Sabtu, 11 November 2017

Kebumen: 460 km dari Jakarta

Di penghujung kemarau musim ini, ku antarkan raga dan fisikku pada salah satu kota kecil di pulau ini. Perjalanan ini tak semudah seperti sebelumnya, dihiasi oleh berbagai momok dan berbagai pertikaian hebat untuk sampai pada tiba waktunya. Sepekan sebelum kulangkahkan kaki untuk pergi ke kota dengan jarak sejauh 460 km dari pusat ibukota negara ini. Banyak rasa yang berkecamuk dalam dada ini. Ketakutan tentang wajah sang ibu yang harus terbaring lemah di rumah sakit. Menahan air mata untuk tidak jatuh dihadapannya sembari menahan betapa aku sangat butuh peluk dan uluran tangannya untuk menemaniku di saat sulit ini. Merasa seperti air mata ini yang hanya sanggup meluapkan segala rasa di hati saat ini. Perjalanan tentang penghujung kemarauku segersang itu, sesepi pohon dengan ranting kering menggugurkan daun yang terbakar matahari. Rasanya aku ingin sudahi segala rasa ini, merasa bahwa kau tak pernah ada dalam setiap kisah ini. Rasanya ingin ku selesaikan saja perjalanan yang sudah tinggal kujalani beberapa hari lagi. Sore itu jawaban tentang cerita kemarau ini dimulai, jadwal operasi ibuku ditunda karena tekanan darahnya yang tidak bisa stabil dan dokterpun tak sanggup mengambil langkah lanjutan untuk memberikan tindakan pada ibuku. Ku raih smartphone ku untuk memberi kabar ini, entah kabar baik atau buruk. Menurutku memang sudah jalannya untuk aku tetap menjalani perjalanan di ujung kemarau ini. Sebelum sore pada harinya aku tuntaskan dahulu tanggung jawabku terhadap sang ibu, menemaninya mengunjungi dokter, mengkuatkannya, serta menuntunnya langkah demi langkah untuk membuatnya semangat melewati masa sulit ini. Memberi kalimat-kalimat tentang kekuatan untuk melawan penyakitnya, sampai kapanpun jangan pernah kalah dengan penyakit itu. Setelah mentari perlahan turun di ufuk barat untuk bergantian dengan bulan menemani sang bumi, ku kuatkan tekad untuk menemui pujaanku di sana. Seteguh turunnya mentari ku hampiri pula pujaan yang akan menemaniku beberapa hari ke depan. Dekapnya yang aku rindukan, uluran tangannya yang mampu membendung air mata dan menguatkanku melewati kemarau yang tak mudah ini. Sore ini rinai hujan pun turun mengantarkan awal perjalanan ini ke sebuah stasiun di bilangan Jakarta Pusat. Ku tengok di jendela mobil yang basah dengan air hujan seakan menggambarkan gemuruh hatiku menyambut perjalanan ini yang sebelumnya sudah diujung kegagalan. Sore itu bertepatan dengan Tahun Baru Islam dihiasi dengan arak-arakan obor khas satu syura. Setelah sampai stasiun ku lanjutkan perjalanan ini dengan menaiki kereta untuk sampai pada kota kecil bernama kebumen itu. Di dalam kereta, hanya wajahnya yang ku amati. Lelahnya untuk membuat aku kuat, bahagia. Perjuangannya seketika terlintas dalam air muka itu. Tak terasa tengah malam sudah datang dengan gelap dan sunyinya di luar kereta sana, hanya suara roda kereta yang beradu dengan besi baja rel saja yang berjuang untuk kereta ini sampai dari satu kota ke kota lainnya. Ku sandarkan kepalaku di bahunya. Bahu tempatku rehat sejenak untuk beristirahat dengan perkara-perkara yang tak mudah belakangan ini sampai pada kota yang akan membawa cerita baru di ujung kemarau ini. Belum genap cahaya mentari memaparkan senyumnya di langit bumi, sampailah aku di kota kecil ini. Dengan kata lain, tepat pada bada subuh dan disambut dengan merdunya suara adzan dari surau khas pulau jawa. Terasa syahdu di telinga, ingin ku peluk dirinya yang kunikmati parasnya bersama suara adzan subuh ini. Pagi ini semua pertanyaan tentang keraguan itu terasa sirna seperti tertinggal bersama krikil krikil rel kereta yang mengantarkanku sampai sini. Aku siap untuk berpetualang denganmu, jauh dari rumah, jauh dari keluarga. Aku siap untuk menghabisi tawa, peluh, lelah dan memori kamera dengan senyum dah tawa kecil kita di kota ini. Kuhabiskan waktuku di kota kecil milik orang ini dengan mengunjungi situs sejarah yang megah di masanya, ku telusuri puluhan kilometer jalan-jalan kota ini menuju pada beberapa bibir pantai bertemu dengan bentuk air yang lain yang membuat hati terasa tenang, selain rinai hujan malam itu. Sembari berdoa ditengah gemuruh semangat gelombang ombak yang seakan bernyanyi dan berlarian mengejar daratan berpasir yang aku pijak kini. Seperti semangat sang ombak, seperti itulah juga seketika aku kelu melihat begitu banyak perjuanganmu untuk membuat aku bahagia. Deburan yang seketika merefleksikan betapa buihnyapun menggambarkan apa yang selama ini kau lakukan hanya untukku, yang tak pernah kusadari adanya. Perjuangan tentang orang-orang yang selalu berjuang untukku, bukan tentang kau saja yang kini berjalan beriringan di sampingku di tepi pantai ini. Tentang ibu yang sedang berjuang sendiri dengan rasa sakitnya, tentang kakak yang mungkin harus kuat melihatku tidak sesempurna dulu. Tentang aku yang tak sempurna harus bersanding di sampingmu yang maha lebih dariku. Perjalanan untuk menuju ke pantai yang tak mudah, banyak krikil krikil, jalan rusak dan tanjakan curam seketika terbayar ketika aku melihat ombak itu, ketika aku mendengar deru ombak yang seakan menyambutku riuh. Belum lagi angin kemarau yang membuat hitam kulit. Angin yang seolah menarikan tarian selamat datang dan mengajakku ikut menari ketika menyentuh kulitku. Ku lihat dan ku amati semua dari gerbang bibir pantai ini. Kota ini mengajariku banyak hal dalam perjalanan kemarau ini. Bukan hanya mentari musim ini yang membuat mataku terasa hangat. Begitu banyak cerita juga membuat mata terasa hangat dan tak jarang membuatku meneteskan air mata untuk sampai pada perjalanan detik ini. Membuatku tersadar satu hal bahwa tugas kita di sini adalah menguatkan satu sama lain. Wahai kalian, ibu, kakak, dan kau yang tanpa sadar telah memberikan aku hidup saat ini, memberikan tenaga untuk aku berjuang melawan semua sakit dan lukaku kemarin. Terima kasih telah melengkapi hidupku yang rapuh dan kurang sana sini. Terima kasih telah membuatku utuh sekaligus bahagia yang tak terdera. Menjadikan aku bermakna dan bisa berdiri tegak sampai waktu ini. Aku cinta kalian, tetap sehat dan kuat untuk tetap menuntun aku yang sebenarnya rapuh ini. Tak akan habis berjuta kata untuk menggambarkan lengkapnya hidupku dengan kalian. Sampai aku kembali ke kotaku, satu hal yang ingin aku bawa pulang. Aku merasa sudah lengkap dengan menemukan jawaban atas segala pertanyaan pertanyaanku.

Selasa, 16 Agustus 2016

Kota Apel

Siang itu ketika ku bergegas meminta izin dengan atasanku untuk meninggalkan kantor setengah hari dan dua hari ke depan, ada kegembiraan yang hadir mengiringi langkah kakiku. Dengan semangat bagai matahari yang menyorot lantai 23 di sebuah gedung perkantoran di jantung ibukota ini, ada aku dengan semangat untuk menghampiri cintaku diujung jalan sana, di sebuah stasiun megah di ibukota ini. Sengaja aku mulai bergegas dari siang karena aku tak ingin terlewatkan momen ini walau hanya sedetik, walaupun jadwal keretaku akan berangkat beretepatan dengan rehatnya matahari membakar hari ini.

Setelah terbakar matahari di jalan, aku sampai di sebuah gedung tempat ular-ular besi itu menumpahkan muatannya atau memasukkan muatannya. Aku memilih menunggu di sudut ruang tunggu stasiun ini, sendiri. Melihat orang lalu lalang dengan semangat dan air muka bahagia mengunjungi pusat ibukota negara ini. Aku menemukan kebahagiaan lain, aku akan melewati tiga hari ke depan dengan seseorang yang istimewa. Seketika terputar semua yang telah dia lakukan untuk kebahagiaanku. Jungkir balik melakukan apapun untuk membahagiakanku. Orang yang tak pernah lelah meyakinkanku bahwa cintanya nyata, walau kadang selalu kuragukan jika ku bangun dari mimpi indah yang nyata ini.

Di kota kecil sejuk di Jawa Timur ini, di kota dimana apel berbuah segar aku menemukan satu rentang waktu dimana aku bisa puas melihat senyumnya, mengamati sorot matanya, bahkan menikmati peluknya. Dengan pemandangan Gunung Panderman yang hijau, aku bahagia bersamamu, aku jatuh cinta kembali kepadamu, entah untuk yang ke berapa kalinya. Ditengah alun-alun kota wisata Batu malam hari dan ramai akau merasakan bagaimana hangatnya tangan menggenggam tanganku dan hangatnya bibirmu mencium keningku. Pelukmu yang tiap malam mengantarkanku pada nyaman dan akhirnya kita terlelap melahap malam. Tak akan aku ceritakan detil bagaimana perjalanan ini memberikan bahagia yang tak terdera untukku. Tiga hari yang memberikan ku makna untuk selalu bahagia dan bersyukur memilikinya.

Kita harus kembali pulang, rentang waktu itu sudah kita simpan dalam potret-potret kita kemarin. Sudah kita simpan pula dalam memori kita. Memori-memori indah yang mengantarkan kita kembali pulang. Aku masih bisa melihat teduh wajahnya ketia ia terlelap. Wajah yang selelau berusaha keras jungkir balik untuk membuatku bahagia. Terima kasih yang bisa aku ucapkan, sembari berdoa semoga kita selalu bahagia bersama walau banyak tembok dan gunung yang menghalangi matahari terbit kita. Jangan pernah berkurang apalagi berhenti mencintaiku. Aku sayang padanya dan biarkan kenangan kota kecil Malang ini yang menjadi saksi bagaimana perjuanganmu untuk membahagiakanku sampai pada tahap sukses.

Malang, terima kasih untuk kesejukanmu menghiasi tiga hari kami. Kamu, terima kasih untuk segalanya. Dari aku yang cintaimu yang akan selalu cinta.

Canda

“Koh, minta angpaonya dong? Kan hari ini hari imlek”, seruku dengan nada antusias. “Kewajiban ngasih angpao itu cuma buat yang udah nikah aja. Aku kan masih single.” ,jawabnya dengan santai. “Trus gimana dong?”, tanyaku merajuk. “Ya udah tunggu aja aku kalau udah nikah. Hehe.” Hening. 

Malam ini yang masih dihiasi dengan rinai hujan sisa derasnya menjelang adzan maghrib tadi. Sebuah latar syahdu dimana kau menyajikan semua canda yang gembira, setidaknya untukmu. Candamu perih disini, membuatku kelu di ulu hati, tercekat seperti ingin mati.

Ada satu hal yang tak akan kau mengerti sampai kapanpun, tentang aku dan tentang perasaan ini. Sama halnya seperti ungkapan untuk mencintaimu sekadarnya. Semua tidak semudah itu. Hal yang tidak akan kau mengerti karena kau bukan aku. Memintamu mengerti tentang ini semua adalah tindakan jahat yang sama dengan meminta hidupku hanya untukku. Setidaknya kau mengerti resah ini, bukan untuk kau pahami.

Ada bayang yang sebenarnya aku lupakan sejenak, aku tutupi dengan kain hitam agar dia tidak menakutiku dan menggertakku dengan hingar bingarnya. Bayang dimana aku akan ada pada hari dimana tugas kita untuk menjalani kidung cinta ini sudah selesai. Berakhir atas nama takdir. Bukan karena ada yang menyakiti satu sama lain. Tugasku untuk ada di sampingmu memang sudah habis. Masaku untukmu cukup sampai di sini. Andai saja waktu berkata lain, ah sudahlah sama seperti candamu yang kelu untuk jadi candu.

Spasi

Sore ini dihiasi dengan rinai air langit. Kini rinainya hanya sebesar gerimis. Seorang mahasiswi muda masih terjebak pada sebuah halte bus. Menunggu bus yang akan mengantar ke sebuah stasiun kereta komuter ke arah Tanah Abang. Ia baru saja menelan berbagai ilmu di kelas tadi. Terlihat dari sisi-sisi wajahnya, ia adalah seorang yang terpelajar. Sekarang pukul 17.00 dan artinya di stasiun Sudirman ia akan kembali berperang dengan penumpang yang selesai mencari uang dalam sendi-sendi ekonomi kota ini. Ia senang melihat sosok mereka, apalagi dengan sosok berbadan tegap memakai kemeja kerja, celana bahan dan sepatu kerja yang mengkilap.

Ketika kereta tiba ia bergegas untuk mendapatkannya. Kereta ini belum sepadatnya rumornya kereta komuter yang sering didengar. Mahasiswi itu masih bisa mengamati bagaimana orang-orang di sini menghabiskan waktunya hingga stasiun tujuannya. Ketika kereta sampai di stasiun Sudirman, ada pemandangan lucu sebenarnya, apalagi ketika pintu otamatis itu terbuka akan ada beberapa orang berlarian seperti peserta Benteng Takeshi di era 90an. Ia melihat pemandangan lain saat itu. Ia melihat sosok yang selama ini sering berkutat dalam fikiran kosongnya. Sosok itu berbadan tegap dengan kemeja kerja, celana bahan dan sepatu mengkilapnya. Ia silau dibuatnya, bukan karena kilap sepatunya. Mungkin seperti ini gambaran Hawa ketika pertama kali melihat Adam. Siapa namanya?

Ada jarak antara ia dan idamannya. Jarak yang membuatnya bisa mengagumi dari sini tanpa ketahuan siapapun dalam kereta ini. Ia sadar kini mereka berbahasa. Ia berbahasa dengan bahasanya, dan rupawan itu dengan bahasanya. Seperti langit dan bumi, mereka terpisah untuk memberikan ruang untuk hidup. Sama seperti kata, mereka membutuhkan spasi agar indah dan bisa dibaca. Mereka terpisah tapi justru indah. Tapi mereka tak begitu.

Perempuan itu dalam jarak ini ingin seperti spasi dalam kata, memberi celah tapi tak memisah. Biarkan saja tetap seperti ini, dalam lubuk hatinya ia tidak ingin memilikinya, ia hanya ingin menikmati rupawan itu disini. Menjadi hiburan tersendiri dalam padatnya kereta ini dari tempatnya kini berdiri. Jika nanti perempuan itu atau rupawannya yang terlebih dahulu melangkahkan kaki dari rangkaian kereta ini. Akan ada spasi dengan jarak yang lebih besar lagi dari spasi yang ada dalam ruang kereta ini. Spasi yang tak berujung. Memisahkan jarak kekekaguman tak terkatakan.

Perempuan Tua dan Kucing Kecil

Pagi ini dengan mentari yang masih mengintip di ufuk timurnya, aku hendak bersiap untuk menuju rumah keduaku untuk menjajakan karyaku disana, menjadikan aku berguna untuk orang lain. Muluk-muluknya berguna untuk negeri. Di teras mungil depan rumahku, ketika aku mulai mengeluarkan sepeda motorku dan menggugahnya dari dingin malam untuk menemaniku berjalan hari ini. Sementara itu, aku lihat seorang perempuan tua dengan seekor kucing kecil yang datang entah darimana di pangkuannya. Kucing kecil itu pulas nyaman tertidur dengan belaian tangan perempuan itu. Aku berfikir bahwa kucing itu merasakan butiran-butiran kasih sayang dari tangannya. Aku mengamatinya lewat muka kucing itu.

Seketika sebuah layar membentang di alam fikirku. Dilayar itu muncul seorang perempuan tua dengan kerutan halus hasil waktu yang bergulir. Kulihat pangkuannya tempat aku dulu menangis padanya, kulihat tangannya yang juga sarat dengan kerutan yang dulu pernah menimangku dahulu. Perempuan itu sudah tak muda lagi, seketika terputar semua tawa, tangis, celoteh pada waktu dulu hingga kini. Perjuangannya untuk memberikan segala tetek bengek yang aku telan hingga kini, apapun itu yang tak bisa aku jelaskan disini. Ku kira tak ada nominal yang dapat menggambarkannya. Layar ini mengingatkan aku pada satu perempuan yang pernah menimangku, membelaiku lembut seperti ia membelai kucing kecil itu.

Layarku tertutup, akupun kembali tersadar aku harus bergegas sekarang. Aku harus mencari beberapa keping-keping koin emas untuk membuat senyumnya tetap berada di ujung bibirnya. Hutangku tak akan pernah terbalas oleh jutaan atau bahkan milyaran koin emas yang aku dapatkan. Jika saja ada beberapa tambahan waktu, aku ingin seperti kucing kecil itu. Aku ingin menyandarkan kepalaku di sana, menangisi dunia yang membuatku sedih atau sekadar membagi tawa dengan indah dunia di sisi lain. Aku ingin merasakan kembali belaian tangannya lagi. Perempuan yang tak lagi muda, namun aku selalu cinta dan ingin senyumnya tak lenyap pada ujung bibirnya. Perempuan yang budinya takkan pernah bisa dibalaskan. Perempuan itulah yang selama ini saya sebut ibu.

Rabu, 06 Januari 2016

Mencintaimu Sekadarnya

“Jangan berlebihan. Kalau mencintai orang itu sekadarnya, kayak aku sayang sama kamu sesuai porsinya.” 
(dikirim melalui aplikasi Whatsapp, dari seorang yang bertahta kini di hatiku) 

Sore ini hujan sepertinya sedang menuangkan amarahnya pada bumi. Digempurnya bumi dengan butirannya yang sebesar biji jagung yang cukup perih jika terkena kulit muka. Selepas jam sibuk di kantor, aku sempatkan untuk mampir di warung kopi era abad 21 di salah satu pusat perbelanjaan yang mewabah seperti virus di kota ini. Warung kopi yang menjadi salah satu lambang bonafid kota ini. Tak jauh beda dengan warung kopi abad 19 dulu, hanya saja menu kopinya berasal dari seberang dengan menu camilan pisang goreng dengan berbagai macam variasi. Aku masih memilih tempat duduk favoritku, dekat jendela menyaksikan orang-orang itu menghamburkan uang mereka di balik kaca tempatku berada. Sambil menikmati kopiku, tak kusentuh sedikitpun smartphone tempat kita meneguk rindu itu, menikmati waktu menggerogoti kita, tempat ku menarikan jemariku untuk membalas jutaan pesanmu. Aku rela mengeluarkan uangku hanya untuk menikmati segelas kopiku saja, bukan untuk menikmati jaringan internet tanpa kabel yang sangat memuaskan di warung kopi ini.

Teringat aku pada sebuah kalimat yang kau tulis untukku. Bagaimana caraku untuk mencintaimu sekadarnya? Jika yang aku tahu hanya mencintai dengan setulus hati. Bagaimana aku tahu seberapa banyak porsi yang pantas dalam mencintaimu? Jika yang aku tahu mencintaimu seperti bebas mengambil berbagai macam makanan sampai perut meledak dalam restoran berlabel all you can eat. Jika saja mencintaimu seperti membuat masakan, akan aku tumpahkan semua garam yang aku punya untuk membuatmu menjadi berasa. Takkan cukup kata sekadarnya untuk menyatakan cintaku untukmu saat ini.

Dalam keresahan yang sama, keresahan yang membuatmu ingin teriak atau mungkin menangis. Aku merasakan hal yang sama. Tak kau ucapkan cerita itu dari bibirmu yang ingin aku cumbui setiap detiknya. Aku memang tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan, jangan kira aku tak bisa merasakannya. Jika saja waktu dan ruang ini berpihak pada kita, aku ingin memelukmu erat dan membisikan di telingamu bahwa aku ada di sini untukmu, aku merasakannya. Jika kau ingin membasahi bahuku dengan airmatamu, lakukanlah. Aku milikmu sepenuhnya sekarang. Andai kau tahu itu semua. Semua yang tak mampu aku katakan karena matamu yang menahan ini semua dalam keresahan.

Di balik resahmu, ada aku yang juga memiliki keresahan lain. Aku tak cukup hati untuk menambah resahmu dengan resahku. Aku hanya ingin pelukmu, dekapmu, ciummu mendarat di keningku. Aku hanya ingin membagi resah ini denganmu, lewat dekapan yang seakan mengirimkan resahku menjadi terbagi denganmu. Biarkan dua resah yang melanda kita menjadi bahagia atau menjadi yang lain. Entah apa namanya.

Kuteguk kopiku untuk yang terakhir kali. Aku bergegas pergi dari warung kopi ini. Tak bisa aku merenungkan kalimatmu di tempat ini. Tak kutemukan jawaban atas makna kalimatmu. Ku lanjutkan lagi pencarian makna kalimat itu dalam perjalananku ke rumah. Di atas motor bebekku, masih merenungkan hal yang sama, memikirkan hal sedari tadi aku cari artinya. Ditemani daftar putar lagu dari smartphoneku yang sudah kusiapkan juga di warung kopi tadi. Memikirkan ini menjadi aku kembali berimajinasi. Imajinasi ini seharusnya tak akan dalam fikirku, tak ada korelasinya dengan apa yang ingin aku cari jawabnya. Imaji yang membawaku bagaimana kau pernah berbagi tawa dengannya, cerita yang pernah indah pada masanya. Dekapmu tempat ternyamanku yang mungkin pernah menjadi tempat ternyamannya juga dulu. Tak terasa mataku panas dibuatnya, bukan karena asap debu jalanan kota ini. Sekarang sudah malam, mungkin debu itu sudah terbawa angin yang malam ini memang cukup dingin setelah diguyur hujan. Aku menangis seperti anak kecil dengan membawa sepeda motorku seperti anak kecil pulang bermain yang telah dijahili temannya sewaktu bermain tadi sore.

Sampai aku dirumah, sampai cerita ini tumpah dalam komputer lipatku aku masih belum menemukan jawabnya. Jika ada cara membuat aku mengerti tentang kalimatmu, mari dekatkan pada wajahku.

Pada intinya, aku mencintaimu dengan setulus hati, bukan sekadarnya. Andai saja kau mengerti.

Selasa, 23 Juni 2015

Surat Kecil

Untukmu, SPC Group
Menjadi bagian dalam dirimu sebenarnya adalah mimpi terbesarku saat ini. Ku jadikan sebagai salah satu pencapaian kecil dalam hidup. Sampai saat ini masih belum bisa dijelaskan betapa bersoraknya hati bisa berada di sini. Sebenarnya tak pernah kuketahui apa yang akan ada di hadapanku nanti, apa yang akan aku hasilkan dengan tarian jemariku diatas papan kunci komputer, akan ada bentuk barisan kata-kata yang akan aku coretkan dalam bertumpuk-tumpuk kertas putih itu. Dengan kebulatan tekad dan segala tetes peluh keringat yang mengantarkan aku sampai di sini. Aku ingin belajar mengenalmu lebih jauh.

Aku jatuh cinta pada tempat ini, tempat yang selalu aku pandangi ketika melihat lambang emas cairnya ada di penjuru tepi jalan raya terik ibukota ini. Emas cair yang selalu menyilaukan mata, dibuat terpesona dengan tulisan berjumlah tujuh huruf kecil yang rendah hati dengan latar biru tua sebagai simbol kenyamanan. Dulunya aku hanya bisa melihatnya sambil tersenyum, lalu berkata dalam hati ‘Aku ingin menjadi bagiannya suatu saat nanti’. 

Ketika ada saatnya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku ikuti setiap tahapnya dengan segala daya dan upaya. Kunantikan kabarnya dalam setiap tahapnya dengan setia bak menunggu sepucuk surat cinta atau sebaris kabar burung merpati dari seorang kekasih. Mengapa aku bilang seperti kabar dari seorang kekasih? Karena setelah mendapat kabar darinya aku akan tersenyum sendiri dan membayangkan apa yang akan aku dapatkan di kemudian hari nanti. Hariku akan diselimuti oleh awan biru nan cerah yang akan membuat berseri terus menerus walau senja datang mengantar malam siap menggantikan siang.

Hari itu tepat pada tanggal 13 April 2015. Sebuah panggilan di layar telepon genggamku yang menjadi jawab atas segala mimpi. Sebuah panggilan untuk awal jalan yang aku inginkan. Selain terik yang menghiasi hari itu, aku dapatkan jawaban atas mimpi siang terik kelas pinggir jalanku itu. Pada saat yang sama aku ambruk dalam peluk ibuku, tak henti air mata membanjiri kelopak mata. Kedua, kulakukan hal sama pada ayahku. Kuucapkan terima kasih yang sulit sekali aku hitung berapa banyaknya tenaga, keringat, tawa, dan tangis mereka mengantarkan aku sampai pada detik ini. Kuucapkan terima kasih atas segala detil perjuangan mereka untuk bisa menghadiahkan aku pendidikan yang cukup untuk bekalku memenangkan engkau. Segala perjuangan yang dalam seribu malam takkan cukup untuk menjabarkannya pada beberapa bundel kertas. Selanjutnya aku berterima kasih pada semesta, pada Tuhanku atas segala yang telah diberikan saat ini. Menjawab segala apa yang aku minta dalam doaku, dalam doa sepertiga malam yang terakhir.

Teruntukmu SPC Group, terima kasih telah menjadikanku bagian dalam dirimu. Dengan berbagai semarak dan meriahnya hati, aku siap untuk berkarya dalam setiap sendi-sendi kegiatanmu. Aku siap untuk menjadi satuan terkecil untukmu, untuk menjadi penjaja karyamu. Aku ingin menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti. Dengan segala pasi dan dedikasi, izinkan aku berbuat yang terbaik untukmu. Untuk hatiku, orangtuaku, bank ini, dan negeriku. Spirit memakmurkan negeri dengan sikap proaktif dan disiplin!

“Aku bagian terkecil darimu, izinkan aku menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti.” 

Dari satuan terkecil darimu.
Setiyo Prutanto

Minggu, 08 Februari 2015

Gerbang, Kau, dan Waktu



Pada saat ini kau antar aku pada satu gerbang dimana segalanya terasa ada. Gerbang dimana segalanya terasa percaya, indah, megah. Kau genggam tanganku dan kau giring aku dalam jurang yang aku buat sendiri. Kau antar aku melewati tangga menuju dasar jurang itu. Mengantarkan aku hingga aku ingin berteriak, menangis, bahkan tertawa hangat. Menjadikanku seketika tak mengerti apa arti air mata ini. Kau juga yang mengenalkan aku mencintai dengan megahnya, untuk pertama kalinya aku bisa menumpahkan luapan air mataku di depan seseorang yang kini esa di hatiku.

Kau kenalkan aku pada cinta yang dulu pernah mati. Menghidupkan ku kembali bagai kau meniupkan kembali roh dalam tubuhku yang selama ini tertutup kabut. Kau menghujaniku segala yang pernah hilang dulu. Rindu yang kini menhujani tubuhku dengan ributnya. Asmara kita yang meledak-ledak bagai letusan gunung berapi. Lavanya memanaskan tubuh kita. Membuat jurang kita menjadi bercahaya. Panas membara. Bukan jurang yang dasarnya dingin dan menyelimuti sampai sekarat.

Kau memerdekakan aku dengan cinta yang aku buat. Bukan menjadikan aku ada tapi terasa tak bermakna. Kau hidupkan kembali bagaimana indahnya mencintai dan dicintai. Aku merasakan bahagia tak terdera dan cinta yang merdeka. Kau bebaskan aku pada satu kebebasan cinta mutlak. Senyummu yang seakan meyakinkan aku kembali akan cinta. Senyum yang semakin menarikku untuk masuk lebih dalam merasakan hangatnya hingga aku tenggelam dalam gelap yang indah.

Waktu, dan lagi-lagi engkau yang berpihak atas segalanya. Aku ingin tetap berada di waktu ini, dan apabila memang kau harus tetap maju antar aku ke dimensi waktumu yang lain tapi aku tetap seperti ini, berada seperti ini dengannya. Aku sangat mencintainya. Tolong berpihaklah pada kami. Kalau bisa kau buat aku beku namun sekelilingku tetap berputar. Untuk saat ini aku rela beku jika memang ini semua menurutmu tidak akan sama pada detik waktu yang lain.

Minggu, 11 Januari 2015

Jurang dan Mencinta

Pada saat ini izinkan aku mempertanyakan beberapa hal yang sebenarnya sudah pernah aku tanyakan beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang muncul dari sepotong lirik lagu yang mengusikku untuk membicarakannya pada halaman pribadiku ini.

How can I love when I am afraid to fall? ( Christina Perri – Thousand Years) 

Terjemahan harfiahnya kira-kira: Bagaimana aku bisa jatuh cinta di saat aku takut terjatuh? Bagaimana mencari jawabannya, sulit bukan? Jatuh cinta seperti kata seorang penulis kawakan yang saya idolakan, Dee Lestari adalah seperti menggali jurang kita sendiri. Jurang dingin yang dibangun dengan tangan kita sendiri. Jurang yang sangat dingin dasarnya, yang dapat membuat kau sekarat atau bahkan sampai mati. Lupa akan dunia yang sebegitu maha luasnya ini menjadi sendu karena satu cinta yang telah membunuh warna dalam hidupmu. Dan kau diibaratkan berdiri di tepinya, menunggu untuk limbung atau merdeka. Kedua pilihan itu ada esa ditangan orang yang kau cinta. Hanya dengan tangannyalah yang mampu menentukan apakah kau harus merasakan dinginnya dasar jurang itu atau malah merdeka dengan kobaran api asmara yang kalian berdua hasilkan. Tapi tenang itu bukan hasil akhirnya. Hasil akhirnya kembali lagi pada tangan si pembuat jurang itu, mau bangkit melawan dinginnya dasar jurang itu atau memeluk dingin itu hingga kelu atau hingga kau mati.

Jatuh cinta juga bisa diibaratkan seperti meruntuhkan dinding benteng yang kita buat selama ini. Seperti keadaanku sekarang, benteng yang aku telah bangun bertahun-tahun ini untuk membekukan diri dari cinta runtuh begitu saja oleh rayuan manis seseorang. Menjadikanku takut untuk mendekam merasakan dingin dan warna di mataku seketika hilang dan yang tinggal hanya abu-abu. Aku takut itu. Memberi satu-satunya hati yang sudah tak kuketahui lagi bentuknya di dunia nyata ini pada seseorang yang berjanji sudi menjaganya, tapi waktu bisa saja tidak demikian. Aku sudah nyaman dengan benteng yang aku bangun selama ini, menjadikan aku kesatria yang kuat dibalut baju besi namun lunak di dalamnya seperti daging kepiting. Saking kuatnya aku bisa membunuh siapapun yang akan berada di sisiku. Namun jika aku lemah, cinta bisa membunuhku seperti tikus got yang kepergok mencuri makanan di dapur dengan sentuhan hangat racunnya yang mematikanku perlahan. Kadang aku berfikir apakah aku harus jadi kesatria yang kuat atau lemah. Aku tidak bisa menjadi di antaranya.

I wonder if I ever cross your mind? For me it happens all the time. (Lady Antebellum – Need You Now) 

Pertanyaan kedua ini kira-kira terjemahan harfiahnya seperti ini: Aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di pikiranmu? Untukku itu terjadi setiap saat. Ketika jatuh cinta, aku selalu mempertanyakan hal ini. terlalu posesif kadang ketika aku memikirkan hal ini. Ini kecil tapi menusuk, seperti duri ikan yang tak sengaja tertelan dan mengganjal di tenggorokan. Sakit bukan rasanya? Untuk beberapa orang menanyakan hal ini sama saja seperti bunuh diri dan memenangkan orang yang kau sayang untuk merdeka di atas matimu. Tanyakan saja kembali pada diri kita sendiri apakah kita cukup berharga untuk diingat seseorang, terlebih orang itu adalah orang yang kita sayangi. Untukku memang ketika jatuh cinta otakku seperti disetel ulang untuk hanya memikirkan satu orang, engkau. Pikiran yang dapat membuatku terbuai dalam lamunan tak berujung. Membuatku mati dalam waktu dan beku untuk merasakan sekitarku yang tetap bergerak. Bagaimana mengatur ini supaya tetap berjalan dengan kehidupanku biasanya. Apa memang sudah takdirku untuk mencintai dengan sepenuh hati walau hatiku bentuknya pun mungkin sudah tak utuh lagi karena sudah di hancurkan sedikit demi sedikit oleh pengkhianatan.

Jika memang cinta yang menghidupkan itu masih ada dan jika ada cinta yang mampu mengajarkan aku bernafas sekaligus mencinta dengan baik, aku selalu meminta pada Tuhanku untuk mendekatkannya pada wajahku. Ajarkan aku untuk hidup untuk cinta bukan cinta untuk hidup. Dekatkan aku pada cinta yang digadang-gadang oleh semua pujangga memang indah adanya. Bukan indah seperti topeng yang menutup luka atau derita. Cinta di atas segalanya.

Sabtu, 10 Januari 2015

Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya

Pada detik jarum jam yang menggelendotiku pada tempat yang gersang ini aku mengamati satu hal. Satu hal yang entah ini salahku, salahmu, salah kita, salah kalian, salah mereka, atau salah kami. Suatu fenomena yang membuat saya sangat terusik. Membuat saya gerah untuk mengutarakannya pasa seluruh jagat raya. Entah duniaku yang berbeda atau saya yang aneh. Pada tulisan ini saya tidak akan menceritakan fenomena itu dan menghakimi ini salah siapa. Aku hanya ingin memberitahu satu hal:
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya adalah pengamat. Pengamat yang mempunyai tujuan, entah itu baik atau buruk. Pengamat untuk satu sama lain, saling berefleksi satu sama lain. Aku akan melihat dirimu dalam diriku, diri kita dalam diri mereka, diri kalian dalam diri kami. Pengamat yang mempunyai cara masing-masing dalam mengamati suatu hal atau apapun di dunia ini. Tujuan akhirnya hanya dua: Membenci dan menerima. Jika kamu, kita, kalian, mereka, kami sudah mengambil peran untuk membenci, berarti tugasku hanya menerima. Sederhana bukan? Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima saya. Silahkan saja membenci. Setiap saya membuka mata pada saat bangun tidur bukan untuk menekan siapapun untuk menerima saya. Saya hanya hidup pada satu titian jalan yang menurut saya benar. Entah saya hidup di satu dunia yang kecil sempit, sedangkan kalian hidup di dunia yang indah dan megah atau justru kebalikannya. Yang saya tahu hanya satu, saya bebas menari-nari dan berjingkrakan di dalamnya. Ini adalah taman bermain saya, bukan neraka yang kalian bangun sendiri. Taman yang dibangun dengan ledakan kembang api yang berwarna-warni, bukan dengan tembok tua yang lusuh. Silahkan ambil peran dan rasakan dunia ini, terserah mau memberi arti atau membenci.

SEMUA ADALAH PENGAMAT. PENGAMAT UNTUK SATU SAMA LAIN, PUNYA CARANYA MASING-MASING, TUJUANNYA BAIK ATAU BURUK YANG PADA AKHIRNYA HANYA ADA MEMBENCI DAN MENERIMA TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN MASING-MASING. (STYPRUTANTO)

Minggu, 28 Desember 2014

Bahasa Alam

Aku mendengar bahasa alam dimana-mana. Aku tahu alam berbahasa dengan indahnya. Satu-satunya bahasa titah tangan Tuhan yang paling indah dan merdu dibandingkan dengan bahasa belahan dunia manapun. Hanya ada satu cara menerjermahkan dan memahami bahasa itu, hanya perlu percaya dan menerima.

Pada saat ini telah banyak aku rasakan bahasa alam itu, bahasa yang mengisyaratkan bahwa tempatku bukan di sini. Di sini hanya menjadikanku makhluk dungu yang hanya bisa diam ketika ditusuk hidungnya dan dicambuk pantatnya. Menjalani hidup tetapi seperti mati. Di sini tidak menjadikanku merdeka, berdaya, apalagi bermakna. Aku ingin bernafas, ingin hidup dengan lincah sebisa apapun yang aku mau. Tempat ini memang indah hanya saja kurang tepat untuk aku. Bukan aku yang selama ini aku kenal jika sudah masuk tempat ini. Aku hanya bisa menjerit lewat kertas dan pensil. Tak mampu aku teriakan semua yang aku rasa lewat bahasa. Aku tidak nyaman.

Entah apa yang aku cari, ku tunggu, dan aku harap di sini. Bahasa alam ini seakan memerintahkan aku untuk beranjak dari tempat ini. Mencari sarang lain yang lebih indah, lebih membuatmu menjadi merdeka. Namun hal yang aku tahu mencari tempat lain itu tidak mudah. Aku harus kembali melewati rentetan jalan panjang dan melelahkan, dibutuhkan beberapa tetes keringat dan beberapa untaian tenaga untuk mendapatkannya, belum lagi harus dibumbui rasa kecewa jika tempat tersebut direbut oleh sesama pencari suaka. Belum lagi bahasa alam yang lain yang memerintahkan aku untuk tetap di sini demi satu pasang senyum indah yang seakan membiusku untuk lebih mementingkan senyum itu tetap berada di sana dibanding kebahagiaanku sendiri. Senyum dari orang tuaku. Sangat aku akui aku juga tidak akan pernah membunuh senyum itu dengan kotornya tanganku. Tapi satu hal yang harus mereka ketahui dan aku tak mampu mengutarakannya, aku ingin terbang.

Kini aku merasa seperti berada di tepi jurang yang aku buat sendiri. Entah mana yang harus aku pilih, terjun dan merasakan dinginnya dasar jurang itu? Atau tetap berada di tepi ini dengan hawa panasnya yang seakan membakar seluruh rasa dan aku tak mampu kemana-mana. Sehingga perlahan mati dalam kata dan nada, tapi bernafas namun tersengal di ulu hatimu. Kecuali jika aku mampu membuat keputusan besar dengan pikiran matang sehingga aku tidak membunuh sepasang senyum itu dan tidak membunuh jiwaku sendiri. Tuhan, berikan aku jalan itu.

16.12.2014 
Today I feel so tired. I just take a rest. I don’t know what I do, what I feel. Can I fall into your chest? I want to sleep. After that when I open my eyes I hope that all is gone. Gone likes air. I just tired for this situation. Sorry mom and dad, I can’t be strong. I can’t :(
(catatan kecil di buku tulis bersampul tempat yang sebenarnya aku inginkan)

Jumat, 10 Oktober 2014

Surat untuk Neptunus (lagi)

Dear Neptunus,
Hai, apa kabarmu di laut biru di sana? Pasti indah. Hanya ada birunya laut dan tarian-tarian hewan lautmu yang bersanding dengan arus halus dan gelombang laut. Setelah sekian lama aku ingin bercerita sesuatu padamu lewat surat elektronik yang aku simpan di nyawa keduaku ini, nus. Sekitarku sudah tak mampu lagi menampung segala gundah dan perasaan ini. Aku sadar mereka juga masih punya masalah mereka masing-masing. Tak ingin aku bebankan mereka dengan cerita cengengku ini. Aku harap kau mau membacanya.

Sebenarnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari bagian mana. Ceritanya hanya tentang keadaanku saat ini. Sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal padamu, nus. Pernahkah kau merasa jadi satu tumpuan untuk seseorang atau sesuatu? Tetapi kau belum mampu untuk melakukan itu. Untuk pertanyaan itu aku yakin kau pernah. Rakyatmu di laut sana perlu kekuatanmu untuk mengatur laut agar tetap biru, mengatur semuanya agar gelombang tetap indah dan tidak merusak, mengatur tarian-tarian berjuta rakyatmu di laut sana. Aku belum bisa, nus. Aku belum bisa menjadi tumpuan kedua orang tuaku. Mereka sudah tua. Aku satu-satunya harapan mereka. Entah ini masalah finansial, spiritual, atau hal lainnya. Berikan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati ini. Tuhan kadang seakan tak menjawab apa yang aku pinta. Aku selalu bercerita juga padanya pada sepertiga malam yang terakhir. Aku hanya ingin satu. Satu yang menjadikanku berguna. Ilmuku bermanfaat, membuatku bermanfaat juga untuk orang lain, terutama kedua orang tuaku. Aku tidak pernah mengharap tahta apalagi mahkota. Apa itu sulit?

Aku kini merasa seperti ada pada fase harapan kedua. Setelah harapan pertama sudah terkikis oleh gelombang semangat yang menggebu di awal. Namun belum aku lihat pencerahan dalam harapan kedua ini. Aku mencoba bangkit kembali pada fase ini, mengumpulkan pundi-pundi semangatku untuk melawan segala asap jalanan dan teriknya mentari untuk menjadi bermanfaat. Tak kudapatkan hasil di ujung perjalanan itu. Kadang aku ingin menangis, nus. Tapi aku tak tahu menangisi apa. Aku juga ingin menyalahkan siapa, akupun tak tahu. Aku bukan Tuhan, bukan tugasku juga untuk menentukan siapa yang salah dan benar. Seperti harapanku pada semua kotak-kotak hidupku. Aku hanya butuh jawaban. Untuk keduanya bertemu memang yang dibutuhkan hanya waktu.

Kini aku lelah, nus. Aku ingin sendiri di dalam kamarku. Aku kunci diriku untuk semuanya. Aku hanya ingin tertidur pulas. Kemudian ketika aku bangun nanti aku sudah lupa akan semua ini, berharap kekuatanmu sudah kau bagi padaku. Setelah aku lalui banyak jalan, harapan, bahkan hampir terkena pengkhianatan. Entah harus pada siapa lagi aku harus menggantungkan harapan ini. Bisakah aku hidup hanya dengan harapan? Memang yang aku punya hanya harapan, nus. Aku masih percaya kalau semua ada masanya. Mungkin ini hanya fase terberat untuk sampai pada masa itu. Sama seperti hukummu di laut, setelah ada badai pasti ada gelombang tenang dan birunya laut akan kembali indah. Di darat, setelah hujan deras akan ada pelangi, dan aku selalu percaya itu.

Salam hangat,
Agen Neptunus.

"Saya ingin bisa berhenti. Entah itu jawaban atau kesimpulan, tapi saya menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari." -Zarah, PARTIKEL (Dewi Lestari).

Rabu, 24 September 2014

Depok, 23 September 2014, Malaikat Tanpa Sayap

Pernah melihat malaikat tanpa sayap yang menempel di punggungnya? Saya punya beberapa penawaran untuk membuktikan kalau malaikat tanpa sayap itu ada. Bukti ini nyata, tanpa rekayasa. Saya alami sendiri, saya rasakan sendiri uluran tangannya untuk jiwa saya.
1. Angky Ridayana
Perempuan ini berasal dari bagian tengah pulau Jawa. Jauh-jauh datang ke Depok untuk mengisi cawan kosong ilmunya di Universitas yang dengan bangga membawa nama negara kita tercinta ini, Indonesia. Datang dengan seribu harapan dan asa untuk masa depan yang lebih indah dari hari ini atau kemarin. Aksen ngapak yang selalu ia gunakan untuk memberi kami tawa, membuat kami terhibur. Punya mimpi yang tinggi, memacu juga saya untuk berani bermimpi.
2. Amalia Husna
Perempuan ini lahir di Jakarta. Menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Alim, tetapi berfikiran terbuka. Bisa dikatakan kloningan saya. Beberapa sifatnya ada pada saya, mungkin karena alasan golongan darah kami yang sama, AB. Sosok perempuan islami masa kini, dengan pikiran global yang menjadikannya terlihat pintar dan tidak kolot seperti perempuan islami yang hanya mengharap imam datang untuk hidupnya, kemudian hidupnya aman. Tawanya yang selalu menenangkan kami kalau bahagia itu masih ada dan masih akan bisa kita rasakan esok dan seterusnya.
3. Berlindha Wimbardhani
Perempuan ini yang saya tahu tinggalnya di Tangerang, berasal dari keluarga Jawa, tepatnya Yogyakarta. Ditinggal sang ibu untuk ke surga, hanya mempunyai ayah. Lewatnya, ia meneruskan mimpi saya untuk menulis skripsi. Bangga bercampur bahagia melihat senyumnya yang sumringah ketika ia telah berhasil menyelesaikan skripsinya dan bisa bersanding dengan kami untuk Wisuda UI di Balairung. Perempuan ini memberikan arah untuk saya bisa kuat dalam menjalani hidup, mengejar cita, membuktikan pada dunia kalau kita bisa menaklukannya. Lewatnya pula yang mengajarkan saya bersyukur untuk saya selalu bersyukur masih mempunyai ibu.
4. Novia Rakha
Perempuan ini terlihat seperti orang asli Jakarta. Kebalikan Berlindha Wimbardani, ditinggal sang ayah untuk ke surga, hanya mempunyai ibu. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bersyukur masih memiliki ayah. Sifatnya yang ceplas-ceplos, terbuka, periang menjadikannya saya cinta pada perempuan yang satu ini. Dia tidak suka basa-basi, semuanya ia bicarakan pada orang yang bersangkutan. Sifat ini yang membuat saya merasa aman berteman dengannya. Saya tahu salah saya dan bisa memperbaikinya. Jarang ditemui tipe ini pada masa kini. Periang, bahkan sayapun tak pernah melihat sedikitpun gundah dan duka di air mukanya. Walaupun saya tahu ada gemuruh di hatinya, ia tutup itu semua dengan senyumnya, semangatnya, tawanya. Saya dibuatnya terpukau dengan cerianya sekaligus mengajarkan saya bagaimana bahagia walau kenyataannya tak sama.
5. Retno Herny Rahayu
Perempuan ini berasal dari keluarga Jawa. Sifatnya agak sedikit moody. Suka dengan olahraga, lebih baik disuruh melakukan olahraga ekstrim dibanding masuk ke rumah hantu. Sangat penakut, tidak suka dibentak. Perempuan ini juga mengajarkan saya untuk bermimpi, berani bermimpi setinggi yang kita mau. Sangat cinta dengan negara-negara Eropa, khususnya Jerman dan Spanyol. Kalau itu bukan sebuah negara saya yakin dia sudah menaklukkannya dari kemarin. Pekerja keras, apapun pernah ia lakukan dalam linimasa pengalaman kerjanya. Tipikal orang yang memohon kalau waktu satu hari kalau bisa lebih dari 24 jam.
6. Usha Widya Rochmatika
Perempuan ini hampir sama seperti Angky Ridayana. Dia berasal dari Solo, jauh-jauh merantau ke Depok juga untuk menuntut ilmu. Sangat suka olahraga seperti Retno Herny Rahayu. Pembawaannya yang santai mengajarkan saya untuk selalu santai dalam menjalani hidup, jangan tergesa tetapi pasti. Lucky bastard nomor satu di jagat raya, keberuntungannya tidak diragukan lagi. Tempat saya berbagi cerita. Perempuan ini minim akan ekspresi. Sangat sederhana.

Itulah beberapa penawaran saya mengenai malaikat tanpa sayap yang saya tahu. Satu hal yang sama ada pada mereka semua adalah mereka mampu menerima saya apa adanya sebagai teman. Mereka tidak pernah menghakimi saya, menilai saya sebagai produk yang salah. Memberikan hadiah kecil yang sangat berarti ketika saya berulang tahun kemarin pada tanggal 23 September. Seperti keluarga kedua saya, di saat keluarga inti saya hanya memberikan ucapan selamat tanpa bingkisan apalagi lilin untuk ditiup dan memanjatkan doa.



Terima kasih untuk segalanya, selama ini. Barisan kata ini sebenarnya tidak cukup untuk mengungkapkan betapa sempurnanya kalian menjadi salah satu teman terdekat saya. Barisan kata ini juga tidak akan cukup menggambarkan apalagi menuliskan betapa banyak terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan untuk saya. Kalian adalah keluarga kedua, bukan lagi sahabat. Akan saya tempuh banyak cara, akan saya lewati jutaan belokan jalan dengan berbagai medan dan halang rintang, akan saya keluarkan berapa banyak materi yang saya punya hanya untuk kembali pada kalian. Terima kasih telah menjadi teman saya, cinta saya, tawa saya, keringat saya, canda saya, tangis saya, semangat saya, semuanya.

Untukmu, 
Angky Ridayana, Amalia Husna, Berlindha Wimbardani, Novia Rakha, Retno Herny Rahayu, Usha Widya Rochmatika. Love! ♥
" 'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you." (John Legend - All of Me)

Selasa, 12 Agustus 2014

Bagaimana mencintaimu?

Bagaimana aku menunggu kehadiranmu?
Tanyakan saja pada bulan yang menanti fajar atau pada fajar yang menanti malam untuk silih berganti menjaga hari.
Atau tanyakan saja pada bintang di malam hari yang selalu mengharapkan kedatangan sinar matahari untuk dipantulkan dan menjadikannya ada.
Seperti itulah aku menunggumu.

