Kamis, 03 Januari 2013

Markas, dua dimensi

Neptunus,
Aku belum diberi kesempatan untuk bisa mengunjungi markasmu. Masih banyak yang harus kulakukan disini. Masih banyak yang minta untuk ditata dan dirapikan kembali. Seperti hati ini. Aku belum sempat melarungkan tubuhku dalam riakmu. Menatap tengah lautmu yang mungkin akan sedikit membuatnya hangat dengan bulir air mata yang membasahinya. Aku belum punya kesempatan melihat semburat jingga matahari menyapa permukaan lautmu dengan emas yang berkilau. Mengantarkan pagi dan malam yang setia menjaga lautmu. Aku ingin melayarkan perahu kertasku yang nyata di depan gerbang markasmu. Yang hanya aku ingin yakinkan bahwa perahu kertasku akan berlabuh. Sama seperti hati ini, yang ingin berlabuh. Kemanapun itu.

Nus, aku ingin berlabuh. Cerita tentang kesatria itu sudah jadi masa lalu. Munafik untukku yang selalu menunggu kehadirannya kembali. Padahal kenyataannya itu mustahil. Kesatriaku mungkin sudah menemukan hidupnya. Yang bila aku baca dari garis waktunya dia lebih memilih mati dalam kenangannya. Itu jalan hidupnya, Nus. Jalanku beda. Lebih mirip seperti cerita cinta Agen Neptunus yang sudah pensiun karena hatinya sudah berlabuh. Kugy. Ingat nama itu kan Nus? Hanya saja adam yang ada dalam dimensiku sekarang agak sulit aku baca gelagatnya. Sekarang hanya ada dua. Namun, tetap saja aku masih menjadi amphibi.

Aku tidak pernah meremehkan kenangan. Kenangan itu kuat, siapapun bisa kalah karenanya. Sama seperti yang terjadi pada kesatriaku. Malam ini adamku yang satu sedang sakit. Dan kutahu kenangannya yang mampu menjamahnya. Bukan aku. Aku sampai saat ini juga tak mengerti tentang rasa apa ini. Rasa yang sedikit ngilu ketika kutahu kau bahagia bersamanya. Masa lalu yang selalu membuai. Ngilu ini cemburu. Entahlah. Yang aku mengerti hanya rasa tidak nyaman yang kini menghiasi seprei tidurku malam ini. Nus, jaga hatinya. Jaga dirinya. Seperti yang diucapkannya padaku. Di dalam dimensi lainku, tak kalah unik. Kutemukan jenis adam yang lain. Tadinya yang menggebu ingin menjadikanku hal berpengaruh dalam hidupnya. Namun, kini berubah. Hanya angkuh yang kurasakan. Entah dimana salahku. Dingin. Sedingin jari ini menuliskan semuanya disini.

Nus, aku ingin berlabuh. Kemanapun itu. Entah dengan adam yang ini, atau yang itu. Aku ingin tinggal. Sudah lelah berlayar. Jika nanti malam atau saat matahari terbenam maupun terbit kau bertemu Tuhan, tanyakan padanya: Kapan aku bisa berlabuh? Haruskah perahuku karam?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar