“Jangan berlebihan. Kalau mencintai orang itu sekadarnya, kayak aku sayang sama kamu sesuai porsinya.”
(dikirim melalui aplikasi Whatsapp, dari seorang yang bertahta kini di hatiku)
Sore ini hujan sepertinya sedang menuangkan amarahnya pada bumi. Digempurnya bumi dengan butirannya yang sebesar biji jagung yang cukup perih jika terkena kulit muka. Selepas jam sibuk di kantor, aku sempatkan untuk mampir di warung kopi era abad 21 di salah satu pusat perbelanjaan yang mewabah seperti virus di kota ini. Warung kopi yang menjadi salah satu lambang bonafid kota ini. Tak jauh beda dengan warung kopi abad 19 dulu, hanya saja menu kopinya berasal dari seberang dengan menu camilan pisang goreng dengan berbagai macam variasi. Aku masih memilih tempat duduk favoritku, dekat jendela menyaksikan orang-orang itu menghamburkan uang mereka di balik kaca tempatku berada. Sambil menikmati kopiku, tak kusentuh sedikitpun smartphone tempat kita meneguk rindu itu, menikmati waktu menggerogoti kita, tempat ku menarikan jemariku untuk membalas jutaan pesanmu. Aku rela mengeluarkan uangku hanya untuk menikmati segelas kopiku saja, bukan untuk menikmati jaringan internet tanpa kabel yang sangat memuaskan di warung kopi ini.
Teringat aku pada sebuah kalimat yang kau tulis untukku. Bagaimana caraku untuk mencintaimu sekadarnya? Jika yang aku tahu hanya mencintai dengan setulus hati. Bagaimana aku tahu seberapa banyak porsi yang pantas dalam mencintaimu? Jika yang aku tahu mencintaimu seperti bebas mengambil berbagai macam makanan sampai perut meledak dalam restoran berlabel all you can eat. Jika saja mencintaimu seperti membuat masakan, akan aku tumpahkan semua garam yang aku punya untuk membuatmu menjadi berasa. Takkan cukup kata sekadarnya untuk menyatakan cintaku untukmu saat ini.
Dalam keresahan yang sama, keresahan yang membuatmu ingin teriak atau mungkin menangis. Aku merasakan hal yang sama. Tak kau ucapkan cerita itu dari bibirmu yang ingin aku cumbui setiap detiknya. Aku memang tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan, jangan kira aku tak bisa merasakannya. Jika saja waktu dan ruang ini berpihak pada kita, aku ingin memelukmu erat dan membisikan di telingamu bahwa aku ada di sini untukmu, aku merasakannya. Jika kau ingin membasahi bahuku dengan airmatamu, lakukanlah. Aku milikmu sepenuhnya sekarang. Andai kau tahu itu semua. Semua yang tak mampu aku katakan karena matamu yang menahan ini semua dalam keresahan.
Di balik resahmu, ada aku yang juga memiliki keresahan lain. Aku tak cukup hati untuk menambah resahmu dengan resahku. Aku hanya ingin pelukmu, dekapmu, ciummu mendarat di keningku. Aku hanya ingin membagi resah ini denganmu, lewat dekapan yang seakan mengirimkan resahku menjadi terbagi denganmu. Biarkan dua resah yang melanda kita menjadi bahagia atau menjadi yang lain. Entah apa namanya.
Kuteguk kopiku untuk yang terakhir kali. Aku bergegas pergi dari warung kopi ini. Tak bisa aku merenungkan kalimatmu di tempat ini. Tak kutemukan jawaban atas makna kalimatmu. Ku lanjutkan lagi pencarian makna kalimat itu dalam perjalananku ke rumah. Di atas motor bebekku, masih merenungkan hal yang sama, memikirkan hal sedari tadi aku cari artinya. Ditemani daftar putar lagu dari smartphoneku yang sudah kusiapkan juga di warung kopi tadi. Memikirkan ini menjadi aku kembali berimajinasi. Imajinasi ini seharusnya tak akan dalam fikirku, tak ada korelasinya dengan apa yang ingin aku cari jawabnya. Imaji yang membawaku bagaimana kau pernah berbagi tawa dengannya, cerita yang pernah indah pada masanya. Dekapmu tempat ternyamanku yang mungkin pernah menjadi tempat ternyamannya juga dulu. Tak terasa mataku panas dibuatnya, bukan karena asap debu jalanan kota ini. Sekarang sudah malam, mungkin debu itu sudah terbawa angin yang malam ini memang cukup dingin setelah diguyur hujan. Aku menangis seperti anak kecil dengan membawa sepeda motorku seperti anak kecil pulang bermain yang telah dijahili temannya sewaktu bermain tadi sore.
Sampai aku dirumah, sampai cerita ini tumpah dalam komputer lipatku aku masih belum menemukan jawabnya. Jika ada cara membuat aku mengerti tentang kalimatmu, mari dekatkan pada wajahku.
Pada intinya, aku mencintaimu dengan setulus hati, bukan sekadarnya. Andai saja kau mengerti.
Rabu, 06 Januari 2016
Selasa, 23 Juni 2015
Surat Kecil
Untukmu, SPC Group
Menjadi bagian dalam dirimu sebenarnya adalah mimpi terbesarku saat ini. Ku jadikan sebagai salah satu pencapaian kecil dalam hidup. Sampai saat ini masih belum bisa dijelaskan betapa bersoraknya hati bisa berada di sini. Sebenarnya tak pernah kuketahui apa yang akan ada di hadapanku nanti, apa yang akan aku hasilkan dengan tarian jemariku diatas papan kunci komputer, akan ada bentuk barisan kata-kata yang akan aku coretkan dalam bertumpuk-tumpuk kertas putih itu. Dengan kebulatan tekad dan segala tetes peluh keringat yang mengantarkan aku sampai di sini. Aku ingin belajar mengenalmu lebih jauh.
Aku jatuh cinta pada tempat ini, tempat yang selalu aku pandangi ketika melihat lambang emas cairnya ada di penjuru tepi jalan raya terik ibukota ini. Emas cair yang selalu menyilaukan mata, dibuat terpesona dengan tulisan berjumlah tujuh huruf kecil yang rendah hati dengan latar biru tua sebagai simbol kenyamanan. Dulunya aku hanya bisa melihatnya sambil tersenyum, lalu berkata dalam hati ‘Aku ingin menjadi bagiannya suatu saat nanti’.
Ketika ada saatnya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku ikuti setiap tahapnya dengan segala daya dan upaya. Kunantikan kabarnya dalam setiap tahapnya dengan setia bak menunggu sepucuk surat cinta atau sebaris kabar burung merpati dari seorang kekasih. Mengapa aku bilang seperti kabar dari seorang kekasih? Karena setelah mendapat kabar darinya aku akan tersenyum sendiri dan membayangkan apa yang akan aku dapatkan di kemudian hari nanti. Hariku akan diselimuti oleh awan biru nan cerah yang akan membuat berseri terus menerus walau senja datang mengantar malam siap menggantikan siang.
Hari itu tepat pada tanggal 13 April 2015. Sebuah panggilan di layar telepon genggamku yang menjadi jawab atas segala mimpi. Sebuah panggilan untuk awal jalan yang aku inginkan. Selain terik yang menghiasi hari itu, aku dapatkan jawaban atas mimpi siang terik kelas pinggir jalanku itu. Pada saat yang sama aku ambruk dalam peluk ibuku, tak henti air mata membanjiri kelopak mata. Kedua, kulakukan hal sama pada ayahku. Kuucapkan terima kasih yang sulit sekali aku hitung berapa banyaknya tenaga, keringat, tawa, dan tangis mereka mengantarkan aku sampai pada detik ini. Kuucapkan terima kasih atas segala detil perjuangan mereka untuk bisa menghadiahkan aku pendidikan yang cukup untuk bekalku memenangkan engkau. Segala perjuangan yang dalam seribu malam takkan cukup untuk menjabarkannya pada beberapa bundel kertas. Selanjutnya aku berterima kasih pada semesta, pada Tuhanku atas segala yang telah diberikan saat ini. Menjawab segala apa yang aku minta dalam doaku, dalam doa sepertiga malam yang terakhir.
Teruntukmu SPC Group, terima kasih telah menjadikanku bagian dalam dirimu. Dengan berbagai semarak dan meriahnya hati, aku siap untuk berkarya dalam setiap sendi-sendi kegiatanmu. Aku siap untuk menjadi satuan terkecil untukmu, untuk menjadi penjaja karyamu. Aku ingin menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti. Dengan segala pasi dan dedikasi, izinkan aku berbuat yang terbaik untukmu. Untuk hatiku, orangtuaku, bank ini, dan negeriku. Spirit memakmurkan negeri dengan sikap proaktif dan disiplin!
“Aku bagian terkecil darimu, izinkan aku menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti.”
Dari satuan terkecil darimu.
Setiyo Prutanto
Menjadi bagian dalam dirimu sebenarnya adalah mimpi terbesarku saat ini. Ku jadikan sebagai salah satu pencapaian kecil dalam hidup. Sampai saat ini masih belum bisa dijelaskan betapa bersoraknya hati bisa berada di sini. Sebenarnya tak pernah kuketahui apa yang akan ada di hadapanku nanti, apa yang akan aku hasilkan dengan tarian jemariku diatas papan kunci komputer, akan ada bentuk barisan kata-kata yang akan aku coretkan dalam bertumpuk-tumpuk kertas putih itu. Dengan kebulatan tekad dan segala tetes peluh keringat yang mengantarkan aku sampai di sini. Aku ingin belajar mengenalmu lebih jauh.
Aku jatuh cinta pada tempat ini, tempat yang selalu aku pandangi ketika melihat lambang emas cairnya ada di penjuru tepi jalan raya terik ibukota ini. Emas cair yang selalu menyilaukan mata, dibuat terpesona dengan tulisan berjumlah tujuh huruf kecil yang rendah hati dengan latar biru tua sebagai simbol kenyamanan. Dulunya aku hanya bisa melihatnya sambil tersenyum, lalu berkata dalam hati ‘Aku ingin menjadi bagiannya suatu saat nanti’.
Ketika ada saatnya, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku ikuti setiap tahapnya dengan segala daya dan upaya. Kunantikan kabarnya dalam setiap tahapnya dengan setia bak menunggu sepucuk surat cinta atau sebaris kabar burung merpati dari seorang kekasih. Mengapa aku bilang seperti kabar dari seorang kekasih? Karena setelah mendapat kabar darinya aku akan tersenyum sendiri dan membayangkan apa yang akan aku dapatkan di kemudian hari nanti. Hariku akan diselimuti oleh awan biru nan cerah yang akan membuat berseri terus menerus walau senja datang mengantar malam siap menggantikan siang.
Hari itu tepat pada tanggal 13 April 2015. Sebuah panggilan di layar telepon genggamku yang menjadi jawab atas segala mimpi. Sebuah panggilan untuk awal jalan yang aku inginkan. Selain terik yang menghiasi hari itu, aku dapatkan jawaban atas mimpi siang terik kelas pinggir jalanku itu. Pada saat yang sama aku ambruk dalam peluk ibuku, tak henti air mata membanjiri kelopak mata. Kedua, kulakukan hal sama pada ayahku. Kuucapkan terima kasih yang sulit sekali aku hitung berapa banyaknya tenaga, keringat, tawa, dan tangis mereka mengantarkan aku sampai pada detik ini. Kuucapkan terima kasih atas segala detil perjuangan mereka untuk bisa menghadiahkan aku pendidikan yang cukup untuk bekalku memenangkan engkau. Segala perjuangan yang dalam seribu malam takkan cukup untuk menjabarkannya pada beberapa bundel kertas. Selanjutnya aku berterima kasih pada semesta, pada Tuhanku atas segala yang telah diberikan saat ini. Menjawab segala apa yang aku minta dalam doaku, dalam doa sepertiga malam yang terakhir.
Teruntukmu SPC Group, terima kasih telah menjadikanku bagian dalam dirimu. Dengan berbagai semarak dan meriahnya hati, aku siap untuk berkarya dalam setiap sendi-sendi kegiatanmu. Aku siap untuk menjadi satuan terkecil untukmu, untuk menjadi penjaja karyamu. Aku ingin menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti. Dengan segala pasi dan dedikasi, izinkan aku berbuat yang terbaik untukmu. Untuk hatiku, orangtuaku, bank ini, dan negeriku. Spirit memakmurkan negeri dengan sikap proaktif dan disiplin!
“Aku bagian terkecil darimu, izinkan aku menjadi sesuatu yang berarti dan memberi arti.”
Dari satuan terkecil darimu.
Setiyo Prutanto
Minggu, 08 Februari 2015
Gerbang, Kau, dan Waktu
Pada saat ini kau antar aku pada satu gerbang dimana
segalanya terasa ada. Gerbang dimana segalanya terasa percaya, indah, megah.
Kau genggam tanganku dan kau giring aku dalam jurang yang aku buat sendiri. Kau
antar aku melewati tangga menuju dasar jurang itu. Mengantarkan aku hingga aku
ingin berteriak, menangis, bahkan tertawa hangat. Menjadikanku seketika tak
mengerti apa arti air mata ini. Kau juga yang mengenalkan aku mencintai dengan
megahnya, untuk pertama kalinya aku bisa menumpahkan luapan air mataku di depan
seseorang yang kini esa di hatiku.
Kau kenalkan aku pada cinta yang dulu pernah mati.
Menghidupkan ku kembali bagai kau meniupkan kembali roh dalam tubuhku yang
selama ini tertutup kabut. Kau menghujaniku segala yang pernah hilang dulu.
Rindu yang kini menhujani tubuhku dengan ributnya. Asmara kita yang
meledak-ledak bagai letusan gunung berapi. Lavanya memanaskan tubuh kita.
Membuat jurang kita menjadi bercahaya. Panas membara. Bukan jurang yang
dasarnya dingin dan menyelimuti sampai sekarat.
Kau memerdekakan aku dengan cinta yang aku buat. Bukan
menjadikan aku ada tapi terasa tak bermakna. Kau hidupkan kembali bagaimana
indahnya mencintai dan dicintai. Aku merasakan bahagia tak terdera dan cinta
yang merdeka. Kau bebaskan aku pada satu kebebasan cinta mutlak. Senyummu yang
seakan meyakinkan aku kembali akan cinta. Senyum yang semakin menarikku untuk
masuk lebih dalam merasakan hangatnya hingga aku tenggelam dalam gelap yang
indah.
Waktu, dan lagi-lagi engkau yang berpihak atas segalanya.
Aku ingin tetap berada di waktu ini, dan apabila memang kau harus tetap maju
antar aku ke dimensi waktumu yang lain tapi aku tetap seperti ini, berada
seperti ini dengannya. Aku sangat mencintainya. Tolong berpihaklah pada kami.
Kalau bisa kau buat aku beku namun sekelilingku tetap berputar. Untuk saat ini
aku rela beku jika memang ini semua menurutmu tidak akan sama pada detik waktu
yang lain.
Minggu, 11 Januari 2015
Jurang dan Mencinta
Pada saat ini izinkan aku mempertanyakan beberapa hal yang sebenarnya sudah pernah aku tanyakan beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang muncul dari sepotong lirik lagu yang mengusikku untuk membicarakannya pada halaman pribadiku ini.
How can I love when I am afraid to fall? ( Christina Perri – Thousand Years)
Terjemahan harfiahnya kira-kira: Bagaimana aku bisa jatuh cinta di saat aku takut terjatuh? Bagaimana mencari jawabannya, sulit bukan? Jatuh cinta seperti kata seorang penulis kawakan yang saya idolakan, Dee Lestari adalah seperti menggali jurang kita sendiri. Jurang dingin yang dibangun dengan tangan kita sendiri. Jurang yang sangat dingin dasarnya, yang dapat membuat kau sekarat atau bahkan sampai mati. Lupa akan dunia yang sebegitu maha luasnya ini menjadi sendu karena satu cinta yang telah membunuh warna dalam hidupmu. Dan kau diibaratkan berdiri di tepinya, menunggu untuk limbung atau merdeka. Kedua pilihan itu ada esa ditangan orang yang kau cinta. Hanya dengan tangannyalah yang mampu menentukan apakah kau harus merasakan dinginnya dasar jurang itu atau malah merdeka dengan kobaran api asmara yang kalian berdua hasilkan. Tapi tenang itu bukan hasil akhirnya. Hasil akhirnya kembali lagi pada tangan si pembuat jurang itu, mau bangkit melawan dinginnya dasar jurang itu atau memeluk dingin itu hingga kelu atau hingga kau mati.
Jatuh cinta juga bisa diibaratkan seperti meruntuhkan dinding benteng yang kita buat selama ini. Seperti keadaanku sekarang, benteng yang aku telah bangun bertahun-tahun ini untuk membekukan diri dari cinta runtuh begitu saja oleh rayuan manis seseorang. Menjadikanku takut untuk mendekam merasakan dingin dan warna di mataku seketika hilang dan yang tinggal hanya abu-abu. Aku takut itu. Memberi satu-satunya hati yang sudah tak kuketahui lagi bentuknya di dunia nyata ini pada seseorang yang berjanji sudi menjaganya, tapi waktu bisa saja tidak demikian. Aku sudah nyaman dengan benteng yang aku bangun selama ini, menjadikan aku kesatria yang kuat dibalut baju besi namun lunak di dalamnya seperti daging kepiting. Saking kuatnya aku bisa membunuh siapapun yang akan berada di sisiku. Namun jika aku lemah, cinta bisa membunuhku seperti tikus got yang kepergok mencuri makanan di dapur dengan sentuhan hangat racunnya yang mematikanku perlahan. Kadang aku berfikir apakah aku harus jadi kesatria yang kuat atau lemah. Aku tidak bisa menjadi di antaranya.
I wonder if I ever cross your mind? For me it happens all the time. (Lady Antebellum – Need You Now)
Pertanyaan kedua ini kira-kira terjemahan harfiahnya seperti ini: Aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di pikiranmu? Untukku itu terjadi setiap saat. Ketika jatuh cinta, aku selalu mempertanyakan hal ini. terlalu posesif kadang ketika aku memikirkan hal ini. Ini kecil tapi menusuk, seperti duri ikan yang tak sengaja tertelan dan mengganjal di tenggorokan. Sakit bukan rasanya? Untuk beberapa orang menanyakan hal ini sama saja seperti bunuh diri dan memenangkan orang yang kau sayang untuk merdeka di atas matimu. Tanyakan saja kembali pada diri kita sendiri apakah kita cukup berharga untuk diingat seseorang, terlebih orang itu adalah orang yang kita sayangi. Untukku memang ketika jatuh cinta otakku seperti disetel ulang untuk hanya memikirkan satu orang, engkau. Pikiran yang dapat membuatku terbuai dalam lamunan tak berujung. Membuatku mati dalam waktu dan beku untuk merasakan sekitarku yang tetap bergerak. Bagaimana mengatur ini supaya tetap berjalan dengan kehidupanku biasanya. Apa memang sudah takdirku untuk mencintai dengan sepenuh hati walau hatiku bentuknya pun mungkin sudah tak utuh lagi karena sudah di hancurkan sedikit demi sedikit oleh pengkhianatan.
Jika memang cinta yang menghidupkan itu masih ada dan jika ada cinta yang mampu mengajarkan aku bernafas sekaligus mencinta dengan baik, aku selalu meminta pada Tuhanku untuk mendekatkannya pada wajahku. Ajarkan aku untuk hidup untuk cinta bukan cinta untuk hidup. Dekatkan aku pada cinta yang digadang-gadang oleh semua pujangga memang indah adanya. Bukan indah seperti topeng yang menutup luka atau derita. Cinta di atas segalanya.
How can I love when I am afraid to fall? ( Christina Perri – Thousand Years)
Terjemahan harfiahnya kira-kira: Bagaimana aku bisa jatuh cinta di saat aku takut terjatuh? Bagaimana mencari jawabannya, sulit bukan? Jatuh cinta seperti kata seorang penulis kawakan yang saya idolakan, Dee Lestari adalah seperti menggali jurang kita sendiri. Jurang dingin yang dibangun dengan tangan kita sendiri. Jurang yang sangat dingin dasarnya, yang dapat membuat kau sekarat atau bahkan sampai mati. Lupa akan dunia yang sebegitu maha luasnya ini menjadi sendu karena satu cinta yang telah membunuh warna dalam hidupmu. Dan kau diibaratkan berdiri di tepinya, menunggu untuk limbung atau merdeka. Kedua pilihan itu ada esa ditangan orang yang kau cinta. Hanya dengan tangannyalah yang mampu menentukan apakah kau harus merasakan dinginnya dasar jurang itu atau malah merdeka dengan kobaran api asmara yang kalian berdua hasilkan. Tapi tenang itu bukan hasil akhirnya. Hasil akhirnya kembali lagi pada tangan si pembuat jurang itu, mau bangkit melawan dinginnya dasar jurang itu atau memeluk dingin itu hingga kelu atau hingga kau mati.
Jatuh cinta juga bisa diibaratkan seperti meruntuhkan dinding benteng yang kita buat selama ini. Seperti keadaanku sekarang, benteng yang aku telah bangun bertahun-tahun ini untuk membekukan diri dari cinta runtuh begitu saja oleh rayuan manis seseorang. Menjadikanku takut untuk mendekam merasakan dingin dan warna di mataku seketika hilang dan yang tinggal hanya abu-abu. Aku takut itu. Memberi satu-satunya hati yang sudah tak kuketahui lagi bentuknya di dunia nyata ini pada seseorang yang berjanji sudi menjaganya, tapi waktu bisa saja tidak demikian. Aku sudah nyaman dengan benteng yang aku bangun selama ini, menjadikan aku kesatria yang kuat dibalut baju besi namun lunak di dalamnya seperti daging kepiting. Saking kuatnya aku bisa membunuh siapapun yang akan berada di sisiku. Namun jika aku lemah, cinta bisa membunuhku seperti tikus got yang kepergok mencuri makanan di dapur dengan sentuhan hangat racunnya yang mematikanku perlahan. Kadang aku berfikir apakah aku harus jadi kesatria yang kuat atau lemah. Aku tidak bisa menjadi di antaranya.
I wonder if I ever cross your mind? For me it happens all the time. (Lady Antebellum – Need You Now)
Pertanyaan kedua ini kira-kira terjemahan harfiahnya seperti ini: Aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di pikiranmu? Untukku itu terjadi setiap saat. Ketika jatuh cinta, aku selalu mempertanyakan hal ini. terlalu posesif kadang ketika aku memikirkan hal ini. Ini kecil tapi menusuk, seperti duri ikan yang tak sengaja tertelan dan mengganjal di tenggorokan. Sakit bukan rasanya? Untuk beberapa orang menanyakan hal ini sama saja seperti bunuh diri dan memenangkan orang yang kau sayang untuk merdeka di atas matimu. Tanyakan saja kembali pada diri kita sendiri apakah kita cukup berharga untuk diingat seseorang, terlebih orang itu adalah orang yang kita sayangi. Untukku memang ketika jatuh cinta otakku seperti disetel ulang untuk hanya memikirkan satu orang, engkau. Pikiran yang dapat membuatku terbuai dalam lamunan tak berujung. Membuatku mati dalam waktu dan beku untuk merasakan sekitarku yang tetap bergerak. Bagaimana mengatur ini supaya tetap berjalan dengan kehidupanku biasanya. Apa memang sudah takdirku untuk mencintai dengan sepenuh hati walau hatiku bentuknya pun mungkin sudah tak utuh lagi karena sudah di hancurkan sedikit demi sedikit oleh pengkhianatan.
Jika memang cinta yang menghidupkan itu masih ada dan jika ada cinta yang mampu mengajarkan aku bernafas sekaligus mencinta dengan baik, aku selalu meminta pada Tuhanku untuk mendekatkannya pada wajahku. Ajarkan aku untuk hidup untuk cinta bukan cinta untuk hidup. Dekatkan aku pada cinta yang digadang-gadang oleh semua pujangga memang indah adanya. Bukan indah seperti topeng yang menutup luka atau derita. Cinta di atas segalanya.
Sabtu, 10 Januari 2015
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya
Pada detik jarum jam yang menggelendotiku pada tempat yang gersang ini aku mengamati satu hal. Satu hal yang entah ini salahku, salahmu, salah kita, salah kalian, salah mereka, atau salah kami. Suatu fenomena yang membuat saya sangat terusik. Membuat saya gerah untuk mengutarakannya pasa seluruh jagat raya. Entah duniaku yang berbeda atau saya yang aneh. Pada tulisan ini saya tidak akan menceritakan fenomena itu dan menghakimi ini salah siapa. Aku hanya ingin memberitahu satu hal:
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya adalah pengamat. Pengamat yang mempunyai tujuan, entah itu baik atau buruk. Pengamat untuk satu sama lain, saling berefleksi satu sama lain. Aku akan melihat dirimu dalam diriku, diri kita dalam diri mereka, diri kalian dalam diri kami. Pengamat yang mempunyai cara masing-masing dalam mengamati suatu hal atau apapun di dunia ini. Tujuan akhirnya hanya dua: Membenci dan menerima. Jika kamu, kita, kalian, mereka, kami sudah mengambil peran untuk membenci, berarti tugasku hanya menerima. Sederhana bukan? Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima saya. Silahkan saja membenci. Setiap saya membuka mata pada saat bangun tidur bukan untuk menekan siapapun untuk menerima saya. Saya hanya hidup pada satu titian jalan yang menurut saya benar. Entah saya hidup di satu dunia yang kecil sempit, sedangkan kalian hidup di dunia yang indah dan megah atau justru kebalikannya. Yang saya tahu hanya satu, saya bebas menari-nari dan berjingkrakan di dalamnya. Ini adalah taman bermain saya, bukan neraka yang kalian bangun sendiri. Taman yang dibangun dengan ledakan kembang api yang berwarna-warni, bukan dengan tembok tua yang lusuh. Silahkan ambil peran dan rasakan dunia ini, terserah mau memberi arti atau membenci.
SEMUA ADALAH PENGAMAT. PENGAMAT UNTUK SATU SAMA LAIN, PUNYA CARANYA MASING-MASING, TUJUANNYA BAIK ATAU BURUK YANG PADA AKHIRNYA HANYA ADA MEMBENCI DAN MENERIMA TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN MASING-MASING. (STYPRUTANTO)
Aku, Kamu, Kita, Kalian, Mereka, Kami, Semuanya adalah pengamat. Pengamat yang mempunyai tujuan, entah itu baik atau buruk. Pengamat untuk satu sama lain, saling berefleksi satu sama lain. Aku akan melihat dirimu dalam diriku, diri kita dalam diri mereka, diri kalian dalam diri kami. Pengamat yang mempunyai cara masing-masing dalam mengamati suatu hal atau apapun di dunia ini. Tujuan akhirnya hanya dua: Membenci dan menerima. Jika kamu, kita, kalian, mereka, kami sudah mengambil peran untuk membenci, berarti tugasku hanya menerima. Sederhana bukan? Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima saya. Silahkan saja membenci. Setiap saya membuka mata pada saat bangun tidur bukan untuk menekan siapapun untuk menerima saya. Saya hanya hidup pada satu titian jalan yang menurut saya benar. Entah saya hidup di satu dunia yang kecil sempit, sedangkan kalian hidup di dunia yang indah dan megah atau justru kebalikannya. Yang saya tahu hanya satu, saya bebas menari-nari dan berjingkrakan di dalamnya. Ini adalah taman bermain saya, bukan neraka yang kalian bangun sendiri. Taman yang dibangun dengan ledakan kembang api yang berwarna-warni, bukan dengan tembok tua yang lusuh. Silahkan ambil peran dan rasakan dunia ini, terserah mau memberi arti atau membenci.
SEMUA ADALAH PENGAMAT. PENGAMAT UNTUK SATU SAMA LAIN, PUNYA CARANYA MASING-MASING, TUJUANNYA BAIK ATAU BURUK YANG PADA AKHIRNYA HANYA ADA MEMBENCI DAN MENERIMA TERGANTUNG PADA KEPENTINGAN MASING-MASING. (STYPRUTANTO)
Minggu, 28 Desember 2014
Bahasa Alam
Aku mendengar bahasa alam dimana-mana. Aku tahu alam berbahasa dengan indahnya. Satu-satunya bahasa titah tangan Tuhan yang paling indah dan merdu dibandingkan dengan bahasa belahan dunia manapun. Hanya ada satu cara menerjermahkan dan memahami bahasa itu, hanya perlu percaya dan menerima.
Pada saat ini telah banyak aku rasakan bahasa alam itu, bahasa yang mengisyaratkan bahwa tempatku bukan di sini. Di sini hanya menjadikanku makhluk dungu yang hanya bisa diam ketika ditusuk hidungnya dan dicambuk pantatnya. Menjalani hidup tetapi seperti mati. Di sini tidak menjadikanku merdeka, berdaya, apalagi bermakna. Aku ingin bernafas, ingin hidup dengan lincah sebisa apapun yang aku mau. Tempat ini memang indah hanya saja kurang tepat untuk aku. Bukan aku yang selama ini aku kenal jika sudah masuk tempat ini. Aku hanya bisa menjerit lewat kertas dan pensil. Tak mampu aku teriakan semua yang aku rasa lewat bahasa. Aku tidak nyaman.
Entah apa yang aku cari, ku tunggu, dan aku harap di sini. Bahasa alam ini seakan memerintahkan aku untuk beranjak dari tempat ini. Mencari sarang lain yang lebih indah, lebih membuatmu menjadi merdeka. Namun hal yang aku tahu mencari tempat lain itu tidak mudah. Aku harus kembali melewati rentetan jalan panjang dan melelahkan, dibutuhkan beberapa tetes keringat dan beberapa untaian tenaga untuk mendapatkannya, belum lagi harus dibumbui rasa kecewa jika tempat tersebut direbut oleh sesama pencari suaka. Belum lagi bahasa alam yang lain yang memerintahkan aku untuk tetap di sini demi satu pasang senyum indah yang seakan membiusku untuk lebih mementingkan senyum itu tetap berada di sana dibanding kebahagiaanku sendiri. Senyum dari orang tuaku. Sangat aku akui aku juga tidak akan pernah membunuh senyum itu dengan kotornya tanganku. Tapi satu hal yang harus mereka ketahui dan aku tak mampu mengutarakannya, aku ingin terbang.
Kini aku merasa seperti berada di tepi jurang yang aku buat sendiri. Entah mana yang harus aku pilih, terjun dan merasakan dinginnya dasar jurang itu? Atau tetap berada di tepi ini dengan hawa panasnya yang seakan membakar seluruh rasa dan aku tak mampu kemana-mana. Sehingga perlahan mati dalam kata dan nada, tapi bernafas namun tersengal di ulu hatimu. Kecuali jika aku mampu membuat keputusan besar dengan pikiran matang sehingga aku tidak membunuh sepasang senyum itu dan tidak membunuh jiwaku sendiri. Tuhan, berikan aku jalan itu.
16.12.2014
Today I feel so tired. I just take a rest. I don’t know what I do, what I feel. Can I fall into your chest? I want to sleep. After that when I open my eyes I hope that all is gone. Gone likes air. I just tired for this situation. Sorry mom and dad, I can’t be strong. I can’t :(
(catatan kecil di buku tulis bersampul tempat yang sebenarnya aku inginkan)
Pada saat ini telah banyak aku rasakan bahasa alam itu, bahasa yang mengisyaratkan bahwa tempatku bukan di sini. Di sini hanya menjadikanku makhluk dungu yang hanya bisa diam ketika ditusuk hidungnya dan dicambuk pantatnya. Menjalani hidup tetapi seperti mati. Di sini tidak menjadikanku merdeka, berdaya, apalagi bermakna. Aku ingin bernafas, ingin hidup dengan lincah sebisa apapun yang aku mau. Tempat ini memang indah hanya saja kurang tepat untuk aku. Bukan aku yang selama ini aku kenal jika sudah masuk tempat ini. Aku hanya bisa menjerit lewat kertas dan pensil. Tak mampu aku teriakan semua yang aku rasa lewat bahasa. Aku tidak nyaman.
Entah apa yang aku cari, ku tunggu, dan aku harap di sini. Bahasa alam ini seakan memerintahkan aku untuk beranjak dari tempat ini. Mencari sarang lain yang lebih indah, lebih membuatmu menjadi merdeka. Namun hal yang aku tahu mencari tempat lain itu tidak mudah. Aku harus kembali melewati rentetan jalan panjang dan melelahkan, dibutuhkan beberapa tetes keringat dan beberapa untaian tenaga untuk mendapatkannya, belum lagi harus dibumbui rasa kecewa jika tempat tersebut direbut oleh sesama pencari suaka. Belum lagi bahasa alam yang lain yang memerintahkan aku untuk tetap di sini demi satu pasang senyum indah yang seakan membiusku untuk lebih mementingkan senyum itu tetap berada di sana dibanding kebahagiaanku sendiri. Senyum dari orang tuaku. Sangat aku akui aku juga tidak akan pernah membunuh senyum itu dengan kotornya tanganku. Tapi satu hal yang harus mereka ketahui dan aku tak mampu mengutarakannya, aku ingin terbang.
Kini aku merasa seperti berada di tepi jurang yang aku buat sendiri. Entah mana yang harus aku pilih, terjun dan merasakan dinginnya dasar jurang itu? Atau tetap berada di tepi ini dengan hawa panasnya yang seakan membakar seluruh rasa dan aku tak mampu kemana-mana. Sehingga perlahan mati dalam kata dan nada, tapi bernafas namun tersengal di ulu hatimu. Kecuali jika aku mampu membuat keputusan besar dengan pikiran matang sehingga aku tidak membunuh sepasang senyum itu dan tidak membunuh jiwaku sendiri. Tuhan, berikan aku jalan itu.
16.12.2014
Today I feel so tired. I just take a rest. I don’t know what I do, what I feel. Can I fall into your chest? I want to sleep. After that when I open my eyes I hope that all is gone. Gone likes air. I just tired for this situation. Sorry mom and dad, I can’t be strong. I can’t :(
(catatan kecil di buku tulis bersampul tempat yang sebenarnya aku inginkan)
Jumat, 10 Oktober 2014
Surat untuk Neptunus (lagi)
Dear Neptunus,
Hai, apa kabarmu di laut biru di sana? Pasti indah. Hanya ada birunya laut dan tarian-tarian hewan lautmu yang bersanding dengan arus halus dan gelombang laut. Setelah sekian lama aku ingin bercerita sesuatu padamu lewat surat elektronik yang aku simpan di nyawa keduaku ini, nus. Sekitarku sudah tak mampu lagi menampung segala gundah dan perasaan ini. Aku sadar mereka juga masih punya masalah mereka masing-masing. Tak ingin aku bebankan mereka dengan cerita cengengku ini. Aku harap kau mau membacanya.
Sebenarnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari bagian mana. Ceritanya hanya tentang keadaanku saat ini. Sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal padamu, nus. Pernahkah kau merasa jadi satu tumpuan untuk seseorang atau sesuatu? Tetapi kau belum mampu untuk melakukan itu. Untuk pertanyaan itu aku yakin kau pernah. Rakyatmu di laut sana perlu kekuatanmu untuk mengatur laut agar tetap biru, mengatur semuanya agar gelombang tetap indah dan tidak merusak, mengatur tarian-tarian berjuta rakyatmu di laut sana. Aku belum bisa, nus. Aku belum bisa menjadi tumpuan kedua orang tuaku. Mereka sudah tua. Aku satu-satunya harapan mereka. Entah ini masalah finansial, spiritual, atau hal lainnya. Berikan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati ini. Tuhan kadang seakan tak menjawab apa yang aku pinta. Aku selalu bercerita juga padanya pada sepertiga malam yang terakhir. Aku hanya ingin satu. Satu yang menjadikanku berguna. Ilmuku bermanfaat, membuatku bermanfaat juga untuk orang lain, terutama kedua orang tuaku. Aku tidak pernah mengharap tahta apalagi mahkota. Apa itu sulit?
Aku kini merasa seperti ada pada fase harapan kedua. Setelah harapan pertama sudah terkikis oleh gelombang semangat yang menggebu di awal. Namun belum aku lihat pencerahan dalam harapan kedua ini. Aku mencoba bangkit kembali pada fase ini, mengumpulkan pundi-pundi semangatku untuk melawan segala asap jalanan dan teriknya mentari untuk menjadi bermanfaat. Tak kudapatkan hasil di ujung perjalanan itu. Kadang aku ingin menangis, nus. Tapi aku tak tahu menangisi apa. Aku juga ingin menyalahkan siapa, akupun tak tahu. Aku bukan Tuhan, bukan tugasku juga untuk menentukan siapa yang salah dan benar. Seperti harapanku pada semua kotak-kotak hidupku. Aku hanya butuh jawaban. Untuk keduanya bertemu memang yang dibutuhkan hanya waktu.
Kini aku lelah, nus. Aku ingin sendiri di dalam kamarku. Aku kunci diriku untuk semuanya. Aku hanya ingin tertidur pulas. Kemudian ketika aku bangun nanti aku sudah lupa akan semua ini, berharap kekuatanmu sudah kau bagi padaku. Setelah aku lalui banyak jalan, harapan, bahkan hampir terkena pengkhianatan. Entah harus pada siapa lagi aku harus menggantungkan harapan ini. Bisakah aku hidup hanya dengan harapan? Memang yang aku punya hanya harapan, nus. Aku masih percaya kalau semua ada masanya. Mungkin ini hanya fase terberat untuk sampai pada masa itu. Sama seperti hukummu di laut, setelah ada badai pasti ada gelombang tenang dan birunya laut akan kembali indah. Di darat, setelah hujan deras akan ada pelangi, dan aku selalu percaya itu.
Salam hangat,
Agen Neptunus.
"Saya ingin bisa berhenti. Entah itu jawaban atau kesimpulan, tapi saya menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari." -Zarah, PARTIKEL (Dewi Lestari).
Hai, apa kabarmu di laut biru di sana? Pasti indah. Hanya ada birunya laut dan tarian-tarian hewan lautmu yang bersanding dengan arus halus dan gelombang laut. Setelah sekian lama aku ingin bercerita sesuatu padamu lewat surat elektronik yang aku simpan di nyawa keduaku ini, nus. Sekitarku sudah tak mampu lagi menampung segala gundah dan perasaan ini. Aku sadar mereka juga masih punya masalah mereka masing-masing. Tak ingin aku bebankan mereka dengan cerita cengengku ini. Aku harap kau mau membacanya.
Sebenarnya aku tak tahu harus memulai cerita ini dari bagian mana. Ceritanya hanya tentang keadaanku saat ini. Sebelumnya aku ingin menanyakan satu hal padamu, nus. Pernahkah kau merasa jadi satu tumpuan untuk seseorang atau sesuatu? Tetapi kau belum mampu untuk melakukan itu. Untuk pertanyaan itu aku yakin kau pernah. Rakyatmu di laut sana perlu kekuatanmu untuk mengatur laut agar tetap biru, mengatur semuanya agar gelombang tetap indah dan tidak merusak, mengatur tarian-tarian berjuta rakyatmu di laut sana. Aku belum bisa, nus. Aku belum bisa menjadi tumpuan kedua orang tuaku. Mereka sudah tua. Aku satu-satunya harapan mereka. Entah ini masalah finansial, spiritual, atau hal lainnya. Berikan aku sedikit kekuatanmu untuk melewati ini. Tuhan kadang seakan tak menjawab apa yang aku pinta. Aku selalu bercerita juga padanya pada sepertiga malam yang terakhir. Aku hanya ingin satu. Satu yang menjadikanku berguna. Ilmuku bermanfaat, membuatku bermanfaat juga untuk orang lain, terutama kedua orang tuaku. Aku tidak pernah mengharap tahta apalagi mahkota. Apa itu sulit?
Aku kini merasa seperti ada pada fase harapan kedua. Setelah harapan pertama sudah terkikis oleh gelombang semangat yang menggebu di awal. Namun belum aku lihat pencerahan dalam harapan kedua ini. Aku mencoba bangkit kembali pada fase ini, mengumpulkan pundi-pundi semangatku untuk melawan segala asap jalanan dan teriknya mentari untuk menjadi bermanfaat. Tak kudapatkan hasil di ujung perjalanan itu. Kadang aku ingin menangis, nus. Tapi aku tak tahu menangisi apa. Aku juga ingin menyalahkan siapa, akupun tak tahu. Aku bukan Tuhan, bukan tugasku juga untuk menentukan siapa yang salah dan benar. Seperti harapanku pada semua kotak-kotak hidupku. Aku hanya butuh jawaban. Untuk keduanya bertemu memang yang dibutuhkan hanya waktu.
Kini aku lelah, nus. Aku ingin sendiri di dalam kamarku. Aku kunci diriku untuk semuanya. Aku hanya ingin tertidur pulas. Kemudian ketika aku bangun nanti aku sudah lupa akan semua ini, berharap kekuatanmu sudah kau bagi padaku. Setelah aku lalui banyak jalan, harapan, bahkan hampir terkena pengkhianatan. Entah harus pada siapa lagi aku harus menggantungkan harapan ini. Bisakah aku hidup hanya dengan harapan? Memang yang aku punya hanya harapan, nus. Aku masih percaya kalau semua ada masanya. Mungkin ini hanya fase terberat untuk sampai pada masa itu. Sama seperti hukummu di laut, setelah ada badai pasti ada gelombang tenang dan birunya laut akan kembali indah. Di darat, setelah hujan deras akan ada pelangi, dan aku selalu percaya itu.
Salam hangat,
Agen Neptunus.
"Saya ingin bisa berhenti. Entah itu jawaban atau kesimpulan, tapi saya menanti sesuatu yang bisa membuat saya berhenti berlari. Berhenti mencari." -Zarah, PARTIKEL (Dewi Lestari).
Langganan:
Postingan (Atom)