Bagaimana aku mencintaimu kemudian?
Tanyakan saja pada lebah yang menghisap nektar bunga setiap pagi. Nektar yang menjadikannya hidup atau membuahkan sesuatu yang baru, yang disebut madu yang manis.
Atau tanyakan pada bunga matahari yang selalu menghadap arah datangnya sang fajar hanya untuk meyakinkan bahwa sinar tersebut selalu datang untuk menemani hidupnya.
Seperti itulah aku mencintaimu.

Teruntukmu, rupawan yang tak ku ketahui siapa.
(ditulis pada hari Rabu senja, 6 Agustus 2014 setelah menulis perbaikan jurnal)

Selasa, 10 Juni 2014

?

Kata orang atau kitab kita diciptakan berpasang-pasangan. Adam dan Hawa. Kodrat adam jatuh cinta pada hawa dan sebaliknya seperti seharusnya pada semua diktat hukum yang ada di muka bumi ini. Bisa jelaskan pada saya pada sebuah cinta adam dengan adam lainnya? Atau hawa dengan hawa lainnya?

Jelaskan juga pada saya tentang mereka di belahan dunia lain yang menemukan pasangannya, bukan adam dengan hawa. Adam dengan adam, hawa dengan hawa. Apa mereka memang diciptakan untuk berpasangan seperti janji itu? Mereka juga ciptaan-Nya. Cinta itu juga ciptaan-Nya. Saya pun ciptaan-Nya. Bantu saya untuk menjawab semua pertanyaan yang sekilas bergumul dalam pikiran saya ketika melihat adam ciptaannya yang begitu menyilaukan dalam kilatan cahayanya berhadapan dengan wajahku.

Kalau memang jawabannya, iya. Saya juga mau. Saya tidak minta hal yang rumit, seperti cinta berukiran rumit. Saya minta yang sederhana. Seorang adam yang diciptakan untuk saya. Adam yang selalu ada di setiap saya membuka mata untuk menantang mentari. Seorang yang katanya adalah sepenggal tulang rusuk saya, saya mau datang darinya, bukan dari hawa. Saya hanya ingin satu, bukan seribu. Satu yang ada di belahan dunia ini, tak usah menyebrang ke belahan lainnya. Mau berbagi separuh hidupnya denganku. Hidupnya, sehatnya, dan sakitnya yang juga akan menjadi bagian dari saya. Satu yang siap menantang semua yang menghadang dengan kapalnya, saya yang akan jadi awaknya. Melawan semuanya. Adakah satu untuk saya?

Wahai kalian penilai hati dan hakim atas kaumnya sendiri, jika kau nilai ini sebagai pemberontakan dan penyalahan kodrat dari segala rentetan hukum yang ada silahkan tutup saja laman ini. Ini bukan permohonan, bukan pula provokasi ataupun persuasif terhadap kaum yang masih dianggap tabu di belahan dunia ini, tidak seperti di belahan dunia lain. Kaum ini justru dirayakan, dinilai dan dihargai seperti layaknya aku, kau, mereka, dan kalian yang sama-sama manusia. Ini hanya sebuah tulisan ungkapan pikiran yang bergumul pada otak seorang adam yang mencintai adam. Bukan untuk dihujat atau dikasihani tapi butuh dibantu untuk bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tanpa ujung.

Minggu, 08 Juni 2014

Sekarat

Ruangku kini luas, tapi aku merasa tak leluasa. Hatiku sepi, otakku beku. Berbagai kata kini hanya terbelenggu dalam imajiku saja, tak bergairah untuk meronta seperti dulu. Sudah lama tak ku kunjungi rumahku yang satu ini, karena memang aku tak tau harus membawa buah tangan apa jika ingin mampir ke sini. Rumahku ini bukan persinggahan saja, tak mau aku hanya sekadar mampir disini.

Aku sekarat. Kata-kata yang dulu bergemuruh, kini seakan mampet. Tak mau mengalir keluar seperti air. Aku tak bisa bernafas dengan kata-kataku sendiri. Aku tak merasakan nafas selain udara. Ada bagian rongga paru-paruku yang sesak tanpa udara lain yang kusebut kata itu. Aku kini hanya seperti manusia biasa. Manusia yang bisa bernafas, makan, tidur, dan bermimpi. Aku berada dalam dimensi nyaman diriku sendiri. Aku bungkam, tak mampu berteriak lantang. Hanya mengamati dan merasakan tanpa bisa menuliskan. Semua rasa seakan beku di otak dan di ulu hatiku. Rasa yang tak mampu menjadi cair mengalir menjadi kata-kata yang indah sekaligus lezat untuk makanan rumah ini. Bukan aku saja yang sekarat, rumah ini usang tanpa semua perasaan yang meluap menjadi kata-kata itu.

Rumah ini juga sekarat. Aku tak memberinya makan rutin seperti kurun waktu itu. Aku takut tempat ini menjadi ganas, mencari makanan di tempat lain. Rumahku bisa saja berubah menjadi monster karena tak ku beri rasa. Semua rasa yang bisa membuatnya sedikit jinak. Cukup makanannya saja yang penuh dengan rasa. Seakan ingin kututup saja rumah ini dengan kain putih. Aku bingung bagaimana cara berbagi lagi. Izinkan aku untuk menjadi bungkam sebentar saja, biarkan aku hanya memahami rasa yang setiap hari aku rasakan, tanpa harus aku bagikan.

Aku ingin tidur. Melepas semua piranti hati. Menyibak semua nyeri, mencucinya dengan tawa hingga luka dan perih itu akan dimulai dari awal lagi. Sejenak beristirahat dari semua perasaan yang mendera. Ingin menjadi tuna cinta, tuna rasa, dan tuna peka.
Aku ingin tuli. Tak mau aku dengar semua tawa, tangis, canda, dan segala suara baik yang bergermuruh, berbisik, berteriak, atau bahkan terisak. Beristirahat untuk tidak mendengar semua pernyataan, gombalan cinta, pengkhianatan, cibiran, penilaian orang lain.
Aku ingin buta. Aku tak mampu lagi melihat semua sekelilingku penuh dengan sandiwara bahagia, haru, sedih, marah, maupun terluka. Aku sudah muak melihat semuanya, tanpa aku bisa merasakannya. Aku hanya bisa menjadi penonton setianya.
Izinkan aku beristirahat sejenak dari semua hiruk pikuk itu. Menutup aku hanya untuk aku saja. Menghentikan waktu untuk tetap berada di masa ini. sehingga aku tak perlu menggunakan jatah waktuku untuk istirahat ini. Harapanku, ketika aku bangun dari tidur ini ada sesuatu yang bisa aku bagi, ada sesuatu yang bisa aku hirup selain udara. Entah apa itu.

Senin, 14 April 2014

Ruang

Manusia terkadang lupa bahwa setiap orang memiliki ruang pribadi yang sangat sakral untuk dimasuki oleh siapapun, termasuk keluarganya. Ruang dimana orang tersebut bisa menjadi apapun yang sesuai dengan kehendak hatinya. Ruang yang memberikan segala tempat dunia dimana orang tersebut merasa nyaman dari dunia luar dan mahkluk lain. Ruang yang ketika orang tersebut berada di dalamnya tak boleh ada satupun yang mengganggunya. Ruang bagi siapapun pemiliknya mampu berbuat apapun, senyaman mungkin yang mereka inginkan. Ruang yang esa, hanya orang tersebut saja yang menjadi puannya.

Sebagai pasangan, kita seringkali juga egois. Tanpa sadar kita sering ingin memiliki ruang tersebut. Padahal kita sudah mampu memiliki hatinya, raganya, bahkan jalan hidupnya. Itu semua sangat kurang bila kadang kita berfikir bisa memiliki ruang tersebut. Tak sedikit pasangan yang sering mengakhiri hubungannya karena ruang satu ini. Dimana semuanya tidak bisa mengalahkan ego untuk saling memiliki. Berjuang untuk memiliki yang sebenarnya sangat tidak mungkin dan mustahil untuk dimiliki. Jalan peranglah sebagai salah satu jalan untuk mendapatkannya. Seperti perang yang sesungguhnya, perang ini pun seringkali tidak berbuah manis, apalagi tahta. Mungkin yang ada hanya petaka, bencana, dan tangis.

