumit, seperti cinta berukiran rumit. Saya minta yang sederhana. Seorang adam yang diciptakan untuk saya. Adam yang selalu ada di setiap saya membuka mata untuk menantang mentari. Seorang yang katanya adalah sepenggal tulang rusuk saya, saya mau datang darinya, bukan dari hawa. Saya hanya ingin satu, bukan seribu. Satu yang ada di belahan dunia ini, tak usah menyebrang ke belahan lainnya. Mau berbagi separuh hidupnya denganku. Hidupnya, sehatnya, dan sakitnya yang juga akan menjadi bagian dari saya. Satu yang siap menantang semua yang menghadang dengan kapalnya, saya yang akan jadi awaknya. Melawan semuanya. Adakah satu untuk saya?
Wahai kalian penilai hati dan hakim atas kaumnya sendiri, jika kau nilai ini sebagai pemberontakan dan penyalahan kodrat dari segala rentetan hukum yang ada silahkan tutup saja laman ini. Ini bukan permohonan, bukan pula provokasi ataupun persuasif terhadap kaum yang masih dianggap tabu di belahan dunia ini, tidak seperti di belahan dunia lain. Kaum ini justru dirayakan, dinilai dan dihargai seperti layaknya aku, kau, mereka, dan kalian yang sama-sama manusia. Ini hanya sebuah tulisan ungkapan pikiran yang bergumul pada otak seorang adam yang mencintai adam. Bukan untuk dihujat atau dikasihani tapi butuh dibantu untuk bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tanpa ujung.
Langganan:
Postingan (Atom)