Ruang ini yang sekarang saya coba mengerti keberadaannya. Ruang yang sedang saya perjuangkan untuk saya mengerti isinya, saya cerna keadaannya. Sehingga saya bisa mengertinya, bukan hanya soal puannya saja. Mungkin bisa menjadi satu jalan untuk saya siap menjalankan apa yang namanya sebuah hubungan. Jalan yang membuat saya merasa lega bernafas, bergerak, menari bahkan menjadi raja dalam hubungan saya sendiri nantinya.

Selasa, 25 Februari 2014

Seorang Anak

Malam ini seketika hujan. Deras sekali. Saat aku lihat seorang anak manusia dengan tangannya sendiri dan dengan pilihannya sendiri mengubur dalam-dalam mimpinya. Mimpi yang menurut hati kecilnya adalah sebuah mimpi yang sangat ingin ia wujudkan. Dihiasi dengan gemuruh raja-raja petir di awan yang menambah semarak meriah gemuruh dalam hati anak itu.

Miris aku melihatnya. Sementara anak-anak di sisi lain masih berkeringat sibuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Ia malah asik sibuk dengan menguburnya dalam-dalam. Aku sangat tahu, dari wajah kecilnya ia bukan mengalah pada keadaan. Realita yang memaksanya untuk menelan pilihan pahit itu. Pilihan yang sekaligus menjadi pendewasaan sang anak. Ada kalanya semua tidak harus diperjuangkan, tetapi juga ada yang harus direlakan untuk pergi. Ada kala dimana kita harus mengubur dalam-dalam mimpi hanya untuk berhadapan dengan yang namanya realita. Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah ikhlas. Pelajaran berharga untuk lebih mengerti hidup. Hidup yang bukan hanya ada pesta, namun diramaikan pula oleh bencana.

Seseorang bijak pernah berkata pada anak itu. Jalanmu bukan pada mimpimu ini. Masih ada banyak jalan lain yang belum kau ketahui dan menunggu untuk kau sibak belukarnya. Hidup bukan hanya bagaimana meraih mimpi, namun juga bagaimana melepas mimpi. Deretan kalimat klise yang mengantarkan sang anak pada gerbang penguburan mimpi sang anak malam ini. Ditambah lagi dengan alam yang seakan tak mendukungnya untuk tetap mewujudkan mimpi itu. Alam yang memberinya isyarat untuk ia berhenti sekarang, walau tak dipungkiri bahwa alam juga ikut merintih lewat hujannya menyaksikan drama penguburan ini.

Engkau yang membaca tulisan ini jangan pernah mengikuti jejak anak itu, anak yang dengan jari-jari kecilnya harus rela mengubur dalam-dalam mimpinya melainkan bukan mewujudkannya. Biarkan cukup anak itu saja yang merasakannya sendiri. Entah meradang dalam penyesalan atau malah semakin lega untuk bermimpi yang lain. Hanya waktu yang tahu nanti. Tunggu saja karena waktu tak pernah berdusta.

***
Untuk saat ini, sang anak mengerti apa yang pernah dikatakan oleh seorang bijak sebelum penguburan mimpinya. Apa mimpi sang anak itu? Sebenarnya sederhana saja. Sesederhana senja yang menguningkan bumi pada sore hari. Ia hanya ingin menulis. Menulis dengan berbagai macam patron, nilai, aturan, belenggu dan segala ornamen dan senjata yang menghiasinya. Menulis dengan pertanggungjawaban jiwa dengan penghakiman di akhir kalamnya. Menulis memang mimpi kecil sang anak yang sekarang harus ia kubur dalam-dalam. Mungkin memang bukan di kertas berjeruji itu ia menulis. Sang anak mengerti. Ia masih bisa menulis di sini, di laman elektronik yang tak punya penguasa ilmu. Ia bisa menulis semua yang ingin ia tulis, ia teriakkan, ia caci maki, dan ia hujat. Di sini tak ada penguasa ilmu yang bisa mengikatnya dan mencambuknya seperti pencari kata yang lain. Kata apapun bisa bermakna di sini. Menyerah saja pada alam yang memberinya makan, biar alam yang menghakiminya, bukan penguasa ilmu itu. Biarkan kata-kata ini pula yang menyeruak dan merobek siapa sebenarnya sang anak itu. Membongkar hingga sampai ulu hati, sampai pada perasaan sang anak. Menemukan bahwa sang anak yang aku amati dan aku lihat hingga hari ini adalah seorang yang amat ku kenal. Aku.

Rabu, 12 Februari 2014

Mencari Tanda Tanya

Aku sepi. Sudah berulang kali aku berteriak sepi. Walau ku akui keadaanku sekarang sudah menjadi lebih ringan dengan tidak mengidam-idamkan para penguasa hati. Namun sesuatu mengusikku. Seperti bisikan dan kecamuk yang bergemuruh. Aku memang cinta sepi, tapi barangkali bukan seperti ini. Sepi yang membuatku lega yang aku cinta. Bukan sepi yang mencekam dan seakan membuat diri ini ingin meronta demi mengisi kekosongan itu.

Aku lelah. Aku sudah lelah mencari jawaban akan tanda tanyaku. Tanda tanya yang beranak tanya. Tanya yang tak berhenti pada satu jawaban. Satu jawaban yang malah membawaku pada satu tanda tanya lain, dan tanda tanya lainnya. Tak kutemukan jawaban final untuk tanda tanya itu.

Aku mencari. Mencari cinta di setiap ruang, tempat, segala seluk beluk dan penjuru kota ini. Tak kutemui ia dimanapun, aku hanya menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu namun semu. Bisa aku rasakan, aku cumbu, bahkan aku getarkan sampai seluruh penjuru kamar penjara ini tetapi tak bisa aku peluk, apalagi aku miliki. Bukan ini yang aku cari dan ingin aku temukan jawabannya. Meski aku harus mengakui akupun menikmati kebahagiaan semu ini. Apakah ini yang harus aku nikmati sampai jenuh itu datang? Sampai jenuh itu yang kemudian memaksaku untuk kembali mencari jawaban atas tanda tanya yang beranak tanya.

Aku ingin bukan cinta yang berukiran rumit. Bukan cinta yang beratapkan langit. Aku ingin cinta seperti parit. Sempit namun pasti menuju muara. Laut adalah tujuannya. Masih adakah cinta seperti itu saat ini? Mari dekatkan pada wajahku, biar aku bakar dengan segala gejolak cinta ini. Sebelum terlambat dan jika masih ada.

Rabu, 22 Januari 2014

Kawan

Hai kawan, sepertinya rundungan awan kelabu tak menyurutkan sedikit pun senyum di bibirmu. Hujan rintik yang syahdu pun tak mampu meluluhkan semarak di hatimu. Bahkan jingga itu tetap menyala meski kenyataan memaksanya untuk menjadi padam. Masih aku ingat tawa renyahmu ketika kau menyambutku di daun pintu rumahmu.

Kau memang memberikan pelajaran tentang seorang anak pada orang tua, terutama ayah. Kau balas air tuba dulu itu dengan air susu. Kasih sayang yang tak terhingga untuk ayah tercintamu membelalakkan mata bahwa pada zaman ini malaikat dengan sayap dan tangan suci mungilnya itu masih ada. Kau hadirkan selalu tawa canda untuknya. Menemani setia pada setiap pintanya.

Kawan, kau bukan hanya pelita untuknya. Kau juga menjadi nafas yang ia hirup kini. Bahkan kau juga kakinya. Menjadi yang kuat untuk menopang semua bebannya. Kau ini perempuan, tapi hatimu sekuat baja. Aku saja yang laki-laki tak mampu untuk itu. Aku selalu mengagumi senyum yang kau tarik pada setiap ujung bibirmu yang membuat orang di luar tak menyadari lukamu. Ayahmu harus bangga punya anak sepertimu.

Kawan, teruslah tersenyum. Jadilah yang terkuat untuk ayahmu. Hanya kobaran semangat yang ada dalam ragamu yang mampu membuatnya bertahan, atau bahkan membuatnya lebih baik dari sekarang. Aku yakin itu. Cintamu untuknya yang seakan menguatkan sendi, urat, otot, dan nadi dan berusaha tetap berkerja untuk hidup. Jika kau lelah nanti, ada kami disini teman-temanmu yang akan menjadi kuat untukmu.

Untuk Novia Rakha.